Ukuran Menyusut, Harapan Tak Surut: Kisah Perajin Tempe di Ponorogo Hadapi Harga Kedelai

Selasa, 05 Mei 2026, 18:00 WIB

PONOROGO – Di sudut-sudut dapur produksi di Kabupaten Ponorogo, perubahan kecil pada tempe ternyata menyimpan cerita besar tentang daya tahan usaha rakyat.

Balok-balok tempe yang dulu tampak tebal dan padat kini hadir dalam ukuran yang lebih ringkas. Bukan tanpa alasan—para perajin sedang bernegosiasi dengan realitas baru: harga kedelai impor yang terus merangkak naik.

Ket. Foto: Hadi Prayitno memproduksi tempe di Desa Ronosentanan, Kecamatan Siman, Ponorogo, Jawa Timur. — Sumber: Antara/ Prastyo

Bagi perajin, kedelai bukan sekadar bahan baku, melainkan penentu hidup-mati usaha. Ketika harga melonjak, pilihan menjadi serba sulit: menaikkan harga jual berisiko kehilangan pelanggan, sementara mempertahankan harga berarti memangkas keuntungan.

Di tengah dilema itu, strategi memperkecil ukuran menjadi jalan tengah yang paling realistis. Konsumen tetap bisa membeli dengan harga yang relatif terjangkau, sementara perajin masih menjaga marjin agar usaha tetap berputar.

Langkah ini mencerminkan elastisitas adaptasi pelaku UMKM dalam menghadapi tekanan eksternal. Alih-alih berhenti produksi, mereka mengubah pendekatan—mengatur ulang komposisi, ukuran, hingga efisiensi proses.

Namun di balik ketahanan itu, terselip kerentanan struktural: ketergantungan pada kedelai impor membuat pelaku usaha domestik sangat sensitif terhadap fluktuasi global.

Cerita tempe di Ponorogo bukan sekadar soal ukuran yang menyusut, tetapi tentang bagaimana ekonomi mikro berjuang menjaga keseimbangan di tengah gelombang besar pasar internasional.

Sebuah pengingat bahwa di balik setiap potong tempe yang tersaji di meja makan, ada strategi, kompromi, dan ketekunan yang terus diuji hari demi hari.

Salah satu perajin tempe di Desa Ronosentanan, Kecamatan Siman, Hadi Prayitno, saat ditemui di Ponorogo, Senin (4/5), mengatakan kenaikan harga kedelai dan bahan pendukung seperti plastik kemasan membuat biaya produksi meningkat.

“Kalau harga dinaikkan pembeli bisa berkurang, jadi kami kurangi ukuran tempe,” ujarnya.

Ia menjelaskan sebelum harga kedelai naik, kapasitas produksi mencapai sekitar tiga kuintal per hari. Namun, kini produksi turun menjadi 2 kuintal hingga 2,5 kuintal per hari.

Pengurangan dilakukan dengan menyesuaikan berat tempe dalam setiap bungkus.

Jika sebelumnya sekitar 380 gram, kini tial bungkus tempe menjadi sekitar 350 gram, mengingat harga jual tetap dipertahankan.

“Untuk harga masih sama, hanya beratnya yang sedikit dikurangi,” katanya.

Hadi menambahkan dirinya tetap menggunakan kedelai impor karena ketersediaan kedelai lokal terbatas dan hasil produksinya dinilai lebih banyak.

Sementara itu, pedagang kedelai di Pasar Legi Ponorogo, Rafli, menyebut harga kedelai impor saat ini naik dari Rp10 ribu menjadi Rp12 ribu per kilogram.

“Kenaikan terjadi sejak konflik di Timur Tengah, harapannya harga bisa kembali stabil,” ujarnya.

Ia menambahkan kenaikan harga juga terjadi pada kedelai lokal yang kini berada di kisaran Rp12 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp9 ribu.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

Berita Terbaru

Karhutla Menggila! Kalsel Bentuk Tim Khusus untuk Tangani 3 Lokasi Prioritas

Tinggalkan Kemacetan Horor! Proyek Kereta Parung Panjang-Jasinga Siap Tembus 6 Stasiun Baru!

Pascakebakaran, 120 Bangunan di Desa Adat Sade Lombok Hangus Terbakar

Bupati Bogor Beri Kejutan! Tim Angklung HUT RI Diboyong Jalan-Jalan ke Taman Safari

Bikin Anak Pengungsi Tersenyum, Polri Gelar Trauma Healing Pascagempa Manggarai

Jonatan Nomor Satu Dunia Tunggal Putra Bulu Tangkis

Tebing Gunung Gajah, Menantang dan Keras Kepala tetapi Luar Biasa Indah

PSG Nyaris Tumbang, Dua Gol Ferran Torres Bawa Pulang Poin dari Rennes

Karhutla dan Asap Jadi Ancaman, Wamenko Dorong Penanganan yang Lindungi Kesehatan

Gagal Juara Bukan Akhir! Timo Apresiasi Mental Tangguh Timnya

Ratu Tisha Ungkap Mimpi Besar Timnas Indonesia: Harus Punya Mental Baja!

Tiongkok Mendadak Tunda Misi Bulan Chang’e-7, Ada Masalah Usai Roket Meledak

Antisipasi Gempa Susulan, Misa Digelar di Halaman Gereja

ISPA Jadi Keluhan Terbanyak di Pengungsian Gempa NTT, Posko Kesehatan Disiagakan

Kemarau Panjang, Debit Situ Cileunca Menyusut dan Ganggu Pasokan Air Bersih Bandung Raya

Jangan Lupa Kenakan Masker! Kualitas Udara Jakarta Senin Pagi Tak Sehat, Warga Diminta Waspada

Luar Biasa Barcelona Bantai Elche 5-0! Raphinha dan Fermin Sama-Sama Cetak Brace

Motor Pedagang di Kelapa Gading Hilang Akibat Ditipu, Modusnya Bikin Kaget

Kabar Besar untuk Warga Bogor Barat, Pemkab Bocorkan Rancang 6 Stasiun Baru

Drama 4 Gol dan Kartu Merah! Atletico Madrid Gagal Menang atas Villarreal

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.