Rombak Total Timnas Sepak Bola

Senin, 10 Agu 2026, 06:53 WIB

JAKARTA - Ketika lawan berubah, tim nasional Indonesia ikut kehilangan arah. Itulah gambaran paling telanjang dari kegagalan Timnas Indonesia di Piala AFF 2026. Skuad Garuda harus dirombak total usai gagal total di AFF. Timnas hanya membawa pulang tujuh poin dari fase grup, tetapi angka tersebut tidak mampu menutupi persoalan yang jauh lebih serius: permainan Indonesia belum memiliki jawaban ketika rencana utama menemui kebuntuan.

Hasil imbang 1-1 melawan Singapura di Stadion Jalan Besar, Jumat (7/8) malam WIB, memastikan Indonesia finis di posisi ketiga Grup A dan tersingkir lebih awal. Dari empat pertandingan, Indonesia hanya meraih dua kemenangan, sekali imbang, dan satu kekalahan.

Ket. Foto: Pesepak bola Timnas Indonesia Thom Jan Marinus Haye (kiri) berebut bola dengan pesepak bola Timnas Vietnam Tai Loc Nguyen (kanan) pada pertandingan Grup A Piala AFF 2026 di Stadion Gelora Pakansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (3/8). — Sumber: ANTARA/Bayu Pratama S

Bagi pengamat sepak bola nasional Rizal Pahlevi, kegagalan tersebut semestinya menjadi alarm bagi John Herdman. Pelatih asal Inggris itu belum memperlihatkan kemampuan mengubah pendekatan ketika berhadapan dengan karakter sepak bola ASEAN yang berbeda dibandingkan lawan-lawan Indonesia di luar Asia Tenggara.

“Plan B tetap menjadi PR bagi John Herdman dari turnamen ini. Di FIFA Matchday dan FIFA Series kita bisa melakukan segala sesuatunya dengan mulus. Tetapi ketika bertemu lawan ASEAN dengan pendekatan permainan berbeda, ini menjadi PR serius,” ujar Rizal.

Masalahnya bukan sekadar Indonesia gagal mencetak lebih banyak gol. Persoalannya adalah bagaimana tim bereaksi ketika lawan mampu mematikan sumber permainan. Melawan tim yang bertahan lebih dalam, mempersempit ruang, dan mengandalkan transisi, Indonesia terlihat kesulitan mengubah tempo maupun pola serangan.

Di titik inilah kualitas seorang pelatih diuji. Strategi utama dapat dipersiapkan dengan matang, tetapi pertandingan tidak pernah berjalan sesuai skenario. Ketika rencana pertama gagal, harus tersedia solusi kedua, bahkan ketiga. Indonesia belum memperlihatkan itu secara meyakinkan.

Rizal masih memberi ruang bagi Herdman untuk memperbaiki keadaan. Dia berharap pelatih tersebut mampu memanfaatkan kembalinya sejumlah pemain yang belum tersedia pada Piala AFF 2026. Namun, alasan absennya pemain tidak boleh menjadi satu-satunya jawaban atas kegagalan.

Pengamat lain, Luciano Leandro bahkan meminta evaluasi dilakukan lebih jauh. Menurut mantan pemain Persija Jakarta dan PSM Makassar itu, Herdman harus membongkar kembali hampir seluruh fondasi tim, mulai dari taktik hingga pemilihan pemain.

“Saya rasa setelah kegagalan ini John Herdman harus melakukan evaluasi yang sangat serius, bukan hanya terhadap taktik tetapi juga proses pemilihan pemain,” ujar Luciano.

Dia tidak sepakat jika pemain dijadikan sasaran kesalahan. Indonesia memiliki banyak talenta lokal yang menjanjikan. Namun, persoalannya adalah apakah pemain-pemain tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan filosofi yang hendak dibangun Herdman.

Indonesia memiliki modal semangat, kekuatan fisik dan daya juang. Tetapi sepak bola modern menuntut lebih dari sekadar keberanian berlari dan bertarung. Skuad Garuda membutuhkan pemain yang mampu menciptakan sesuatu ketika pertandingan buntu.

“Kita masih kekurangan pemain yang mampu memberikan kreativitas, improvisasi, kualitas satu lawan satu, umpan yang membuka pertahanan dan keputusan cepat di lini tengah,” ujar Luciano.

Herdman kini berada di persimpangan. Dia bisa menjadikan kegagalan di Piala AFF sebagai bahan evaluasi untuk membangun tim yang lebih kuat, atau sekadar menganggapnya sebagai hasil buruk sebuah turnamen.

Sejarah juga memberikan tekanan. Indonesia belum pernah menjadi juara Piala AFF dan sudah enam kali menjadi runner-up, pada 2000, 2002, 2004, 2010, 2016, dan 2020. Dalam dua edisi terakhir, Skuad Garuda bahkan tersingkir di fase grup.

Karena itu, kegagalan di Piala AFF 2026 bukan sekadar soal tersingkir. Ini adalah ujian awal bagi Herdman untuk membuktikan bahwa Indonesia tidak hanya punya rencana, tetapi juga memiliki jawaban ketika rencana itu gagal. ben/G-1

  • hasil timnas indonesia

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.