Dinamika Atmosfer Picu Banjir di Musim Kemarau
Jumat, 05 Jun 2026, 03:18 WIBJAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan dinamika atmosfer seperti adanya fenomena gelombang Rossby Ekuator hingga faktor interferensi manusia menjadi pemicu terjadinya bencana banjir di tengah periode musim kemarau nasional.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani di ANTARA Heritage Center Jakarta, Kamis (4/6), mengatakan bahwa kondisi cuaca pada masa peralihan menuju kemarau saat ini bersifat sangat kompleks karena dipengaruhi oleh berbagai variasi harian.
âAda juga terkait dengan gelombang Rossby ekuator, gelombang Kelvin, MJO (Madden-Julian Oscillation), dan sebagainya yang dapat menimbulkan variasi harian,â kata dia.
Fathani menjelaskan, indikasi tersebut membuat curah hujan masih tetap berpotensi turun di beberapa wilayah perairan dan daratan Indonesia, meskipun direktorat klimatologi telah mengumumkan masuknya periode kemarau tahun ini.
Hingga akhir Mei lalu, sistem pemantauan BMKG mencatat baru sekitar 24 persen dari total 699 Zona Musim (ZOM) di seluruh wilayah tanah air yang secara resmi telah memasuki masa kemarau, sedangkan sisanya baru menyusul pada bulan Juni.
Lebih lanjut, Fathani memaparkan bahwa dampak penurunan intensitas hujan yang dipengaruhi oleh fenomena El Nino pada dasarnya tidak melanda seluruh wilayah, melainkan umumnya terkonsentrasi di bagian garis khatulistiwa sisi selatan.
Adapun kondisi kemarau dipengaruhi oleh aktifnya fenomena El Nino yang mulai muncul pada akhir April hingga awal Mei 2026. Adapun intensitas El Nino tersebut diperkirakan meningkat dari kategori lemah menjadi moderat pada triwulan III tahun 2026, tepatnya sekitar bulan Agustus, September, hingga Oktober sebagaimana analisis dari tim klimatologi BMKG.
Faktor Lokal
Selain faktor dinamika atmosfer, BMKG juga menyoroti andil besar faktor lokal dan interferensi manusia, seperti masifnya pembangunan kawasan perumahan serta pendangkalan struktur sungai di berbagai daerah.
Direktorat Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB melaporkan salah satunya banjir di Kota Manado, Sulawesi Utara, Jumat (28/5). Ada sebanyak 747 jiwa terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman menyusul bencana banjir yang merendam kawasan permukiman penduduk. Banjir dipicu luapan aliran sungai dan drainase yang tidak mampu membendung tingginya intensitas hujan.
Sementara pada periode yang sama kebakaran hutan dan lahan di Pulau Sumatera masih menjadi salah satu kejadian menonjol. BNPB melaporkan misalnya sampai dengan 1 Juni 2026 dengan total luas lahan terbakar di Sumatera Selatan mencapai 182,54 hektare, Riau 3.474,74 hektare bahkan titik kebakaran terbaru terjadi melanda wilayah Mentok, Bangka Belitung hingga menyasar Kawasan Savana Propok Resort Aikmel kawasan Gunung Rinjani Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Ant/S-2
Redaktur: Sriyono
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Darurat DBD Sri Lanka: Baju Sekolah Anak Kini Harus Tertutup dari Nyamuk
-
26 Penumpang KM Sumber Rezeki Terombang-ambing di Pulau Lancang, Tim Sar Merapat
-
Gempa NTT Apakah Merembet ke Jawa? Sore Ini Bantul Jogja Digoyang Gempa
-
Pemprov Jatim Dorong KH Yusuf Hasyim Dapat Gelar Pahlawan Nasional
-
Pastikan Stok BBM di NTT Aman, Komut Pertamina Tinjau Langsung Daerah Gempa
-
Meski Gagal ke Semifinal, Swiss Tinggalkan Piala Dunia 2026 dengan Kepala Tegak
-
Rayakan HUT Klaten, Ribuan Orang Tumpah Ruah Ikuti Tradisi Memet Ikan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.