Andreeva Bidik Wimbledon Usai Juara di Roland Garros

Senin, 08 Jun 2026, 06:22 WIB

PARIS - Gelar juara tunggal putri Prancis Open 2026 menjadi titik balik besar dalam karier petenis remaja Russia, Mirra Andreeva. Pada usia 19 tahun, Andreeva menorehkan sejarah sebagai juara termuda Roland Garros dalam 34 tahun terakhir setelah mengalahkan petenis kualifikasi asal Polandia, Maja Chwalinska, dengan skor meyakinkan 6-3, 6-2dalam partai final, Sabtu (6/6) waktu setempat.

Keberhasilan tersebut menghadirkan gelar Grand Slam pertama dalam karier Andreeva. Namun alih-alih larut dalam euforia, unggulan kedelapan itu sudah mengarahkan pandangannya ke target berikutnya: menambah koleksi gelar mayor secepat mungkin. “Perasaan ini sangat spesial. Sejujurnya sekarang saya sudah memikirkan bagaimana mempersiapkan diri untuk musim lapangan rumput dan turnamen-turnamen berikutnya,” ujar Andreeva.

Ket. Foto: Mirra Andreeva dari Rusia bereaksi saat merayakan kemenangannya atas Maja Chwalinska dari Polandia di akhir pertandingan final tunggal putri pada hari ke-14 turnamen tenis French Open di Lapangan Philippe-Chatrier di Kompleks Roland-Garros di Paris pada 6 Juni 2026. — Sumber: Alain JOCARD / AFP

Menurutnya, sensasi mengangkat trofi Grand Slam ternyata jauh melampaui apa yang selama ini dia bayangkan. “Rasanya seperti candu. Saya ingin melakukan yang terbaik agar bisa merasakan semua ini untuk kedua kalinya,” ucapnya. Andreeva menjadi pemain pertama, baik putra maupun putri, yang lahir setelah tahun 2005 dan berhasil mengangkat trofi Grand Slam.

Perjalanannya di Roland Garros juga menunjukkan perkembangan yang konsisten. Saat debut pada tahun 2023, dia mencapai babak ketiga. Setahun kemudian menembus semifinal, lalu perempat final di edisi berikutnya, sebelum akhirnya berdiri di podium tertinggi tahun ini.

“Saya sering membayangkan bagaimana, kapan, dan di mana akan memenangkan Grand Slam pertama. Namun kenyataannya jauh lebih indah dibandingkan yang ada dalam mimpi,” tutur Andreeva. “Melihat trofi ini dan menyadari bahwa saya benar-benar seorang juara Grand Slam terasa luar biasa,” tuturnya.

Kesuksesan tersebut tidak lepas dari bantuan psikolog olahraga yang mendampinginya sepanjang turnamen. Menjelang semifinal dan final, Andreeva secara khusus berkonsultasi untuk menghadapi tekanan besar yang datang seiring statusnya sebagai kandidat juara. “Saya mendapatkan banyak saran dan teknik yang membantu menjaga kondisi mental tetap stabil di pertandingan paling penting dalam hidup saya,” ujarnya.

Kemenangan itu juga mengakhiri penantian panjang tenis putri Russia. Andreeva menjadi petenis Russia pertama yang menjuarai Grand Slam sejak Maria Sharapova memenangkan gelar kelimanya di Prancis Open 2014.

“Saya ingat ketika Maria menang di sini. Dia bermain luar biasa di lapangan tanah liat. Saya tahu dia berada di Paris dan berharap dia menyaksikan final ini. Jika iya, saya ingin menunjukkan tenis terbaik saya,” ujar Andreeva.

Di balik dominasi Andreeva, perjalanan Chwalinska juga menjadi kisah inspiratif tersendiri. Petenis peringkat 114 dunia itu mencatat sejarah sebagai pemain kualifikasi pertama yang mencapai final Roland Garros sejak era Open dimulai.

Meski gagal mengangkat trofi, kiprah petenis berusia 24 tahun tersebut mengundang perhatian dunia tenis. Dalam perjalanan menuju final, dia menyingkirkan sejumlah pemain unggulan seperti Elise Mertens, Maria Sakkari, Anna Kalinskaya, dan Diana Shnaider.

“Saya mengenal banyak pemain hebat yang berada di luar 100 besar dunia. Jarak kemampuan mereka dengan pemain papan atas sebenarnya sangat tipis,” ujar Chwalinska. “Saya berharap kisah saya dalam beberapa hari terakhir bisa menjadi inspirasi bagi mereka,” jelasnya.

Prestasi gemilang itu membuat Chwalinska melesat ke peringkat 21 dunia, posisi terbaik sepanjang kariernya. Namun dia merasa masih belum menampilkan permainan terbaik. ben/AFP/G-1

  • Prancis Open 2026

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.