“Alkuturasi” Mengubah Kuliner Fermentasi Lokal Menjadi Fine Dining

Selasa, 02 Jun 2026, 23:27 WIB

Bandung - Institut Teknologi Bandung (ITB) akan menggelar festival pangan bertajuk "Akulturasi" yang menampilkan kuliner fermentasi tradisional menjadi sajian mewah ala fine dining, melalui teknologi terbaru fermentasi yang dikembangkan oleh Institut tersebut.

Wakil Rektor bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi ITB Andryanto Rikrik Kusmara di kawasan Kampus Ganesha ITB, Bandung, menyatakan ajang ini juga merupakan pameran hilirisasi riset pangan dari empat fakultas lintas disiplin di ITB, yang mempertemukan sains, teknologi, seni, dan budaya.

Ket. Foto: Wakil Rektor bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi ITB Andryanto Rikrik Kusmara (kiri) memberikan keterangan di Kampus ITB Bandung, Selasa (2/6/2026). — Sumber: Antara

"Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa sains dan teknologi memiliki banyak inspirasi untuk pengolahan dan ketahanan pangan. Hasil karya peneliti dan mahasiswa tidak boleh berhenti di ruang kelas, tetapi harus berdampak langsung bagi ekonomi masyarakat," ujar Andryanto, Selasa.

Agenda utama dari festival ini, lanjut dia, adalah Fermen Station, sebuah jamuan makan malam bersama terbatas pada 19 Juni malam. Dalam sesi fine dining delapan tahap (8-course dinner) tersebut, ragam kuliner unik seperti tape dan jahe fermentasi hasil kurasi ketat akan disajikan sembari dinarasikan teknologi dibalik pembuatannya.

Andryanto menambahkan, agenda fine dining bersifat terbatas untuk ruang diskusi strategis bersama mitra perbankan dan pemerintah. Sementara masyarakat luas, tetap dapat menghadiri festival utama serta sesi mencicipi makanan (food tasting) secara gratis di area lapangan depan Aula Kampus Ganesha.

"Semangatnya adalah kolaborasi dengan mitra perbankan dan pemerintah daerah untuk menguatkan ketahanan pangan serta industri kreatif kuliner. Kami mengundang UMKM agar bisa memanfaatkan teknologi fermentasi yang dimiliki ITB ini guna meningkatkan nilai ekonomi produk mereka," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat, Iendra Sofyan, menyambut baik langkah ITB ini.

Menurutnya, sentuhan teknologi fermentasi modern sangat krusial untuk mendorong proses hilirisasi komoditas pertanian lokal Jawa Barat agar tidak sekadar dijual sebagai bahan baku mentah.

"Sentuhan teknologi ini sangat mendukung pengembangan gastronomi kita dan membantu UMKM naik kelas ke arah industri. Contohnya ubi cilembu, kalau hanya dibakar itu biasa, tapi mungkin dengan teknologi fermentasi di ITB, nilainya akan jauh lebih bervariasi dan bernilai tambah tinggi," ujar Iendra.

Disparbud Jabar juga membidik potensi festival ini sebagai daya tarik wisata kuliner berbasis cerita (storytelling). Nilai narasi sains dan budaya ini diyakini mampu memperkuat pelestarian kuliner lokal, terlebih Jawa Barat sukses mencatatkan hingga 200 warisan budaya takbenda (WBTB) pada tahun 2025.

Ke depan, ITB dan Disparbud Jabar memproyeksikan festival pangan berbasis riset ini dapat dipersiapkan dengan skala yang jauh lebih masif, sehingga mampu menjadi trademark tahunan baru bagi kepariwisataan dan inovasi di Jawa Barat.

Institut Teknologi Bandung (ITB) sendiri menggelar Festival Akulturasi ini, berkolaborasi dengan Bank Tabungan Negara (BTN).

  • acara kuliner

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.