Antisipasi Musim Kemarau, Garut Gercep Turunkan Tim Pompanisasi
Jumat, 15 Mei 2026, 22:55 WIBGARUT â Pompanisasi ke lahan pertanian yang terdampak kekeringan menjadi salah satu upaya gerak cepat (gercep) untuk menjaga pasokan air saat musim kemarau.
Dengan bantuan pompa air, petani tetap bisa mengairi sawah dan mempertahankan produktivitas tanaman meski debit air dari irigasi atau hujan mulai berkurang.
Di sisi lain, langkah ini juga penting untuk mengurangi risiko gagal panen yang dapat berdampak pada pendapatan petani dan pasokan pangan.
Namun, efektivitas pompanisasi tetap bergantung pada ketersediaan sumber air serta dukungan infrastruktur pendukung agar distribusi air ke lahan pertanian bisa berjalan optimal.
Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Garut, Jawa Barat, menyiapkan tim di setiap kecamatan, yang akan memompa air ke lahan pertanian terdampak kekeringan saat musim kemarau.
"Ketika ada laporan kekeringan di satu titik, maka mereka bergerak untuk melakukan pompanisasi," kata Kepala Dispertan Kabupaten Garut Ardhy Firdian di Garut, Jabar, Jumat (15/5).
Ia menuturkan berdasarkan laporan BMKG, tahun ini musim kemarau akan lebih panjang dengan puncaknya terjadi pada Agustus 2026.
Potensi akan terjadinya kekeringan terhadap lahan pertanian itu, kata dia, membuat jajarannya melakukan langkah antisipasi meminimalisasi risiko dampak dari kemarau tersebut.
"Kita sudah melaksanakan gladi posko, jadi penyiapan tugas di tingkat kecamatan agar mereka selalu bersiap, dan selalu waspada terhadap perubahan gejala kondisi iklim," katanya.
Ia menyampaikan tim tersebut berjumlah dua sampai tiga orang, yang akan memompa dari sumber air yang masih tersedia untuk dialiri ke daerah pertanian yang dilanda kekeringan.
Saat ini, lanjut dia, sudah ada 95 unit mesin pompa air tersebar di seluruh kecamatan yang siap digunakan oleh tim untuk menyelamatkan lahan pertanian dari dampak kemarau.
"Kita juga sudah menyiapkan pompa-pompa air di tingkat lapangan di wilayah kecamatan, itu jumlahnya sebanyak 95 unit yang sudah kita sebarkan di tingkat UPT atau BPP (balai penyuluhan pertanian) di masing-masing wilayah," katanya.
Ia menyampaikan petani yang membutuhkan bantuan pompa air dapat memintanya ke petugas pertanian setempat.
Ia berharap pompa air untuk mengatasi kekeringan itu bisa mencegah terjadinya gagal panen maupun gagal tanam, sehingga tidak terjadi kerugian materi bagi petani.
"Itu paling tidak bisa kita selamatkan, sehingga mereka bisa panen nantinya, atau bisa dinikmati hasil produksinya," katanya.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Peneliti: Evaluasi Ketat Operasional SPPG Bisa Menjaga Kepercayaan Publik Terhadap MBG
-
Kekeringan Ekstrem Sebentar Lagi, Kementan–PU Perkuat Pengelolaan Air untuk Tingkatkan Indeks Pertanaman
-
PAM Jaya Kembangkan Inovasi Ciptakan Air dari Udara dan Kurangi Plastik
-
Pemusnahan 5,96 Ton Daging Ayam Asal Jawa Timur oleh Karantina NTB
-
Hasil FIFA Series 2026: Bulgaria Bantai Kepulauan Solomon 10-2
-
Pemkab Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan Genjot Peternakan Lokal, Itik Alabio dan Kerbau Rawa Jadi Andalan
-
Sentil Birokrasi Daerah, Wamendagri Bima Arya Dorong DPRD Gunakan Konsep 'Statecraft'
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.