Biaya Produksi Industri Semakin Meningkat

Selasa, 05 Mei 2026, 01:00 WIB

Pelaku industri menghadapi beban produksi yang lebih tinggi, sehingga sebagian produsen terpaksa menyesuaikan harga jual atau menahan tingkat produksi.

Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan pelemahan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada April 2026 dipicu oleh gangguan pasokan global akibat dinamika geopolitik.

Ket. Foto: Kementerian Perindustrian (Kemenperin) — Sumber: istimewa

Berdasarkan data S&P Global, PMI manufaktur Indonesia turun ke level 49,1 pada April 2026 dari 50,1 pada Maret, yang menunjukkan kontraksi.

“Pelemahan angka PMI tersebut merupakan dampak dari dinamika global, khususnya konflik geopolitik yang memicu gangguan pasokan dan lonjakan harga komoditas serta biaya logistik. Hal ini tentu berdampak langsung pada aktivitas produksi industri nasional,” kata Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif, sebagaimana diberitakan Antara, di Jakarta, Senin (4/5).

Ia menjelaskan, gangguan rantai pasok dan kenaikan biaya produksi menjadi faktor utama penurunan kinerja industri. Pemerintah, kata dia, telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, termasuk penguatan rantai pasok, substitusi impor, hingga peningkatan penggunaan produk dalam negeri.

Kemenperin juga mendorong skema Local Currency Transaction (LCT) untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang asing serta mempercepat transformasi industri kecil dan menengah.

“Pada akhirnya, semua upaya ini ditujukan untuk ketahanan dan kemandirian industri nasional serta mempertahankan utilisasi produksi, sehingga bisa melindungi pekerja industri dari pengurangan tenaga kerja atau PHK,” ujarnya.

Selain itu, pemerintah tengah menyiapkan usulan insentif dan kebijakan perlindungan tambahan bagi industri dalam negeri untuk menghadapi tekanan global.

“Bapak Menteri Perindustrian sedang menyiapkan usulan insentif baru dan kebijakan perlindungan industri dalam negeri dalam menghadapi dampak gejolak geopolitik,” kata Febri.

Menurut data S&P Global, tekanan manufaktur juga terjadi di sejumlah negara Asean, dengan tingkat yang berbeda. Vietnam masih tumbuh di level 50,5, Malaysia 51,6, sementara Filipina mengalami kontraksi di 48,3.

Dengan PMI 49,1, Indonesia berada pada kategori kontraksi moderat, namun masih relatif lebih baik karena ditopang permintaan domestik.

“Posisi Indonesia yang berada pada kontraksi moderat menunjukkan bahwa sektor manufaktur nasional relatif resilien di tengah tekanan global,” ujar Febri.

Potensi Lanjutan

Secara terpisah, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai kontraksi PMI Indonesia dipengaruhi kuat oleh gangguan rantai pasok global dan tekanan biaya produksi.

“Kita melihat divergensi yang sangat jelas antara negara maju dan Asean. Amerika Serikat dan Jepang justru mengalami akselerasi manufaktur karena fenomena safety stock building, sementara Asean, termasuk Indonesia, mulai tertekan oleh inflasi biaya dan gangguan rantai pasok,” ujarnya.

Ia menyebut kenaikan biaya bahan baku akibat konflik geopolitik mendorong inflasi biaya produksi ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

“Ini adalah textbook case dari cost-push inflation. Ketika biaya naik terlalu cepat, produsen tidak punya pilihan selain mengurangi output atau meneruskan harga ke konsumen,” katanya.

Meski terdapat sedikit kenaikan pesanan baru, ia menilai hal tersebut belum mencerminkan pemulihan permintaan yang kuat.

“Kenaikan order lebih bersifat front-loading, bukan karena demand yang benar-benar kuat,” tambahnya.

Fakhrul juga menyoroti potensi tekanan lanjutan terhadap inflasi konsumen, meski inflasi April tercatat masih terkendali di 2,42 persen secara tahunan.

“Tekanan di level produsen sudah mulai naik signifikan, sehingga ada potensi pass-through ke inflasi konsumen dalam beberapa bulan ke depan,” ujarnya.

Ia menilai kondisi saat ini menuntut kebijakan yang lebih hati-hati karena sektor riil melemah di tengah tekanan harga yang meningkat.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.