Dari Ancaman Ekosistem ke Ladang Cuan, Ikan Sapu-Sapu Disulap Jadi Pupuk Organik

Kamis, 21 Mei 2026, 11:20 WIB

BOGOR – Upaya pengendalian spesies invasif di perairan menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan melindungi keanekaragaman hayati lokal.

Keberadaan spesies asing yang berkembang tanpa kontrol dapat mengganggu rantai makanan, menurunkan populasi ikan asli, hingga memicu kerusakan habitat yang berdampak pada sektor perikanan dan ekonomi masyarakat sekitar.

Ket. Foto: Bupati Bogor Rudy Susmanto bersama jajaran Forkopimda turun menangkap ikan sapu-sapu di Situ Citatah, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (20/5/2026). — Sumber: ANTARA/ M Fikri Setiawan

Di sisi lain, pengendalian spesies invasif perlu diiringi dengan program pemulihan lingkungan perairan secara menyeluruh, mulai dari rehabilitasi ekosistem, pengurangan pencemaran, hingga penguatan pengawasan terhadap introduksi spesies asing.

Pendekatan yang terintegrasi dinilai penting agar pemulihan kualitas perairan tidak bersifat sementara, melainkan mampu menciptakan ekosistem yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Pemerintah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengolah ikan sapu-sapu hasil penangkapan di Situ Citatah, Cibinong, menjadi pupuk organik sebagai bagian dari upaya pengendalian spesies invasif sekaligus pemulihan lingkungan perairan.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor Dede Armansyah di Cibinong, Rabu (20/5), mengatakan ikan sapu-sapu yang ditangkap tidak akan dibuang maupun dikubur, melainkan dimanfaatkan kembali melalui proses pengolahan.

“Jadi tidak ada yang dikubur. Jadi, sapu-sapu ini nanti dicacah, kemudian difermentasi untuk menjadi pupuk. Tempatnya sudah kita siapkan di Pondok Rajeg,” kata Dede.

Ia menjelaskan pupuk organik tersebut nantinya digunakan sebagai nutrisi bagi pohon-pohon kayu di ruang terbuka hijau di Kabupaten Bogor.

Menurut dia, pupuk dari ikan sapu-sapu tidak diperuntukkan bagi tanaman buah, melainkan untuk mendukung penghijauan kawasan terbuka hijau karena memiliki kandungan protein yang tinggi.

“Pupuk ini bagus karena memiliki protein tinggi,” ujarnya.

Sebelumnya, Bupati Bogor Rudy Susmanto bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan pegiat lingkungan turun langsung ke Situ Citatah untuk menangkap ikan sapu-sapu sebagai upaya menjaga keseimbangan ekosistem perairan sekaligus mengendalikan sedimentasi penyebab banjir.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 yang difokuskan pada isu lingkungan hidup dan pelestarian sumber daya air.

“Hari ini jelang HJB kita memang ada beberapa rangkaian kegiatan terutama yang menyangkut terkait lingkungan,” kata Rudy.

Ia mengatakan pemerintah daerah sengaja turun langsung ke perairan untuk melihat kondisi riil situ, mulai dari sedimentasi hingga penumpukan sampah yang dinilai menjadi salah satu penyebab banjir di wilayah hilir.

“Tadi kenapa kita turun langsung ke air? Kita ingin memastikan, oh ternyata sedimentasi cukup tinggi, sampah cukup banyak. Kewajiban dan tanggung jawab kita bersama untuk kita bersihkan bersama, kita rawat bersama-sama,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, lebih dari 200 kilogram ikan sapu-sapu berhasil ditangkap hanya dalam waktu sekitar satu hingga dua jam.

“Sekitar lebih dari 200 kilogram hanya hitungan satu jam dua jam,” kata Rudy.

Pemkab Bogor juga menyiapkan sejumlah kegiatan lanjutan menjelang Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni 2026, di antaranya penanaman pohon dan pelepasan indukan ikan lokal di kawasan hulu sungai.

Pejabat dan pegiat lingkungan menilai langkah pengendalian ikan sapu-sapu penting dilakukan karena spesies invasif tersebut dapat merusak keseimbangan ekosistem perairan jika populasinya tidak dikendalikan.

“Sapu-sapu kan ikan invasif, jadi memang harus dikontrol karena kalau dibiarkan akan merusak ekosistem,” kata pegiat lingkungan Arief Kamarudin.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

Berita Terbaru

Pasukan Tambahan Berdatangan! Tiga Batalyon dari Jawa Bantu Atasi Karhutla Kalimantan

Mengkhawatirkan! 9 Kali Meletus dalam Sehari, Gunung Anak Krakatau Jadi Sorotan

Koperasi Tak Boleh Kuno Lagi! Menkop Ferry Dorong Digitalisasi hingga Ekspansi Bisnis

Dugaan Jual Beli Kursi Jalur Mandiri Unsoed Terjadi di Masa Rektor Akhmad Sodiq.

Gempa NTT, Pelni Cabang Ambon Siapkan Layanan Pengiriman Bantuan Kemanusiaan.

Relawan Medis UMI Makassar Tembus Pegunungan Manggarai, Bantu Warga Terdampak Bencana.

Baznas Salurkan 1.000 Mushaf Al Quran kepada Masyarakat Kampung Baduy.

Hujan Kalsel Diprakirakan Meningkat Oktober, BMKG Sebut Bisa Bantu Atasi Karhutla.

Karhutla Tanah Bumbu, Polisi Bagikan Masker untuk Lindungi Warga dari Asap.

Karhutla Jadi Perhatian, Papua Tengah Bentuk Satgas untuk 8 Kabupaten.

Kementerian PU Turun Tangani Karhutla di Tanjung Selor, Kaltara.

Kabut Asap Karhutla Muncul, Pelayaran Speedboat Tanjung Selor-Tarakan Tetap Normal.

Sungai Musi Dipenuhi Sampah, Wali Kota Palembang Ajak Warga Bergerak.

Pemerintah Luruskan Istilah “Emas di Bawah Bantal”, Ternyata Ada 1.800 Ton Senilai Rp4.000 Triliun

Mau Selamatkan Harimau? Rantai Makanan Harus Dijaga.

Rayakan 5 Abad Banjarmasin, Festival Tari Daerah Jadi Upaya Lestarikan Tradisi.

Polisi Buru Pemodal Sindikat Uang Palsu Rp36 Miliar di Tangsel

Gempa M4,8 Guncang Perairan 84 Km Timur Laut Ruteng Manggarai NTT.

Rumah Adat di Kawasan Wisata Sade Lombok Terbakar.

Karhutla Jambi Meningkat, Wakapolda Cek Titik Panas dan Evaluasi Penanganan.

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.