Krisis Hormuz Picu Lonjakan Biaya

Senin, 18 Mei 2026, 01:00 WIB

Yunani - Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni pada Sabtu (16/5) menegaskan bahwa Selat Hormuz harus dibuka kembali tanpa pungutan maupun pembatasan yang bersifat diskriminatif.

Dalam pidatonya di Forum Eropa-Teluk di kawasan resor Costa Navarino, Yunani, Meloni mengatakan solusi jangka panjang atas krisis di Selat Hormuz harus didasarkan pada prinsip kebebasan navigasi.

Ket. Foto: Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni — Sumber: antara

“Yang pertama adalah pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa pungutan atau pembatasan diskriminatif, karena kemakmuran tidak hanya kawasan Mediterania dan Teluk, tetapi juga seluruh dunia bergantung pada kebebasan navigasi,” ujar Meloni, sebagaimana diberitakan Antara.

Ia menambahkan Italia siap berkontribusi menjaga keamanan pelayaran apabila kondisi memungkinkan.

Menurut Meloni, Italia dapat memanfaatkan pengalaman dari operasi misi Uni Eropa Aspides dan Atalanta di Laut Merah serta Samudra Hindia untuk mendukung upaya tersebut.

Selain itu, Meloni kembali menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir karena dapat mengancam negara-negara di kawasan sekitarnya.

Sementara itu, perusahaan-perusahaan pelayaran global mulai beralih menggunakan jalur darat untuk distribusi kargo di tengah terganggunya pelayaran di Selat Hormuz akibat krisis Timur Tengah, sebagaimana dilaporkan Financial Times pada Minggu (17/5).

Laporan tersebut menyebutkan tarif pengiriman di rute Shanghai-Teluk Persia dan Laut Merah melonjak ke level tertinggi pekan ini, bahkan melampaui masa pandemi Covid-19.

Berdasarkan data Clarksons Research, biaya pengiriman satu kontainer standar di rute tersebut naik lebih dari 320 persen, dari 980 dollar AS menjadi 4.131 dollar AS per 15 Mei 2026.

Sejumlah operator pelayaran besar seperti Mediterranean Shipping Company, Maersk, CMA CGM, dan Hapag-Lloyd mulai membuka jalur distribusi alternatif dari pelabuhan di Laut Merah dan Teluk Oman menuju berbagai pelabuhan di kawasan Teluk.

Jalur tersebut menghubungkan pelabuhan Yanbu dan King Abdullah di Arab Saudi, serta Fujairah di Uni Emirat Arab (UEA), menuju Dammam di Arab Saudi, Basra di Irak, dan Jebel Ali di UEA.

CEO Maersk Vincent Clerc mengatakan armada truk dalam jumlah besar telah dikerahkan untuk mendukung distribusi logistik.

Menurut dia, Arab Saudi dan Irak juga melonggarkan akses bagi truk-truk yang datang dari Irak, Yordania, hingga Turki.

  • selat hormuz

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.