Bernadya Rilis Album Kedua “Semoga Hanya di Mimpi”
Rabu, 24 Jun 2026, 17:55 WIBJAKARTA - Penyanyi dan penulis lagu Bernadya resmi merilis album penuh keduanya bertajuk Semoga Hanya di Mimpi, Rabu (24/6). Album yang dirilis melalui JUNI Records tersebut menghadirkan kisah-kisah tentang rasa takut, kecemasan, dan keraguan dalam menjalani hubungan.
Album ini menjadi karya solo terbaru Bernadya setelah kesuksesan album debutnya, Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan. Album ini melambungkan namanya di industri musik Indonesia dan membawanya meraih tiga penghargaan AMI Awards 2024.
Bernadya mengungkapkan Semoga Hanya di Mimpi lahir dari perasaan takut terhadap ketenangan yang ia rasakan dalam hidupnya. Menurut dia, saat segala sesuatu berjalan baik dan normal, justru muncul kekhawatiran bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.
Ia mengaku terinspirasi dari istilah cherophobia yakni ketakutan terhadap kebahagiaan karena adanya kekhawatiran akan diikuti oleh hal-hal yang tidak diinginkan. Pemikiran itulah yang kemudian menjadi benang merah dalam album terbarunya.
"Semoga Hanya di Mimpi lahir dari ketakutanku akan rasa tenang. Saat hidup berjalan normal dan baik-baik saja, justru muncul rasa waswas bahwa akan terjadi sesuatu yang tidak aku inginkan," kata Bernadya.
Perasaan tersebut juga memengaruhi proses penulisan lagu. Bernadya bahkan sempat ragu mempertahankan beberapa lirik dalam lagu Laut yang Tenang karena khawatir kata-kata yang ditulisnya dapat menjadi kenyataan.
Dalam proses penggarapan album ini, Bernadya bekerja sama dengan sejumlah produser dan penulis lagu baru. Enrico Octaviano terlibat dalam lagu Sebelum Jadi Panjang dan Laut yang Tenang, sementara Baskara Putra turut berkontribusi dalam penulisan lagu tersebut.
Kolaborasi lainnya hadir bersama Dennis Ferdinand dan grup Perunggu dalam lagu Peluk Aku Sekarang dan Vega Antares dalam lagu Menyenangkan Mengenalmu. Selain itu, Rendy Pandugo dan Petra Sihombing kembali dipercaya sebagai produser setelah sebelumnya bekerja sama di proyek-proyek terdahulu.
Bernadya mengaku harus beradaptasi dengan berbagai karakter dan metode kerja para kolaborator barunya. Meski demikian, pengalaman tersebut justru memperkaya proses kreatif dalam penyusunan album.
Dari sisi musikalitas, Semoga Hanya di Mimpi menghadirkan nuansa yang berbeda dibanding karya-karya Bernadya sebelumnya. Album ini banyak terinspirasi oleh musik Indonesia era awal 2000-an dengan dominasi instrumen organik yang dipadukan sentuhan elektronik. Bernadya mengaku banyak mendengarkan musik-musik dari era tersebut selama proses kreatif berlangsung. Salah satu album yang kerap menjadi referensinya adalah album 18 milik Audy.
Meski menawarkan warna musik baru, album ini tetap mempertahankan karakter khas Bernadya. Melalui vokal lembut dan lirik-lirik emosional yang dekat dengan pengalaman banyak orang.
Bernadya berharap Semoga Hanya di Mimpi dapat menjadi teman bagi para pendengarnya. Ia juga berharap berbagai kisah sedih dan ketakutan yang dituangkan dalam album tersebut hanya hadir dalam lagu dan mimpi, bukan dalam kehidupan nyata.
Album Semoga Hanya di Mimpi kini sudah dapat didengarkan melalui berbagai platform musik digital. Pendengar bisa menikmatinya di Spotify, Apple Music, YouTube Music dan lainnya. ils/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Ilham Sudrajat
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.