Ledakan Tambang Batu Bara di China Tewaskan 82 Orang, Jadi Tragedi Terburuk dalam 15 Tahun

Minggu, 24 Mei 2026, 05:15 WIB

BEIJING - Otoritas Tiongkok pada Sabtu (23/5) menyatakan sebanyak 82 orang tewas akibat ledakan tambang batu bara di wilayah utara Tiongkok, merevisi laporan sebelumnya yang menyebut korban tewas mencapai 90 orang, menurut media pemerintah.

“Insiden ini menyebabkan 82 orang meninggal dunia. Dua orang masih hilang dan upaya pencarian besar-besaran masih terus berlangsung. Sebanyak 128 orang lainnya mengalami luka-luka dan dirawat di rumah sakit,” kata Wali Kota Changzhi di Provinsi Shanxi, Chen Xiangyang, seperti dikutip stasiun televisi pemerintah CCTV.

Ket. Foto: Salah satu pertambangan di Tiongkok. — Sumber: Antara

Dilansir dari Channel NewsAsia, ledakan tersebut menjadi bencana tambang terburuk di Tiongkok sejak 2009, ketika 108 orang tewas dalam ledakan tambang di Provinsi Heilongjiang, wilayah timur laut Tiongkok.

Sebanyak 247 pekerja berada di bawah tanah saat ledakan terjadi pada Jumat pukul 19.29 waktu setempat di tambang batu bara Liushenyu, Provinsi Shanxi, menurut kantor berita pemerintah Xinhua.

Dari para korban yang menjalani perawatan, 33 orang telah diperbolehkan pulang. Sebanyak 755 personel darurat dan medis dikerahkan ke lokasi, sementara operasi penyelamatan masih berlangsung hingga Sabtu sore, menurut CCTV.

Presiden Tiongkok Xi Jinping sebelumnya meminta seluruh pihak untuk “mengerahkan segala upaya” dalam merawat korban luka serta melakukan operasi pencarian dan penyelamatan, sekaligus memerintahkan penyelidikan menyeluruh terkait penyebab kecelakaan tersebut.

Perdana Menteri Li Qiang juga menggemakan instruksi tersebut dengan meminta penyampaian informasi secara cepat dan akurat serta penegakan tanggung jawab secara tegas.

Pemerintah Tiongkok kemudian meluncurkan penyelidikan “tanpa kompromi” terhadap ledakan itu dan berjanji menghukum berat pihak-pihak yang bertanggung jawab. Pemerintah juga memerintahkan penindakan besar-besaran terhadap aktivitas pertambangan ilegal di seluruh negeri, menurut Xinhua pada Sabtu malam.

“Tim investigasi kecelakaan dari Dewan Negara akan melakukan penyelidikan yang ketat dan tanpa kompromi,” tulis Xinhua.

“Siapa pun yang terbukti bertanggung jawab akan dihukum berat sesuai hukum dan peraturan yang berlaku.”

Seluruh wilayah dan otoritas terkait juga diminta melakukan tindakan keras terhadap aktivitas ilegal, termasuk pemalsuan data keselamatan, ketidakjelasan jumlah pekerja di bawah tanah, dan praktik kontrak ilegal.

Sebelumnya, Xinhua melaporkan seorang pihak yang “bertanggung jawab” atas perusahaan tambang tersebut telah diamankan sesuai hukum.

Media pemerintah awalnya melaporkan empat orang tewas dan puluhan lainnya terjebak setelah kadar karbon monoksida — gas beracun tanpa bau — di tambang ditemukan “melewati batas aman”.

Beberapa pekerja yang terjebak di bawah tanah dilaporkan berada dalam kondisi kritis.

Jumlah korban tewas kemudian meningkat tajam seiring berjalannya proses evakuasi.

Seorang korban selamat sekaligus pekerja tambang yang terluka, Wang Yong, mengatakan kepada CCTV bahwa ia melihat “kepulan asap” dan mencium bau belerang saat ledakan terjadi.

Ia mengaku melihat sejumlah orang tersedak asap sebelum akhirnya pingsan.

“Saya terbaring sekitar satu jam lalu sadar sendiri. Saya memanggil orang-orang di sebelah saya dan kami keluar dari tambang bersama-sama,” ujar Wang, seperti dikutip CCTV.

Tiongkok diketahui telah berhasil menurunkan angka kematian di tambang batu bara sejak awal 2000-an melalui regulasi yang lebih ketat dan penerapan standar keselamatan yang lebih baik. Namun insiden Liushenyu menjadi salah satu kecelakaan tambang paling mematikan di negara itu dalam satu dekade terakhir.

Berdasarkan data resmi Administrasi Keselamatan Tambang Nasional Tiongkok (NMSA), lebih dari 3.000 kecelakaan tambang terjadi di Tiongkok sepanjang 2010 hingga 2025.

Bulan lalu, empat orang ditemukan tewas setelah atap tambang runtuh di sebuah tambang batu bara di Kabupaten Xingxian, Shanxi. Pada 2023, longsor di tambang batu bara terbuka di wilayah Mongolia Dalam menewaskan 53 orang.

Provinsi Shanxi, salah satu wilayah termiskin di Tiongkok, dikenal sebagai pusat pertambangan batu bara negara tersebut.

Tiongkok sendiri merupakan konsumen batu bara terbesar di dunia sekaligus penghasil emisi gas rumah kaca terbesar, meski negara itu terus mempercepat pembangunan energi terbarukan dalam beberapa tahun terakhir.

  • Kecelakaan Tambang

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Andes

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.