Dihantam Dumping China, Industri Petrokimia RI Terancam: Pemerintah Diminta Percepat Beri Perlindungan
Rabu, 06 Mei 2026, 13:00 WIBJAKARTA â Industri petrokimia nasional menghadapi tekanan berat akibat praktik dumping dan kelebihan pasokan global. Ketua Umum Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Suhat Miyarso menyebut, banjir impor murah telah menggerus daya saing produsen dalam negeri, terutama bijih plastik.
âPermasalahan impor dalam industri petrokimia nasional telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir, yang dipicu oleh ketidakseimbangan antara produksi dan suplai di tingkat global,â ujar Suhat dalam diskusi âKrisis Energi Global dan Ancaman Dumping: Saatnya Perkuat Industri Kimia Nasionalâ yang digelar Forwin di Jakarta, Selasa (5/5), Selasa (5/5).
Menurutnya, kondisi oversupply dunia menekan industri lewat dua jalur: penurunan harga dan praktik dumping. Produsen luar negeri menggunakan bahan baku alternatif dengan biaya paling murah, sehingga mampu membanting harga di pasar Indonesia.Â
âSumber tekanan utama berasal dari produk impor yang berasal dari China dan Timur Tengah,â tegas Suhat. Volume impor yang terus naik dengan harga rendah membuat industri domestik semakin berat bersaing.
Overkapasitas Tiongkok
Suhat menjelaskan, penyebab utama krisis ini adalah agresivitas Tiongkok membangun fasilitas produksi petrokimia. Tercatat ada 23 proyek baru dengan kapasitas 50 juta ton etilena untuk bahan baku plastik. Ekspansi besar-besaran itu menciptakan overkapasitas global.
âSerbuan produk Tiongkok memicu ancaman kolaps bagi pelaku industri petrokimia nasional dan menghambat realisasi investasi baru di sektor ini,â katanya.
Menyikapi kondisi itu, Inaplas sejak dua tahun terakhir sebenarnya telah mengajukan instrumen trade remedies berupa anti-dumping dan safeguard ke pemerintah. Namun hingga kini belum ada realisasi.Â
Industri mendesak pemerintah mempercepat penyelidikan dan pengenaan Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD) untuk melindungi kelangsungan usaha domestik. âTanpa intervensi yang memadai, kondisi tekanan akibat impor dan praktik dumping berpotensi kembali terulang di masa mendatang,â ujar Suhat.
Adapun praktik dumping Tiongkok tidak hanya menghantam Indonesia. Negara lain seperti Korea Selatan juga sudah melakukan penyelidikan terhadap impor produk petrokimia dari Tiongkok.
Dalam konteks krisis global yang tengah berlangsung, Suhat berharap pemerintah segera mengambil langkah strategis. Penerapan kebijakan anti-dumping dan safeguard guna melindungi serta memperkuat industri petrokimia nasional.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Membludak! Ratusan Ribu Orang Serbu IKN Maret–April 2026
-
Geopolitik Memanas, Industri Petrokimia Masuk “Survival Mode”
-
Titik Soeharto Tegaskan Overkapasitas Kapal Ganggu Operasional Pelabuhan Muara Angke
-
Revitalisasi Anjungan DKI TMII Gunakan Dana KLB Tanpa APBD
-
Industri Petrokimia Alami Tekanan, Inaplas Dorong Diversifikasi Bahan Baku untuk Kemandirian
-
Kemenbud Dukung Peringatan Hari Wayang Dunia 2026
-
Dari Nafta ke LPG, Industri Petrokimia Cari Jalan Alternatif Keluar dari Tekanan Geopolitik
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.