• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Mikroplastik di Atmosfer T...

Mikroplastik di Atmosfer Ternyata Memanaskan Bumi, Perubahan Iklim Bisa Makin Parah

Selasa, 05 Mei 2026, 06:15 WIB

Shanghai - Mikroplastik di atmosfer ternyata ikut memanaskan planet dan memperparah dampak perubahan iklim, menurut penelitian terbaru.

Dilansir dari The Straits Times, para ilmuwan di Tiongkok dan Amerika Serikat menemukan bahwa partikel plastik kecil berwarna dapat  menyerap sinar matahari saat terbawa angin mengelilingi dunia, menjebak panas, dan berkontribusi pada kenaikan suhu bumi. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Nature Climate Change pada 4 Mei.

Ket. Foto: Pemandangan salju Pegunungan Qilian di Kabupaten Tianzhu, Kota Wuwei, Provinsi Gansu, China barat laut, sebagaimana foto drone pada 15 Januari 2025. — Sumber: Antara

“Masalah plastik bukan hanya ada di lautan biru kita, tetapi juga di langit tak terlihat di atas kita,” kata Profesor Hongbo Fu, penulis studi sekaligus ilmuwan atmosfer dari Universitas Fudan, Shanghai, dalam konferensi pers. “Model iklim perlu diperbarui.”

Hasil eksperimen laboratorium dan pemodelan atmosfer menunjukkan bahwa polusi plastik di udara memiliki 16,2 persen dampak pemanasan dibandingkan karbon hitam (black carbon), yang merupakan penyumbang pemanasan global terbesar kedua setelah karbon dioksida.

Meski dampaknya kecil secara global, efeknya bisa signifikan di wilayah dengan konsentrasi plastik tinggi, seperti sebagian Samudra Pasifik. Di wilayah tersebut, partikel plastik bahkan memiliki dampak 4,7 kali lebih besar dibanding karbon hitam.

Menyerap Sinar

Sebelumnya, ilmuwan telah menemukan nanoplastik dan mikroplastik di atmosfer, dengan ukuran mulai dari sepermiliar hingga sepersejuta meter. Limbah plastik yang masuk ke laut atau daratan akan terurai menjadi partikel lebih kecil akibat paparan sinar matahari, lalu terbawa angin ke atmosfer dan melayang di arus udara.

Dunia saat ini dipenuhi sampah plastik dan dampaknya terhadap lingkungan, satwa liar, dan kesehatan manusia terus diteliti. Namun, penelitian sebelumnya menyebutkan mikroplastik memiliki dampak kecil terhadap pemanasan global karena partikel plastik berwarna putih cenderung memantulkan sinar matahari.

Namun, tim Universitas Fudan menemukan bahwa sebagian besar partikel plastik di atmosfer justru berwarna dan menyerap panas. Profesor Drew Shindell dari Universitas Duke, yang juga penulis studi, mengatakan penelitian ini berhasil mengukur secara lebih presisi bagaimana partikel dengan warna berbeda menyerap sinar matahari.

Ia menjelaskan bahwa partikel plastik di atmosfer umumnya sudah berwarna gelap atau berubah menjadi lebih gelap seiring waktu. “Efek akhirnya adalah pemanasan,” kata Shindell.

Dampak ini paling besar terjadi di wilayah dengan konsentrasi polusi plastik tinggi, seperti “Great Pacific Garbage Patch” yang berukuran sebesar negara bagian Texas dan berada di antara California dan Jepang.

Badai topan dan siklon tropis juga dapat menciptakan “titik panas” atmosfer, karena angin kuat mengangkat lebih banyak partikel plastik ke udara dan memengaruhi pola iklim regional. Misalnya, topan super pada tahun 2023 menyebabkan peningkatan hampir 51 persen konsentrasi nanoplastik di atmosfer.

Para ilmuwan menyebut dampak cuaca ekstrem tersebut kemungkinan kuat tetapi bersifat sementara di wilayah terdampak.

Namun, jumlah pasti pemanasan yang disebabkan plastik masih sulit dipastikan karena keterbatasan pengukuran konsentrasi partikel di atmosfer global serta laju masuknya dari laut dan daratan. Artinya, dampaknya terhadap perubahan iklim bisa saja lebih besar atau lebih kecil dari perkiraan.

“Kita membutuhkan lebih banyak pengukuran dari seluruh dunia untuk benar-benar memahami seberapa banyak partikel ini di atmosfer,” kata Shindell.

  • Dampak Perubahan Iklim

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Andes Tanjung

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.