Vida Rilis ID FraudShield, Solusi Deteksi Penipuan Identitas dengan Sistem Keamanan Berlapis
Minggu, 10 Mei 2026, 17:57 WIBJAKARTAâ Perusahaan identitas digital dan pencegahan penipuan asal Indonesia, Vida, resmi meluncurkan ID FraudShield, solusi teknologi deteksi penipuan identitas yang menggabungkan verifikasi biometrik, analisis perangkat, serta deteksi fraud secara real-time dalam satu sistem terpadu.
Peluncuran teknologi ini digelar di Jakarta pada Kamis (8/5/2026) dan turut dihadiri oleh perwakilan Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi RI). Kehadiran solusi tersebut menjadi respons atas meningkatnya ancaman penipuan digital yang kini semakin kompleks, seiring berkembangnya teknologi manipulasi identitas dan serangan siber di sektor keuangan.
Direktorat Jenderal Ekosistem Digital Komdigi RI, Edwin Hidayat Abdullah, menegaskan bahwa ancaman penipuan digital di Indonesia sudah berada pada level yang membutuhkan penanganan kolektif lintas sektor.
Ia mengungkapkan, berdasarkan data yang dimiliki pemerintah, sebanyak 65 persen masyarakat Indonesia menerima upaya penipuan atau scam setidaknya sekali dalam seminggu, baik melalui email, SMS, WhatsApp, panggilan telepon, maupun media sosial.
âAngka sebesar ini tidak mungkin ditangani oleh satu pihak saja. Dibutuhkan pendekatan yang terintegrasi dan kolaboratif, mencakup kebijakan yang kuat, peran aktif berbagai institusi, serta dukungan teknologi yang mumpuni,â ujar Edwin melalui keterangannya pada hari Jumat (8/5).
Menurut dia, pemerintah memang memiliki peran penting dalam membangun kerangka regulasi, kelembagaan, serta pengawasan. Namun perlindungan digital yang efektif hanya dapat terwujud melalui sinergi seluruh ekosistem, termasuk pelaku industri keamanan identitas digital seperti Vida.
Peluncuran ID FraudShield dilatarbelakangi oleh perubahan pola serangan penipuan digital yang kini tak lagi hanya berfokus pada pemalsuan wajah atau manipulasi visual.
Selama bertahun-tahun, teknologi liveness detection atau deteksi kehadiran pengguna secara langsung menjadi standar utama dalam proses verifikasi identitas digital. Teknologi ini dirancang untuk memastikan bahwa proses autentikasi dilakukan oleh manusia sungguhan, bukan menggunakan foto, video, atau manipulasi visual berbasis kecerdasan buatan seperti deepfake.
Namun menurut Vida, lanskap ancaman digital kini telah berevolusi.
Pelaku kejahatan siber mulai memanfaatkan teknik yang jauh lebih canggih dan sulit dideteksi jika hanya mengandalkan verifikasi biometrik konvensional.
Beberapa metode yang kini marak digunakan antara lain injection attack, yakni teknik penyisipan gambar atau video palsu langsung ke sistem verifikasi tanpa melalui kamera perangkat. Dengan metode ini, pelaku dapat mengelabui sistem seolah-olah data berasal dari pengguna asli.
Selain itu, pelaku juga memanfaatkan emulator farm, yaitu penggunaan ribuan perangkat virtual untuk menciptakan identitas dan aktivitas digital palsu dalam skala besar.
Tak hanya itu, metode GPS spoofing juga digunakan untuk memalsukan lokasi pengguna agar tampak sesuai dengan wilayah operasional layanan tertentu.
Berbagai teknik tersebut dirancang khusus untuk melewati sistem pemeriksaan biometrik tradisional tanpa terdeteksi.
Founder dan Group CEO Vida, Niki Luhur, mengatakan bahwa pendekatan keamanan digital saat ini tidak lagi bisa bergantung pada satu lapisan verifikasi.
âUntuk menangani metode penipuan modern, satu lapisan verifikasi saja tidak lagi cukup. Ada tiga faktor yang harus diverifikasi secara bersamaan, yakni orangnya, identitasnya, dan perangkat yang digunakan,â ujar Niki.
Menurut dia, ID FraudShield dirancang untuk membantu perusahaan mengevaluasi ulang profil risiko penipuan digital sekaligus memperkuat strategi mitigasi yang lebih komprehensif.
âID FraudShield adalah solusi bagi perusahaan untuk mengkalkulasikan lagi risiko penipuan dan bagaimana menanganinya,â katanya.
Secara teknis, teknologi ini bekerja dengan mengoperasikan dua mesin analitik secara bersamaan dalam satu proses verifikasi.
Mesin pertama adalah Biometric Liveness Detection, yang berfungsi memastikan keberadaan manusia nyata dalam proses autentikasi.
Sistem ini mampu mendeteksi dan mencegah berbagai bentuk manipulasi visual seperti deepfake, spoofing, serta screen replay, yakni upaya menampilkan ulang rekaman wajah melalui layar perangkat untuk mengelabui sistem seolah-olah pengguna sedang melakukan verifikasi secara langsung.
Sementara mesin kedua adalah ID FraudShield Engine, yang menganalisis sinyal perangkat dan perilaku pengguna secara real-time.
Engine ini mengevaluasi berbagai indikator risiko dalam setiap sesi verifikasi dan menghasilkan skor risiko, mulai dari kategori low risk hingga critical risk.
Dua engine tersebut kemudian membentuk sistem pertahanan berlapis yang terdiri dari enam komponen utama.
Lapisan pertama adalah Biometric Liveness, yang memastikan interaksi dilakukan oleh manusia asli. Lapisan kedua, Device Intelligence, bertugas menganalisis perangkat yang digunakan, termasuk mendeteksi emulator, perangkat yang telah dimodifikasi, aplikasi hasil kloning, hingga aktivitas mencurigakan.
Lapisan ketiga adalah Behavioral Analytics, yang memantau pola perilaku pengguna selama proses pengisian data dan verifikasi. Sistem ini dapat mengenali pola interaksi tidak wajar yang sering kali menjadi indikasi aktivitas fraud.
Lapisan keempat, Network & Location Intelligence, digunakan untuk mendeteksi penggunaan VPN, proxy, GPS palsu, maupun ketidaksesuaian antara lokasi dan jaringan pengguna. Lapisan kelima adalah Rule Engine, yang mengevaluasi seluruh indikator risiko secara simultan dan mengklasifikasikan tingkat ancaman dalam waktu nyata.
Sementara lapisan keenam, ID Graph atau Network Intelligence, berfungsi menghubungkan data perangkat, dokumen, serta biometrik untuk mengidentifikasi pola penipuan terorganisir.
Teknologi ini memungkinkan sistem mendeteksi keberadaan sindikat penipuan online, synthetic identity, device farms, hingga rekening perantara atau mule account yang sering digunakan dalam pencucian dana hasil kejahatan digital.
Vida menyebut solusi ini dikembangkan untuk menjawab kebutuhan sektor keuangan yang kini menghadapi tantangan fraud semakin kompleks. Sektor yang menjadi target utama implementasi mencakup perbankan, multifinance, pinjaman digital, perusahaan asuransi, hingga platform pembayaran elektronik.
Menurut perusahaan, ID FraudShield memungkinkan institusi mendeteksi risiko lebih cepat tanpa mengorbankan kenyamanan pengguna maupun kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku. Niki menambahkan, pengembangan solusi ini didasarkan pada pengalaman nyata perusahaan dalam menemukan celah pada sistem verifikasi identitas digital yang selama ini digunakan industri.
âKami membangun solusi ini karena melihat sendiri bagaimana penipuan bisa lolos dari liveness tanpa terdeteksi. Di saat yang sama, banyak perusahaan sebenarnya kurang memiliki visibilitas untuk mengenali risiko tersebut,â ujarnya.
Melalui peluncuran ini, Vida berharap dapat membantu pelaku industri membangun sistem pertahanan digital yang lebih adaptif terhadap pola ancaman yang terus berkembang.
âLewat teknologi ini, kami ingin membantu industri mendeteksi fraud yang sebelumnya tidak terlihat,â tutup Niki.
Peluncuran ID FraudShield menandai langkah baru dalam penguatan ekosistem keamanan identitas digital di Indonesia, di tengah meningkatnya kebutuhan perlindungan terhadap ancaman penipuan berbasis teknologi yang semakin canggih dan sulit dikenali dengan pendekatan konvensional.
- Keamanan Siber
- Vida
- teknologi finansial (tekfin)
- identitas digital
- fraud detection
- Keamanan Digital
- ID FraudShield
- Penipuan Identitas
- Verifikasi Biometrik
- Liveness Detection
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Presiden Turki Erdogan Tak Diundang KTT Uni Eropa di Siprus
-
Pemerintah Amankan Ketersediaan Pupuk Subsidi Antisipasi DampaK Konflik Timur Tengah
-
Infrastruktur Siap AI Penting untuk Dorong Ekonomi Digital Indonesia
-
Dari Kalimantan untuk Indonesia, PHI Cetak Rekor Produksi Migas Lewati Target TW I 2026
-
Nurlaela, Guru SD di Jakarta Timur, Jadi Korban Tabrakan Kereta Bekasi Timur
-
Memanas Lagi, Brazil Cabut Surat Kepercayaan Pejabat AS Pasca Pengusiran Pejabatnya
-
Ratusan Petugas Damkar Berupaya Atasi Kebakaran Hutan di Jepang
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.