Devisa Terkuras untuk Stabilkan Rupiah

Selasa, 09 Jun 2026, 01:00 WIB

Jakarta – Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2026 tercatat sebesar 144,9 miliar dollar AS, turun 1,3 miliar dollar AS dibandingkan April 2026 yang mencapai 146,2 miliar dollar AS. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi nilai tukar rupiah yang dilakukan Bank Indonesia (BI).

Meski menurun, BI menilai cadangan devisa masih berada pada level yang aman. Cadangan devisa saat ini setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar internasional sekitar tiga bulan impor.

Ket. Foto: Bank Indonesia (BI) — Sumber: istimewa

"Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, Senin (8/6).

BI juga optimistis ketahanan eksternal Indonesia tetap terjaga berkat cadangan devisa yang memadai dan potensi aliran masuk modal asing.

"Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan Pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," ujarnya.

Namun, tren cadangan devisa menunjukkan penurunan sejak akhir 2025. Dalam lima bulan terakhir, cadangan devisa menyusut sekitar 11,6 miliar dollar AS atau 7,4 persen dari posisi 156,5 miliar dollar AS pada Desember 2025. Pada periode yang sama, rupiah melemah sekitar 7,7 persen dari 16.748 rupiah per dollar AS menjadi 18.039 rupiah per dollar AS.

Pengamat Kebijakan Publik Fitra, Badiul Hadi, menilai pelemahan rupiah yang menembus level 18.000 rupiah per dollar AS menunjukkan bahwa tekanan terhadap ekonomi tidak lagi bersifat sementara.

"Rapuhnya rupiah menembus 18.000 per dollar AS menunjukkan bahwa intervensi BI belum mampu menjawab akar persoalan yang dihadapi perekonomian nasional," kata Badiul.

Menurutnya, cadangan devisa dan instrumen moneter tidak dapat terus-menerus menjadi andalan untuk mempertahankan nilai tukar apabila fundamental ekonomi belum diperkuat.

"Saat ini, cadangan devisa dan instrumen moneter tidak bisa terus-menerus dijadikan tameng mempertahankan nilai tukar. Kalau rupiah terus tertekan meski intervensi diperbesar, publik berhak mempertanyakan efektivitas koordinasi kebijakan fiskal dan moneter," tegasnya.

Badiul menilai pelaku pasar juga mencermati kredibilitas fiskal, iklim investasi, kepastian hukum, serta risiko pembiayaan program pemerintah. Karena itu, ia mendorong pemerintah dan BI memperkuat tata kelola ekonomi dan disiplin fiskal.

"Prioritasnya adalah memperkuat kredibilitas fiskal melalui efisiensi belanja negara, menunda program-program berisiko tinggi yang membebani APBN, meningkatkan transparansi pengelolaan aset dan utang publik, serta menciptakan kepastian regulasi bagi investasi produktif," ujarnya.

  • Stabilitas Moneter

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.