Kenaikan BI Rate Bantu Meredam Aksi Spekulasi Terhadap Rupiah

Senin, 25 Mei 2026, 01:10 WIB

JAKARTA - Langkah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan BI-Rate 50 basis poin (bps) ke level 5,25 persen menunjukkan orientasi kuat pada stabilitas, terutama untuk menahan tekanan terhadap rupiah dan mengurangi risiko keluarnya modal asing dari pasar keuangan domestik.

Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Universitas Atma Jaya Yogyakarta Aloysius Gunadi Brata mengatakan dalam situasi gejolak global saat ini, stabilitas menjadi faktor penting agar tekanan terhadap ekonomi tidak semakin dalam.

Ket. Foto: Stabilitas Sektor Keuangan — Sumber: afp

Kenaikan sebesar 50 bps sekaligus menunjukkan bahwa tekanan yang dihadapi sudah terlalu besar sehingga membutuhkan respons agresif. Menurut Aloysius, bila antisipasi dilakukan lebih awal melalui kenaikan bertahap, lonjakan suku bunga sebesar itu kemungkinan tidak perlu dilakukan sekaligus.

“Ini memperlihatkan bahwa tekanan terhadap rupiah sudah berada pada titik yang sulit ditahan hanya dengan langkah biasa,” katanya.

Ia mengatakan, fokus pada stabilitas memang penting karena pelemahan rupiah akan berdampak langsung terhadap biaya impor, terutama energi dan bahan baku industri yang masih bergantung pada pasar luar negeri.

Kondisi tersebut, kata dia, dapat memperbesar tekanan inflasi sekaligus meningkatkan beban subsidi energi pemerintah apabila harga minyak dunia terus naik akibat konflik geopolitik.

Kendati demikian, Aloysius mengingatkan pasar tetap akan membaca kenaikan suku bunga ini secara kritis. Menurutnya, pasar tidak hanya melihat kenaikan BI-Rate sebagai upaya menjaga stabilitas, tetapi juga bisa menafsirkan adanya tekanan fiskal dan moneter yang lebih berat dari perkiraan sebelumnya.

Karena itu, ia menilai langkah lanjutan pemerintah dan BI dalam menjaga kredibilitas kebijakan akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah rupiah dan kepercayaan pasar ke depan.

Jaga Daya Tarik

Sementara itu, peneliti ekonomi Center of Reform on Economics (Core) Yusuf Rendi Manilet menilai, kebijakan BI sudah tepat sebagai upaya menjaga stabilitas di tengah tekanan nilai tukar dan arus modal asing yang keluar deras.

“Langkah BI menaikkan suku bunga 50 bps ke posisi 5,25 persen memang perlu karena lebih mengutamakan stabilitas,” katanya.

Apalagi rupiah sempat menyentuh kisaran 17.700 per dollar AS dengan tekanan yang berlangsung hampir dua bulan. Arus modal asing juga keluar cukup deras dari pasar obligasi dan saham pada awal tahun.

“Dalam situasi seperti itu, ketika tekanan datang dari sentimen global dan pelarian modal, bukan dari ekonomi domestik yang terlalu panas, maka instrumen suku bunga memang menjadi salah satu alat paling langsung untuk menjaga daya tarik aset rupiah dan menahan arus keluar modal,” katanya.

Tanpa nilai tukar yang terkendali, biaya impor akan naik, tekanan inflasi melebar, dan ketidakpastian membuat dunia usaha menahan investasi.

“Menjaga rupiah sekarang pada dasarnya adalah upaya mencegah kerusakan yang lebih besar terhadap pertumbuhan di tahap berikutnya,” ujarnya.

Kenaikan 50 basis poin dinilai lebih agresif dibanding ekspektasi pasar yang semula memprediksi 25 basis poin. “BI sedang menunjukkan bahwa mereka tidak ingin terlihat tertinggal dari kurva dan siap bergerak lebih cepat ketika stabilitas mulai terganggu. Dalam kondisi pasar yang sensitif, ketegasan seperti ini membantu meredam spekulasi terhadap rupiah,” kata Yusuf.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.