- Home
-
- Luar Negeri
-
- Peraih Nobel Perdamaian Na...
Peraih Nobel Perdamaian Narges Mohammadi Terancam Meninggal di Tahanan Iran
Rabu, 06 Mei 2026, 06:25 WIBPARIS â Aktivis Iran sekaligus peraih Hadiah Nobel Perdamaian, Narges Mohammadi, yang saat ini dipenjara, terancam meninggal dunia jika tidak segera mendapatkan perawatan medis yang memadai setelah diduga mengalami dua serangan jantung dalam beberapa pekan terakhir, demikian peringatan para pendukungnya pada Selasa (5/5).
Perwakilan komite pendukungnya yang berbasis di Paris menyatakan bahwa Mohammadiâyang meraih Nobel Perdamaian 2023 atas perjuangannya selama puluhan tahun dalam membela hak asasi manusia di Iranâmengaku tengah berjuang untuk hidupnya setelah dirawat di rumah sakit selama lima hari terakhir di bawah penjagaan ketat akibat kondisi jantungnya.
âKami tidak hanya berjuang untuk kebebasan Narges, kami juga berjuang agar jantungnya terus berdetak,â ujar pengacaranya, Chirinne Ardakani, dalam konferensi pers, seraya menambahkan bahwa kliennya kini berada âdi antara hidup dan matiâ.
Ia membandingkan kondisi Mohammadi dengan pembangkang China peraih Nobel, Liu Xiaobo, yang meninggal dalam tahanan pada 2017, serta pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny yang meninggal di kamp penjara Rusia pada 2024.
Perwakilan organisasi kebebasan pers Reporters Without Borders, Jonathan Dagher, mengatakan ini adalah pertama kalinya mereka menyatakan bahwa kondisi Mohammadi benar-benar kritis dan berisiko meninggal.
âKita harus bertindak sebelum terlambat,â ujarnya.
Kondisi Memburuk
Mohammadi (54), yang selama dua dekade terakhir keluar-masuk penjara karena aktivitasnya, terakhir kali ditangkap pada Desember setelah mengkritik Republik Islam Iran saat menghadiri pemakaman seorang pengacara.
Menurut pendukungnya, ia mengalami dua dugaan serangan jantungâpada 24 Maret dan 1 Meiâsaat ditahan di penjara Zanjan, Iran utara.
Setelah insiden terbaru, ia segera dilarikan ke rumah sakit di Zanjan, namun tetap berada di bawah pengawasan ketat aparat.
Pengacaranya menyebut kondisi kesehatannya mengalami âpenurunan yang belum pernah terjadi sebelumnyaâ.
âKami belum pernah merasa setakut ini terhadap nyawa Nargesâdia bisa pergi kapan saja,â ujarnya.
Mohammadi dilaporkan telah kehilangan 20 kilogram berat badan di penjara, mengalami kesulitan berbicara, dan kini ânyaris tidak dapat dikenaliâ dibandingkan sebelum penahanan terakhirnya.
Kondisinya juga disebut terdampak konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, dengan setidaknya tiga serangan udara terjadi di dekat penjara tempat ia ditahan.
Para pendukungnya mendesak agar Mohammadi dipindahkan ke Teheran untuk mendapatkan perawatan dari tim medis pribadinya, namun hingga kini belum ada tanda-tanda pemindahan tersebut.
Kecaman Internasional
Dalam pernyataan terpisah, Sekretaris Jenderal Amnesty International menyebut otoritas Iran telah mempertaruhkan nyawa Mohammadi dengan menolak memberikan akses perawatan medis yang memadai.
Sekjen Amnesty, Agnes Callamard, menyebut Mohammadi sebagai âtahanan hati nuraniâ yang tidak mendapatkan perawatan medis spesialis yang sangat dibutuhkan di luar penjara.
Anak kembar Mohammadi, Ali dan Kiana Rahmani, yang kini tinggal di Paris, belum bertemu dengan ibunya selama lebih dari satu dekade dan bahkan menerima Hadiah Nobel atas namanya saat ia masih dipenjara.
âPerawatan yang diberikan sangat minim dan selalu dalam penjagaan. Ini bukan pengobatan,â ujar putrinya, Kiana, dalam pernyataan yang dibacakan di konferensi pers.
Pengacara Mohammadi juga mendesak pemerintah Prancis, termasuk Presiden Emmanuel Macron, untuk mengambil sikap lebih tegas dalam kasus ini.
Mohammadi dikenal sebagai pendukung kuat gelombang protes 2022â2023 yang dipicu kematian Mahsa Amini dalam tahanan.
Selain menentang hukuman mati dan kewajiban jilbab bagi perempuan, ia juga kerap memprediksi runtuhnya sistem pemerintahan ulama yang berkuasa di Iran sejak Revolusi Islam 1979.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Andes
Berita Terkait:
-
Pemimpin Oposisi Perempuan asal Venezuela, Maria Corina Machado, Raih Nobel Perdamaian 2025
-
Panama Ambil Alih Kendali Pelabuhan Terusan Panama dari Kelompok Asal Hong Kong, AS Menyambut Baik
-
Ini Waktu Terbaik Minum Kopi untuk Mudahkan BAB
-
KKP Kembangkan Kampung Nelayan Modern Menjadi Kampung Merah Putih
-
Inilah Sosok Maria Corina Machado: Pejuang Demokrasi Venezuela yang Menang Hadiah Nobel Perdamaian 2025
-
Institut Nobel Selidiki Dugaan Bocornya Nama Penerima Nobel Perdamaian
-
Pemenang Nobel Perdamaian Berhasil Lolos dengan Perahu dari Venezuela untuk Menerima Penghargaan di Norwegia
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.