Setelah Era Ronaldo dan Investasi Besar, Arab Saudi Mengejar Kebangkitan di Piala Dunia 2026

Kamis, 11 Jun 2026, 07:30 WIB

RIYADH, ARAB SAUDI – Gelontoran dana besar yang mendatangkan sejumlah bintang dunia telah mengubah wajah sepak bola Arab Saudi. Namun, investasi fantastis tersebut belum sepenuhnya berdampak pada tim nasional yang kini datang ke Piala Dunia dengan misi membalikkan tren hasil buruk.

Dalam tiga tahun terakhir, kerajaan kaya minyak itu menghabiskan sekitar 2 miliar dolar AS atau lebih dari 30 triliun rupiah untuk memperkuat sepak bola domestik. Nama-nama besar seperti Cristiano Ronaldo, Neymar, dan Karim Benzema didatangkan dengan kontrak bernilai tinggi demi menjadikan Liga Pro Arab Saudi sebagai salah satu kompetisi terbaik dunia.

Ket. Foto: Timnas Arab Saudi. — Sumber: AFP

Arab Saudi juga berhasil mendapatkan hak tuan rumah Piala Dunia 2034, sebuah langkah besar dalam ambisi negara tersebut untuk memperluas sektor pariwisata dan bisnis sebagai bagian dari diversifikasi ekonomi.

Namun, keberhasilan di luar lapangan belum sepenuhnya sejalan dengan prestasi tim nasional.

Setelah mengejutkan dunia dengan mengalahkan Argentina yang akhirnya menjadi juara Piala Dunia 2022, perjalanan Green Falcons justru mengalami banyak tantangan.

Arab Saudi harus berjuang melalui babak play-off untuk lolos ke Piala Dunia 2026. Mereka memastikan tiket setelah memuncaki grup tiga negara yang berisi Indonesia dan Irak berkat keunggulan selisih gol.

Kekalahan telak 0-4 dari Mesir serta hasil buruk melawan Serbia pada Maret lalu membuat pelatih asal Prancis, Herve Renard, harus mengakhiri periode keduanya menangani tim nasional setelah menggantikan mantan pelatih Italia, Roberto Mancini.

Bintang Dunia Membuka Peluang, tetapi Mengurangi Jam Bermain Pemain Lokal

Pelatih baru asal Yunani, Georgios Donis, yang ditunjuk hanya dua bulan sebelum Piala Dunia, menilai kehadiran pemain top Eropa membawa keuntungan sekaligus masalah.

“Para pemain Arab Saudi belajar banyak dari pemain yang sangat bagus dan berpengalaman, terutama dari Eropa. Itu hal yang sangat positif,” ujar Donis kepada AFP.

“Namun di sisi lain, pemain Arab Saudi tidak mendapatkan kesempatan bermain sebanyak sebelumnya.”

Menurut Donis, menit bermain sangat penting untuk perkembangan pemain.

“Kami membutuhkan pemain tampil lebih sering, memiliki ritme dan tempo pertandingan yang lebih baik. Itu sangat penting dalam sepak bola.”

Arab Saudi tergabung dalam Grup H bersama Spanyol, Uruguay, dan Cape Verde. Meski menghadapi lawan berat, Donis belum menyerah.

Format baru Piala Dunia 2026 memberi peluang lebih besar karena delapan tim peringkat ketiga terbaik dari 12 grup juga akan lolos ke fase gugur.

“Pemain Arab Saudi memiliki bakat besar. Mereka harus terus bekerja, tidak menyerah, dan menunjukkan kepada pelatih bahwa mereka layak mendapat kesempatan,” kata Donis.

“Memang tidak mudah, tetapi kami bisa melakukan yang terbaik.”

Arab Saudi secara tradisional merupakan salah satu kekuatan sepak bola Asia. Mereka telah memenangkan tiga gelar Piala Asia dan akan tampil untuk ketujuh kalinya di Piala Dunia.

Liga yang Berubah, Timnas yang Terpengaruh

Analis sepak bola Timur Tengah, Amro Elserty, mengatakan kekuatan Arab Saudi selama ini dibangun dari pemain lokal yang berkembang melalui kompetisi domestik.

“Dulu keberhasilan mereka berasal dari pemain yang ditempa di liga Arab Saudi, salah satu kompetisi paling kompetitif di Asia,” ujarnya.

Namun, perubahan besar terjadi setelah klub-klub Arab Saudi mulai menggantikan banyak posisi pemain lokal dengan pemain asing.

“Bukan hanya bintang kelas dunia, tetapi juga pemain senior dan profesional asing yang mengambil peran yang sebelumnya menjadi ruang berkembang pemain Arab Saudi.”

“Akibatnya, pemain tim nasional Arab Saudi kehilangan kesempatan bermain secara reguler.”

Masalah itu semakin terlihat karena hanya satu pemain dalam skuad Arab Saudi yang bermain di luar negeri, yaitu bek sayap Lens, Saud Abdulhamid.

Profesor olahraga Eurasia dari Emlyon Business School Shanghai, Simon Chadwick, menilai tekanan besar berada di pundak Arab Saudi untuk menunjukkan kemajuan setelah kegagalan di Piala Dunia 2022.

Saat itu, kemenangan sensasional atas Argentina tidak cukup membawa mereka lolos karena kekalahan dari Polandia dan Meksiko.

“Turnamen tahun ini tetap menjadi titik pemeriksaan dalam perjalanan menuju Piala Dunia 2034,” kata Chadwick.

“Pertanyaannya adalah, apakah target sudah ditetapkan dan bagaimana perkembangan menuju target tersebut akan diukur?”

Bagi Arab Saudi, Piala Dunia 2026 bukan sekadar kompetisi, tetapi juga ujian apakah investasi miliaran dolar benar-benar mampu mengubah sepak bola nasional mereka.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.