BPOM Ajak Perkuat Ketahanan Obat Melalui Jamu
Selasa, 02 Jun 2026, 17:45 WIBJAKARTA - Kepala BPOM Taruna Ikrar menilai Pekan Jamu 2026 merupakan inisiatif penting untuk memperkuat ketahanan obat dan ekonomi nasional. Menurut dia, potensi jamu sangat besar sehingga perlu disosialisasikan, dimotivasi, dan diedukasikan kepada masyarakat luas secara berkelanjutan di berbagai daerah.
âIni adalah potensi yang sangat besar, ini perlu kita sosialisasikan, perlu kita motivasi rakyat kita, perlu kita edukasi masyarakat. Kita perlu apa yang kita sebut perkuat ketahanan, ketahanan obat dan sekaligus ketahanan ekonomi nasional kita lewat jamu,â ujar Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Taruna Ikrar saat memberikan sambutan dalam Kick Off Pekan Jamu 2026 di Kantor BPOM, Jakarta, Selasa (2/6).
Ia mengatakan ribuan UMKM bergerak di bidang jamu dan berpeluang berkembang menjadi industri lebih besar. Jika naik kelas, pelaku usaha jamu dapat memberikan kontribusi ekonomi yang semakin signifikan secara nasional.
Taruna menyebut kontribusi sektor jamu berpotensi mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun nasional bila optimal. Menurutnya, tren global menunjukkan masyarakat semakin ingin kembali menggunakan produk alami dibandingkan lainnya saat ini.
âNah itu potensi-potensi yang besar tadi karena masyarakat dunia sudah ingin kembali ke nature (alam), ingin kembali ke dunia yang alami. Nah ini kecenderungan global ini tentu sangat penting,â kata dia.
Ia menilai kecenderungan dunia kembali ke alam menjadi peluang penting bagi pengembangan jamu Indonesia ke depan. Karena itu, BPOM mendorong tiga langkah utama untuk mengembangkan pemanfaatan jamu secara luas dan berkelanjutan.
Langkah pertama adalah mempertahankan budaya minum dan memanfaatkan jamu melalui sosialisasi masyarakat secara lebih luas. Langkah kedua dilakukan melalui penelitian dan pengembangan guna meningkatkan nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi.
Ia menyebut penelitian dapat mendorong jamu berkembang menjadi obat herbal terstandar maupun fitofarmaka di masa depan. Aspek ketiga adalah memanfaatkan seluruh pemangku kepentingan untuk memenuhi kebutuhan global terhadap obat herbal.
Menurut Taruna, kebutuhan global terhadap obat herbal membuka peluang hilirisasi dan pemasaran yang semakin luas. Ia mencontohkan berbagai negara memiliki ruang khusus penjualan produk herbal dengan permintaan tinggi saat ini.
Untuk mewujudkannya, BPOM mengembangkan kolaborasi akademia, bisnis, dan pemerintah atau ABG (Academia-Business-Government) dalam pengembangan jamu kedepannya. Taruna berharap jamu Indonesia menjadi raja di negeri sendiri serta semakin mendunia pada masa mendatang.
âMudah-mudahan juga jamu dari tahun ke tahun bisa semakin menjadi raja di negeri sendiri, menjadi tamu terhormat di negeri mancanegara. Dan jamu milik Indonesia, menjadi jamu yang mendunia,â ucap Taruna. ils/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Ilham Sudrajat
Berita Terkait:
-
BPOM Perluas Pengawasan Obat Melalui Sosialisasikan Peraturan Nomor 5 Tahun 2026
-
BPOM temukan jutaan kosmetik ilegal di Tangerang
-
Taman Ciputat Timur, Lokasi Favorit Baru Warga Tangsel yang Ingin Jalan-jalan dan Berolahraga
-
Manfaatkan Museum Marsinah di Nganjuk untuk Pendidikan HAM
-
Pemprov Jawa Tengah Salurkan Sapi Kurban 906 Kg kepada Warga Huntara Tegal
-
Investor Cari Kepastian Regulasi, Bukan Sekadar Iming-Iming Insentif
-
Ebola Mengintai Dunia: AS Perketat Pintu Masuk dari Wilayah Terdampak Ebola
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.