Faktor-Faktor Penentu di Balik Keberhasilan Barcelona Pertahankan Gelar La Liga

Selasa, 12 Mei 2026, 06:20 WIB

BARCELONA, SPANYOL — Barcelona sukses mempertahankan gelar La Liga setelah menaklukkan rival abadi, Real Madrid, dengan skor 2-0 dalam laga El Clasico di Camp Nou, Senin (11/5) dini hari WIB.

Tim asuhan Hansi Flick memastikan gelar juara dengan tiga pertandingan tersisa. Blaugrana bahkan unggul 14 poin atas Madrid yang berada di posisi kedua klasemen.

Ket. Foto: Para pemain Barcelona melakukan selebrasi usai memastikan juara La Liga, Senin (11/5) dini hari WIB. — Sumber: AFP

Keberhasilan Barcelona musim ini tidak hanya ditentukan oleh kualitas individu, tetapi juga kombinasi keberanian taktik, kontribusi kolektif, hingga momentum yang tepat. Berikut faktor-faktor utama di balik sukses Barca mempertahankan takhta La Liga.

Salah satu faktor terbesar di balik keberhasilan Barcelona adalah performa luar biasa wonderkid mereka, Lamine Yamal.

Winger berusia 18 tahun itu tampil menentukan terutama pada paruh kedua musim. Yamal mencetak 16 gol dan menyumbang 12 assist di La Liga, menjadikannya pemain paling produktif Barcelona musim ini.

Berbeda dengan musim lalu ketika ia lebih banyak mengandalkan dribel dan kecepatan, kali ini Yamal tampil lebih matang dan efektif di area sepertiga akhir lapangan.

Meski sempat terganggu cedera pangkal paha pada awal musim serta beberapa persoalan di luar lapangan, pemain timnas Spanyol itu tetap mampu memberi kontribusi penting.

Momentum kebangkitannya terlihat jelas pada Februari lalu saat mencetak hattrick ke gawang Villarreal. Setelah itu, performanya terus menanjak hingga membawa Barca melaju mulus menuju gelar juara.

Selain Yamal, Barcelona juga mendapat kontribusi besar dari gelandang kreatif Pedri yang kembali menunjukkan kualitasnya sebagai salah satu gelandang terbaik dunia.

Namun kekuatan utama Barca musim ini justru terletak pada kontribusi merata hampir di semua lini.

Di sektor penyerang, baik Robert Lewandowski maupun Ferran Torres memang belum tampil konsisten. Meski demikian, keduanya tetap mampu mencetak lebih dari 10 gol di liga.

Produktivitas juga datang dari Raphinha yang tetap tajam meski kerap dibekap cedera. Sementara pemain pinjaman Marcus Rashford, Fermin Lopez, dan Dani Olmo turut menyumbang kombinasi gol dan assist dua digit.

Kondisi finansial Barcelona memang belum memungkinkan mereka memiliki skuad bertabur bintang di semua posisi seperti Madrid. Namun kontribusi kolektif dari banyak pemain menjadi pembeda penting musim ini.

Nama seperti Eric Garcia dan Gerard Martin juga layak mendapat pujian setelah berhasil membungkam keraguan publik terhadap kualitas mereka.

Keberhasilan Barcelona juga tidak lepas dari inkonsistensi Real Madrid sepanjang musim.

Los Blancos memulai musim bersama Xabi Alonso dengan harapan mampu menandingi kekuatan Barca. Namun proyek tersebut berakhir lebih cepat setelah Presiden Madrid Florentino Perez memecat Alonso pada Januari.

Seperti halnya Carlo Ancelotti sebelumnya, Alonso dinilai gagal menemukan formula terbaik untuk memaksimalkan semua bintang Madrid secara bersamaan.

Kehadiran Kylian Mbappe juga belum memberi dampak maksimal. Madrid justru kerap kehilangan keseimbangan ketika Mbappe dimainkan bersama Vinicius Junior dan Jude Bellingham.

Pergantian pelatih ke Alvaro Arbeloa memang sempat memberi suasana baru di ruang ganti, tetapi Madrid tetap gagal bangkit dan kembali mengakhiri musim tanpa trofi utama.

Sementara itu, Atletico Madrid juga tidak mampu menjadi pesaing serius karena lebih fokus mengejar prestasi di kompetisi piala.

Satu perubahan penting lain datang di posisi penjaga gawang. Selama beberapa musim terakhir, performa Marc-Andre ter Stegen kerap mendapat sorotan karena dianggap tak lagi berada di level terbaiknya.

Cedera yang dialami Ter Stegen musim lalu membuat Barcelona mendatangkan veteran Polandia Wojciech Szczesny sebagai solusi darurat. Namun Barca akhirnya memutuskan mencari penjaga gawang baru dan merekrut Joan Garcia dari rival sekota, Espanyol.

Keputusan itu terbukti tepat. Joan Garcia langsung tampil impresif dan mencatatkan 15 clean sheet, terbanyak di La Liga musim ini.

Performa Garcia menjadi sangat penting mengingat pendekatan garis pertahanan tinggi ala Flick sering membuat Barcelona rentan terhadap serangan balik lawan.

Faktor lain yang ikut mendongkrak performa Barcelona adalah kembalinya mereka ke Camp Nou.

Setahun setelah jadwal semula, Barca akhirnya bisa kembali menggunakan stadion legendaris tersebut pada November 2025 meski renovasi belum sepenuhnya selesai.

Barcelona membuka era baru Camp Nou dengan kemenangan telak 4-0 atas Athletic Bilbao, hasil yang meningkatkan kepercayaan diri tim dan membuat mereka sejajar dengan Madrid di puncak klasemen saat itu.

Sejak kembali ke Camp Nou, Barcelona belum terkalahkan di kandang pada ajang La Liga musim ini. Blaugrana bahkan berpeluang menutup musim tanpa kehilangan satu poin pun di kandang jika mampu mengalahkan Real Betis pada laga kandang terakhir mereka.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.