Sampah Jadi Energi! Kaltim Genjot Pasokan untuk PSEL di Samarinda dan Balikpapan
Senin, 04 Mei 2026, 13:20 WIBSamarinda â Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur menyiapkan pasokan sampah hingga 1.270 ton per hari untuk mendukung operasional proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di dua wilayah aglomerasi, yakni Samarinda Raya dan Balikpapan Raya.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Kaltim, Andi Sitti Asti Suriaty, menjelaskan pasokan tersebut terdiri atas 710 ton per hari dari aglomerasi Samarinda Raya dan 560 ton per hari dari Balikpapan Raya.
âPasokan tersebut terbagi dalam dua zona besar, yakni Samarinda Raya 710 ton per hari dan Balikpapan Raya 560 ton per hari,â ujarnya di Samarinda, Senin (4/5).
Skema Pasokan dan Wilayah Aglomerasi
Untuk wilayah Samarinda Raya, sampah berasal dari:
- Kota Samarinda: 660 ton/hari
- Kabupaten Kutai Kartanegara: 50 ton/hari
Sementara Balikpapan Raya mencakup:
- Kota Balikpapan
- Wilayah pesisir Kutai Kartanegara (20 ton/hari)
- Kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN)
DLH Kaltim telah memfasilitasi diskusi teknis serta penandatanganan kerja sama pada April lalu. Tim gabungan lintas kementerianâtermasuk KLH, Kemendagri, PLN, hingga Danantaraâjuga telah melakukan verifikasi lapangan di Samarinda dan Balikpapan.
Pemerintah daerah kini mematangkan:
- Kesiapan lahan
- Sistem pengangkutan sampah dari hulu
- Ketersediaan air bersih untuk operasional
âLokasi yang diusulkan dinilai layak karena kontur tanahnya datar, bersih, dan minim hambatan vegetasi,â kata Asti.
Proyek ini juga masih dalam proses pemenuhan legalitas, termasuk penyusunan dokumen Amdal dan izin penggunaan lahan.
Pembangunan PSEL di Kaltim dirancang terintegrasi dengan pengembangan IKN sebagai model nasional pengelolaan sampah berkelanjutan berbasis pemilahan dari sumber.
âKami berharap PSEL mampu memperkuat bauran energi nasional sekaligus menciptakan nilai ekonomi dari pengelolaan lingkungan,â ujar Asti.
Peran Daerah
Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya, menekankan pentingnya kesiapan pemerintah daerah dalam mendukung program PSEL, terutama dari sisi pengelolaan sampah di hulu.
Menurutnya, keberhasilan teknologi insinerasi sangat bergantung pada jenis sampah, khususnya sampah kering atau non-organik.
âPSEL itu bisa optimal jika sampahnya banyak yang kering. Kalau organik, agak sulit,â ujarnya dalam forum Sustainable Aglo-City Summit 2026.
Ia mendorong daerah untuk mulai mengatur sistem pengelolaan sampah masyarakat, termasuk mengurangi kadar air pada sampah organik agar lebih siap diolah.
Selain itu, Bima menyoroti kesiapan lahan yang masih menjadi kendala di sejumlah daerah. Pemerintah pusat bahkan membuka kemungkinan mengambil alih jika proses penyediaan lahan tidak segera rampung.
âKalau urusan tanah belum selesai, bisa diambil alih untuk percepatan,â tegasnya.
- Pemprov Kalimantan Timur
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.