Cuaca Panas Ekstrem Bayangi Laga Piala Dunia 2026

Selasa, 09 Jun 2026, 19:11 WIB

JAKARTA - Perubahan iklim telah meningkatkan kemungkinan terjadinya cuaca panas yang dapat mengganggu performa pemain dan memperlambat tempo permainan pada 97 dari total 104 pertandingan di Piala Dunia mendatang, menurut kajian sebuah lembaga riset dan komunikasi iklim nirlaba awal bulan ini seperti dikutip Kyodo, Selasa.

Climate Central melakukan analisis terhadap peluang suhu melampaui 28°C, sebuah ambang batas yang dikaitkan dengan penurunan performa atlet, seperti berkurangnya frekuensi sprint dan waktu pemulihan yang lebih lambat.

Ket. Foto: — Sumber: AFP

Lembaga tersebut menyatakan bahwa panas ekstrem akan mengancam keselamatan para atlet dan penggemar, serta berdampak pada kualitas pertandingan sepak bola yang akan digelar pada 11 Juni hingga 19 Juli di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat tersebut.

Analisis itu membandingkan kondisi iklim saat ini yang dipengaruhi oleh perubahan iklim akibat aktivitas manusia dengan skenario dunia tanpa perubahan iklim.

Tujuannya adalah untuk menentukan bagaimana pemanasan global mengubah kemungkinan terjadinya panas yang dapat merusak performa selama pertandingan.

Tim nasional Jepang kemungkinan besar akan menghadapi masalah terkait panas selama fase grup.

Diperkirakan ada peluang sebesar 95 persen hal tersebut terjadi saat tim melawan Belanda di Dallas, Texas, peluang 79 persen saat melawan Tunisia di Monterrey, Meksiko pada 20 Juni, dan peluang 98 persen saat menghadapi Swedia di Dallas pada 25 Juni.

Angka-angka dalam ketiga kasus tersebut tercatat lebih tinggi dibandingkan skenario dunia tanpa perubahan iklim.

Menurut analisis tersebut, dari seluruh pertandingan Piala Dunia, perubahan iklim paling signifikan meningkatkan peluang panas ekstrem pada laga antara Uruguay dan Spanyol di Guadalajara, Meksiko, pada 26 Juni.

Perubahan iklim meningkatkan peluang tersebut sebesar 37 poin persentase menjadi 70 persen.

"Bermain di suhu atas 28°C mengubah permainan - mempengaruhi taktik, tempo, dan kualitas secara keseluruhan," ujar Mike Tipton, profesor di University of Portsmouth sekaligus anggota tim analisis Climate Central.

"Kami melihat adanya penurunan intensitas, berkurangnya sprint, dan potensi lebih sedikitnya peluang yang tercipta."

Pemain tim nasional Norwegia, Morten Thorsby, menambahkan, "Analisis ini memperjelas bahwa kenaikan suhu tidak hanya menjadi risiko kesehatan yang serius bagi pemain dan penggemar, tetapi juga mulai mempengaruhi kualitas permainan itu sendiri."

"Ketika panas berdampak pada kemampuan sprint, pemulihan, dan intensitas secara keseluruhan, hal itu mengubah cara sepak bola dimainkan - dan perubahannya tidak ke arah yang lebih baik," katanya menegaskan. Ant

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Deri Henriawan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.