Mendikdasmen Ungkap Tiga Kunci Jadi Guru Hebat, Apa Saja?

Minggu, 27 Sep 2026, 10:35 WIB

JAKARTA - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengungkap tiga kunci yang menurutnya menjadi fondasi untuk menjadi guru hebat. Ketiga kunci tersebut adalah mencintai murid dan ilmu, mendidik dengan menginspirasi, serta memuliakan murid dalam proses pembelajaran.

Mu'ti menyampaikan hal itu dalam acara Inspiring Educators 2026, graduation Wardah Inspiring Teacher (WIT) dan Inspiring Lecturer Program (ILP) yang digelar ParagonCorp di Jakarta Concert Hall, Sabtu (26/9/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia tidak hanya menyampaikan pesan melalui ceramah, tetapi juga membagikan kisah perjalanan hidupnya sebagai bentuk inspirasi bagi para pendidik.

Ket. Foto: Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengungkap tiga kunci yang menurutnya menjadi fondasi untuk menjadi guru hebat. Ketiga kunci tersebut adalah mencintai murid dan ilmu, mendidik dengan menginspirasi, serta memuliakan murid dalam proses pembelajaran. — Sumber: ParagonCorp

"Menginspirasi itu tidak harus selalu khotbah. Cerita kehidupan juga mudah-mudahan bisa menginspirasi," ujar Mu'ti.

Menurut Mu'ti, kunci pertama untuk menjadi guru hebat adalah memiliki kecintaan terhadap murid sekaligus ilmu yang diajarkan. Ia menilai, niat menjadi seorang pendidik seharusnya berangkat dari rasa cinta karena mengajar merupakan misi yang membantu mengubah ketidaktahuan menjadi pemahaman.

"Setiap murid adalah utusan Tuhan yang membukakan pintu-pintu surga bagi gurunya. Karena itu, jadilah guru yang sabar dengan segala kesulitan dan terus membuka jalan bagi mereka yang ingin menjadi lebih baik," kata Mu'ti.

Kunci kedua adalah memahami bahwa mendidik bukan sekadar mengajarkan materi, tetapi juga memberikan inspirasi kepada murid. Mu'ti menekankan bahwa guru tidak selalu harus meminta murid untuk mendengarkan, melainkan juga perlu menjadi pendengar yang sabar dan memberikan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

"Guru tidak selalu harus minta didengar. Guru juga harus menjadi pendengar yang sabar dan memberi keteladanan. Mengajar itu menginspirasi," tuturnya.

Mu'ti kemudian menceritakan perjalanan hidupnya yang dimulai sebagai anak desa di Kudus dan menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah jurusan IPA. Ia mengaku sebelumnya tidak pernah membayangkan dapat melanjutkan pendidikan ke IAIN hingga akhirnya dipercaya memimpin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

"Saya kuliah di IAIN itu karena berbakti pada guru saya dan karena doa orang tua saya," ujarnya.

Menurut Mu'ti, pengalaman hidup tersebut menunjukkan bahwa cerita nyata seorang pendidik dapat menumbuhkan keyakinan pada murid bahwa siapa pun memiliki kesempatan untuk berhasil, termasuk mereka yang berasal dari keluarga sederhana. Namun, ia mengingatkan bahwa dampak pendidikan tidak dapat dilihat secara instan karena hasilnya membutuhkan proses panjang.

"Investasi di bidang pendidikan itu hasilnya butuh puluhan tahun untuk benar-benar terlihat," katanya.

Kunci ketiga yang disampaikan Mu'ti adalah mendidik dengan cara yang memuliakan murid, guru, dan ilmu. Prinsip tersebut salah satunya diwujudkan melalui pembelajaran mendalam atau deep learning yang menempatkan murid sebagai rekan belajar dan guru sebagai pembelajar yang terus berkembang di dalam kelas.

Dalam pendekatan tersebut, proses belajar dirancang agar berlangsung secara mindful, meaningful, dan joyful. Dengan demikian, kegiatan belajar tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga memberikan pengalaman yang bermakna bagi murid.

Mu'ti menegaskan bahwa tiga kunci tersebut tidak dapat dibangun secara instan karena membutuhkan konsistensi dalam menjalankan kebiasaan baik. Ia mengibaratkan proses tersebut seperti pembangunan Tembok Besar China yang tersusun dari batu demi batu.

"Seperti Tembok Besar Cina, tersusun batu demi batu secara konsisten. Mulailah dari kebiasaan kecil, dan jangan takut gagal," ujarnya.

Pesan tersebut juga tergambar dari pengalaman Komisaris ParagonCorp Salman Subakat yang dibagikan dalam acara yang sama. Hampir 30 tahun lalu, guru Fisika SMA Salman, Yani Bayani, pernah memberikan nilai 10 di rapornya, sebuah nilai yang pada masa itu jarang diberikan karena ada kekhawatiran murid menjadi sombong.

Kepercayaan dari sang guru membuat Salman semakin percaya diri untuk membantu mengajari teman-temannya, mewakili sekolah dalam berbagai lomba, hingga berani mendaftarkan diri ke Institut Teknologi Bandung. Menurut Salman, hal yang paling membekas bukanlah nilai 10 tersebut, melainkan pesan kepercayaan yang diberikan gurunya.

"Yang berkesan itu bukan karena angkanya. Tapi karena di balik angka itu ada sebuah pesan: saya percaya kamu bisa. Kepercayaan yang diberikan 30 tahun lalu itu masih saya bawa sampai sekarang," kata Salman.

Salman juga menilai peran pendidik tetap memiliki posisi penting di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau AI. Menurut dia, teknologi dapat membantu murid memperoleh pengetahuan, tetapi pendidik tetap memiliki peran dalam membangun cara berpikir, karakter, keberanian, dan daya juang.

"AI bisa membantu murid mendapatkan pengetahuan. Tetapi pendidik membantu murid membangun cara berpikir, karakter, keberanian, dan daya juang. Semakin AI berkembang, peran pendidik bukan semakin kecil, justru semakin penting," ujarnya.

Pada 2026, program Wardah Inspiring Teacher meluluskan 5.000 guru, sedangkan Inspiring Lecturer Program meluluskan 1.000 dosen. Sejak pertama kali digelar pada 2017, kedua program tersebut telah menjangkau lebih dari 43.000 pendidik yang tersebar di 38 provinsi di Indonesia.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.