Mewujudkan Literasi Sebagai Jalan Kesejahteraan
Rabu, 10 Jun 2026, 23:25 WIBBangka Barat, Babel - Perpustakaan Daerah kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melakukan berbagai inovasi sebagai salah satu upaya mewujudkan literasi sebagai jalan menuju kesejahteraan masyarakat.
"Selama ini sebagian besar masyarakat memiliki pola pikir perpustakaan sebatas menyediakan buku, namun dengan adanya Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, kita ingin mengubah paradigma itu dengan memberikan berbagai kegiatan yang bis memberikan dampak langsung pada kehidupan masyarakat," kata Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bangka Barat Farouk Yohansyah di Mentok, Rabu.
Ia menjelaskan di tengah tantangan sosial dan ekonomi yang dialami masyarakat hari ini harus mampu dihadapi dengan bijaksana, salah satunya dengan meningkatkan wawasan dan ilmu pengetahuan yang memadahi.
"Selama ini literasi tidak lagi cukup dimaknai sebatas kemampuan membaca dan menulis, padahal literasi harus dipahami secara luas dan menyeluruh agar mampu menjawab kebutuhan hidup masa kini dan masa depan," ujarnya.
Untuk menjawab kebutuhan ini, Perpustakaan Daerah telah menyiapkan program Lingkaran Literasi Inklusi Sosial untuk Kesejahteraan (Lilis Sejahtera), sebagai upaya mengajak dan mengarahkan masyarakat meningkatkan wawasan untuk mengatasi berbagai permasalahan hidup dengan menguasai literasi.
Program Lilis Sejahtera muncul sebagai solusi karena tingkat literasi masyarakat masih rendah dan berbanding lurus dengan keterbatasan akses informasi, partisipasi sosial rendah dan lemahnya kemandirian ekonomi.
"Dalam hal ini, kita berupaya agar literasi mampu menjawab bukan sekadar persoalan pendidikan namun juga mampu menjadi solusi mengatasi persoalan kesejahteraan," ujarnya.
Berbagai pola yang dikembangkan Perpustakaan Daerah Bangka Barat pada Program Lilis Sejahtera, antara lain menghidupkan aktivitas perpustakaan.
"Dalam hal ini kita menghadirkan perpustakaan tidak lagi sekadar tempat membaca, tetapi menjadi ruang belajar yang hidup," katanya.
Masyarakat datang bukan hanya untuk meminjam buku, tetapi juga untuk belajar membuat produk usaha, mengikuti pelatihan komputer, bahkan Perpusda Bangka Barat ikut membantu warga mengembangkan keterampilan praktis dengan mengandalkan berbagai informasi yang bersumber dai buku koleksi yang ada.
Kehadiran Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di lingkungan perpustakaan juga membuka peluang bagi warga yang belum mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan formal.
"Keberadaan PKBM di Perpusda dan perpustakaan desa yang tahun ini kita realisasikan di 20 desa ini kita wujudkan literasi benar-benar menjadi jembatan perubahan dan benar-benar memberi manfaat untuk kemajuan pendidikan di daerah," katanya.
Menurut dia, ketika literasi dikelola secara inklusif dan diarahkan pada pemberdayaan, maka hasilnya bukan hanya masyarakat menjadi lebih cerdas, tetapi juga akan memberikan dampak pada kemandirian dan kesejahteraan.
"Beberapa kegiatan yang kita laksanakan melalui Program Lilis Sejahtera ini merupakan langkah sederhana yang kita jalankan, namun kami yakin melalui pemahaman literasi menyeluruh akan berdampak pada peningkatan kecerdasan masyarakat dan perubahan ini akan memberikan dampak nyata pada kesejahteraan masyarakat," katanya.
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Damkar Kabupaten Bogor Padamkan Kebakaran Kios Plastik dan Warung Kelontong di Ciseeng
-
Popi Ayer: Tanpa Perlindungan, Nelayan Kecil Papua Terancam Kapal Besar
-
IHSG Hari Ini Menguat! Damai AS-Iran Jadi Bahan Bakar Reli Pasar
-
Kemampuan Literasi Bukan Sekadar Bisa Membaca
-
Kunjungi Museum Imam Bonjol, Wagub Rano Bidik Kerja Sama Wisata Edukasi Jakarta–Pasaman
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.