• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Dosen Unissula Ubah Pola K...

Dosen Unissula Ubah Pola Kuliah, Mahasiswa Gen Z Diajak Aktif Berdiskusi

Minggu, 27 Sep 2026, 10:45 WIB

JAKARTA - Dosen Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Friska Realita mengubah pola perkuliahan satu arah menjadi ruang diskusi yang lebih interaktif. Kuis pembuka, studi kasus nyata, hingga temuan penelitian terbaru kini menjadi bagian dari perkuliahan untuk mendorong mahasiswa generasi Z lebih aktif membangun pemahamannya.

Perubahan tersebut dilakukan Friska setelah mengikuti Inspiring Lecturer Program (ILP) 2026 yang digagas ParagonCorp. Salah satu pengalaman yang mendorong perubahan itu adalah sesi pelatihan bertema "Membentuk Kembali Ruang Kelas: Mengajar di Era Generasi Z" yang membahas pendekatan pembelajaran bagi mahasiswa generasi saat ini.

Ket. Foto: Dosen Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Friska Realita mengubah pola perkuliahan satu arah menjadi ruang diskusi yang lebih interaktif. Kuis pembuka, studi kasus nyata, hingga temuan penelitian terbaru kini menjadi bagian dari perkuliahan untuk mendorong mahasiswa generasi Z lebih aktif membangun pemahamannya. — Sumber: ParagonCorp

"Saya tersadar bahwa menyiapkan materi perkuliahan dengan baik membutuhkan kesungguhan. Bahkan untuk membuat presentasi yang benar-benar baik bisa membutuhkan waktu seminggu atau lebih, bukan sekadar dikerjakan dalam satu malam," kata Friska.

Setelah mengikuti program tersebut, Friska mulai menata ulang bahan presentasi sekaligus cara menyampaikan materi kepada mahasiswa. Kelas tidak lagi selalu diawali dengan ceramah, tetapi terkadang dibuka dengan kuis singkat untuk membangun rasa ingin tahu sebelum mahasiswa masuk ke pembahasan utama.

Friska juga menggunakan metode pembelajaran berbasis kasus dengan mengajak mahasiswa membedah persoalan nyata yang berkaitan dengan materi kuliah. Mahasiswa kemudian berdiskusi, mempresentasikan hasil analisis, dan menyampaikan pendapat sebelum Friska memberikan umpan balik serta menghubungkannya dengan konsep perkuliahan.

"Pembelajaran menjadi lebih bermakna ketika mahasiswa dilibatkan secara langsung. Mereka tidak hanya mendengarkan dosen menjelaskan, tetapi berdiskusi, menganalisis kasus, menyampaikan pendapat, kemudian bersama-sama menghubungkannya dengan konsep perkuliahan," ujarnya.

Untuk membuat pembelajaran tetap relevan, Friska juga rutin membawa temuan penelitian terbaru ke dalam kelas. Dengan cara tersebut, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori yang ada dalam bahan perkuliahan, tetapi juga dapat melihat perkembangan pengetahuan dan penelitian yang berkaitan dengan materi.

Menurut Friska, perubahan metode belajar tidak berarti mengurangi peran dosen dalam proses pendidikan. Peran tersebut justru bergeser menjadi pendamping yang membantu mahasiswa mengolah informasi, memahami persoalan, serta melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang.

Selain metode pembelajaran, Friska memberikan perhatian pada hubungan antara dosen dan mahasiswa di dalam kelas. Ia menilai suasana belajar yang partisipatif akan lebih mudah terbentuk ketika mahasiswa merasa aman untuk bertanya, menyampaikan pendapat, maupun melakukan kesalahan dalam proses belajar.

"Mahasiswa membutuhkan dosen yang mau mendengarkan dan memberikan ruang untuk bertanya tanpa takut salah. Saya ingin menjadi dosen yang bukan hanya memberikan materi, tetapi juga bisa menjadi teman berdiskusi, tempat mahasiswa bercerita mengenai hambatan belajarnya," tuturnya.

Menurut Friska, pemahaman terhadap tantangan yang dihadapi mahasiswa dapat membantu dosen merancang pembelajaran yang lebih sesuai dengan kondisi mereka. Pendekatan tersebut membuat proses perkuliahan tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga memperhatikan pengalaman mahasiswa selama mengikuti pembelajaran.

Friska juga berupaya menghubungkan kegiatan pengajaran dengan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Temuan dari penelitian dapat dibawa ke ruang kelas, sementara persoalan yang ditemukan selama proses pembelajaran maupun di tengah masyarakat dapat menjadi bahan untuk penelitian berikutnya.

"Apa yang ditemukan melalui penelitian dapat dibawa kembali ke ruang kelas, kemudian ilmu yang kita miliki juga bisa memberi manfaat bagi masyarakat," katanya.

Menurutnya, keterhubungan antara kelas, penelitian, dan masyarakat dapat membuat ilmu yang dipelajari mahasiswa memiliki konteks yang lebih nyata. Pengetahuan tidak berhenti sebagai materi akademik, tetapi dapat terus dikembangkan melalui penelitian dan diterapkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Friska merupakan salah satu dari 1.000 dosen yang menuntaskan Inspiring Lecturer Program 2026 hingga tahap kelulusan. Sejak dimulai pada 2021, ILP telah menjangkau lebih dari 7.000 dosen di berbagai daerah di Indonesia.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya pengembangan kapasitas pendidik di jenjang perguruan tinggi. Sementara itu, ParagonCorp juga menjalankan Wardah Inspiring Teacher (WIT) untuk guru yang telah berlangsung sejak 2017.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.