Industri Petrokimia Alami Tekanan, Inaplas Dorong Diversifikasi Bahan Baku untuk Kemandirian
Rabu, 06 Mei 2026, 12:30 WIBJAKARTA â Tekanan geopolitik global yang berkepanjangan mulai menggerus daya tahan industri petrokimia nasional. Merespons situasi itu, Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) mendorong diversifikasi bahan baku atau feedstock demi menciptakan kemandirian industri.
Ketua Umum Inaplas, Suhat Miyarso mengatakan, diversifikasi jadi kunci agar industri tetap bertahan dan menekan ketergantungan impor bahan baku utama seperti nafta. âKrisis yang terjadi saat ini dipicu oleh dinamika geopolitik global yang memberikan banyak tekanan mulai dari suplai bahan baku hingga alur distribusi yang berdampak pada industri plastik dan petrokimia,â kata Suhat dalam diskusi âKrisis Energi Global dan Ancaman Dumping: Saatnya Perkuat Industri Kimia Nasionalâ yang digelar Forwin di Jakarta, Selasa (5/5).
Wakil Ketua Umum Inaplas, Edi Rivai menambahkan, tekanan terhadap petrokimia bukan sekadar jangka pendek. Kondisi ini sudah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir pascapandemi COVID-19. Overkapasitas global, terutama dari Timur Tengah dan China, juga menekan pasar.
Menghadapi hal itu, industri melakukan reposisi strategi dengan mengoptimalkan alternatif bahan baku. Meski nafta masih dominan, LPG dan kondensat mulai dipakai. LPG sudah dimanfaatkan sebagai bahan blending dengan porsi tertentu untuk efisiensi biaya, jelas Edi.
Edi menegaskan, meski biaya produksi naik, industri petrokimia nasional masih bertahan. âHingga saat ini belum terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor tersebut,â ujarnya.
Untuk penguatan jangka panjang, Inaplaa meminta pemerintah memperluas sumber bahan baku. Tidak hanya bergantung pada minyak bumi, tetapi juga methanol, batu bara, gas, hingga bio-feedstock.
Strategi Jangka PanjangÂ
Sekretaris Jenderal Inaplas Fajar Budiono menyebut diversifikasi sebagai strategi jangka panjang menjaga keberlangsungan industri. Menurutnya, Indonesia sudah punya kapasitas produksi nafta, namun saat ini masih diprioritaskan untuk sektor energi.
Fajar menambahkan, pelaku industri kini berada di fase bertahan. Ke depan diharapkan bisa bertransisi ke operasional yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Tekanan impor dan praktik dumping juga jadi tantangan serius. Banjir produk impor murah akibat kelebihan pasokan global menekan daya saing produsen dalam negeri. Karena itu, Inaplas mengajukan instrumen trade remedies berupa anti-dumping dan safeguard untuk melindungi industri.
Selain itu, kebijakan bea masuk LPG 0% dinilai positif mendukung diversifikasi bahan baku. Namun pemanfaatannya masih terbatas dan belum sepenuhnya kompetitif dibanding nafta.
Inaplas optimistis kondisi industri membaik dalam beberapa bulan ke depan seiring mulai pulihnya suplai bahan baku.
- Industri Petrokimia
- Gejolak Geopolitik
- Dampak Perang AS-Iran
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Efisiensi Jadi Kunci, Bos PHE Buka-bukaan Strategi Investasi Migas di Tengah Geopolitik Panas
-
Awal Tahun Langsung Ngebut! Sektor Digital Sumbang Rp4,48 Triliun ke Penerimaan Pajak
-
AS Bikin Aturan Ketat: Pemain Iran Wajib Angkat Kaki Usai Pertandingan
-
SPMB Wujudkan Pendidikan Inklusif Berkeadilan
-
Dandim 1710/Mimika Tinjau Lokasi Sasaran TMMD Ke-128 TA 2026 di Mimika Tengah
-
Liga Inggris: Arsenal Tersandung, Liverpool Jaga Asa Lolos ke Liga Champions
-
Geopolitik Memanas, Industri Petrokimia Masuk “Survival Mode”
Satlap Tri Cakti dan Satgas Gabungan Gagalkan Penyelundupan Bijih Timah Ilegal Senilai Rp1,8 Miliar.
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.