PGE Catat Penghematan Energi 90.502 MWh Sepanjang 2025, Perkuat Dekarbonisasi Nasional
Kamis, 14 Mei 2026, 21:48 WIBJAKARTA â PT Pertamina Geothermal Energy Tbk atau PGE mencatat penghematan energi sebesar 90.502,28 MWh sepanjang 2025 sebagai bagian dari upaya mendukung target Net Zero Emission (NZE) Indonesia dan kontribusi terhadap Nationally Determined Contribution (NDC).
Perusahaan energi panas bumi berkode saham IDX: PGEO itu menyebut pencapaian tersebut meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 40.058,77 MWh.
Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho, mengatakan praktik keberlanjutan menjadi bagian penting dalam memastikan pengembangan panas bumi berjalan andal, efisien, dan berdaya saing.
âPengembangan panas bumi tidak hanya berfokus pada penyediaan energi bersih. PGE juga memastikan seluruh operasional dijalankan secara bertanggung jawab, efisien, dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi lingkungan maupun masyarakat sekitar,â ujar Andi dalam keterangan resmi, Rabu (13/5/2026).
Berdasarkan Laporan Keberlanjutan 2025, peningkatan efisiensi energi didorong oleh sejumlah optimalisasi operasional di beberapa wilayah kerja panas bumi (WKP). Di antaranya debottlenecking jalur produksi di Area Ulubelu untuk memasukkan sumur bertekanan rendah ke sistem produksi, optimalisasi vacuum pump pada Gas Extraction System di seluruh PLTP PGE guna menekan own use, serta modifikasi hand control valve di Lumut Balai untuk meminimalkan uap terbuang ke rock muffler.
Selain itu, PGE juga memanfaatkan energi terbarukan untuk kebutuhan internal operasional, termasuk penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di fasilitas operasional dan perkantoran.
Perseroan mencatat rasio intensitas energi sebesar 0,037 MWh/MWh pada 2025 atau turun 10,10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara penggunaan energi terbarukan dalam operasional tercatat mencapai 94,36 persen.
Di sisi pengelolaan emisi, intensitas emisi PGE tercatat sebesar 41,12 gram CO2e/kWh, jauh di bawah ambang batas EU Taxonomy dan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia sebesar 100 gram CO2e/kWh. Melalui kapasitas operasinya, PGE mengklaim telah berkontribusi terhadap penghindaran emisi lebih dari 4,29 juta ton CO2e sepanjang 2025.
Tidak hanya fokus pada energi dan emisi, PGE juga memperkuat pengelolaan limbah non-B3 melalui pendekatan 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Recovery). Pada 2025, volume limbah non-B3 yang berhasil dikelola mencapai 17 ton atau meningkat 24,5 persen dibandingkan 2024 sebesar 13,66 ton.
Pengelolaan limbah dilakukan melalui pendekatan waste circularity dengan melibatkan bank sampah dan tempat pemrosesan akhir (TPA) di luar area operasi untuk mendukung pemilahan, penggunaan kembali, daur ulang, hingga pengomposan bersama masyarakat.
PGE juga mencatat penurunan konsumsi air sebesar 33,31 persen menjadi 262,24 megaliter pada 2025, dibandingkan 393,23 megaliter pada tahun sebelumnya.
Dalam pengembangan energi bersih, PGE turut memperluas inovasi beyond electricity melalui pengembangan ekosistem green hydrogen berbasis panas bumi. Salah satunya diwujudkan melalui proyek Tanjung Sekong Green Terminal yang mendukung kebutuhan energi di terminal LPG Cilegon.
Selain itu, perusahaan juga membuka peluang pemanfaatan energi panas bumi untuk pengembangan industri hijau lainnya, termasuk green data center berbasis energi rendah emisi.
Kinerja keberlanjutan PGE turut tercermin dari skor Sustainalytics ESG Risk Rating sebesar 7,1 atau kategori risiko dapat diabaikan pada 2025. Capaian tersebut menempatkan PGE sebagai satu-satunya perusahaan Indonesia dalam jajaran Top 50 ESG Global dari 42 negara.
Perseroan juga meraih 20 penghargaan PROPER Emas hingga 2026 dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup.
Menurut Andi, penguatan praktik ESG dan implementasi operasi berkelanjutan akan terus menjadi prioritas perusahaan melalui empat pilar keberlanjutan, yakni Nature, Zero Emission, People & Socioeconomics, serta Transformation Catalyst.
Sebagai energi baru terbarukan, panas bumi dinilai memiliki peran strategis karena mampu menghasilkan listrik stabil selama 24 jam tanpa bergantung pada cuaca maupun impor bahan bakar, sehingga mendukung transisi energi rendah emisi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
- Pertamina Geothermal Energy (PGE)
- Net Zero Emission
- Dekarbonisasi
- Eefisiensi Energi
- Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP)
- energi panas bumi
- Green Hydrogen
- energi bersih
- PGE
- energi terbarukan
- emisi karbon
- Keberlanjutan
- PGEO
- transisi energi
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Unik, ASN Pemkot Tasikmalaya Naik Kuda ke Kantor untuk Menekan Penggunaan BBM
-
Permintaan Melonjak, Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Pastikan Stok Pertamax Turbo Makassar Aman
-
Pertamina Sumbagsel Pastikan Pasokan Energi Aman Selama Libur Lebaran
-
ASDP Ambon Operasikan Kapal 24 Jam pada H+7 Lebaran
-
BGN Setop Sementara 1.256 SPPG di Indonesia Timur Tanpa IPAL dan SLHS
-
Inovasi dan Keberlanjutan Jadi Fokus Palmex Jakarta 2026
-
Gubernur DKI Pramono Anung Dorong Target Net Zero Emission
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.