IHSG Hari Ini Bikin Geger! Sempat Tembus 17.000 Lalu Terkoreksi, Tapi Masih Menguat dari Akhir Pekan lalu
Senin, 04 Mei 2026, 18:15 WIBJAKARTA â Pergerakan IHSG yang sempat menunjukkan lonjakan ekstrem hingga 17.000 pada awal perdagangan, sebelum terkoreksi kembali ke 6.971,95, mencerminkan tingginya volatilitas dan kemungkinan adanya perbedaan data atau aksi perdagangan yang tidak berkelanjutan.
Meski demikian, secara tren awal pekan, indeks tetap menunjukkan penguatan dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya, menandakan adanya dukungan minat beli di pasar.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa investor masih aktif merespons sentimen jangka pendek, namun arah pasar secara keseluruhan belum sepenuhnya stabil.
Dengan demikian, IHSG masih berada dalam fase konsolidasi, di mana pasar mencari keseimbangan baru di tengah dinamika sentimen domestik dan global.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (4/5) sore, ditutup menguat 15,15 poin atau 0,22 persen ke posisi 6.971,95.
IHSG sempat dibuka menguat hingga menyentuh level 7.069. Namun, pada sesi II penguatan berkurang dan indeks cenderung bergerak dua arah (sideways).
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim di Jakarta, Senin, mengatakan pelemahan IHSG dipicu antara lain oleh koreksi saham GOTO setelah pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026 membatasi potongan aplikator maksimal 8 persen.
"Hal ini memicu kecemasan investor akan prospek fundamental saham GOTO karena dinilai kebijakan tersebut dapat menurunkan pendapatan dan marjin GOTO," ujarnya.
Sementara, Phillip Sekuritas Indonesia dalam kajiannya menyebutkan indeks saham di Asia pada Senin sore (4/5) ditutup menguat.
Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang naik hingga 3 persen, didorong oleh penguatan KOSPI sebesar 5,12 persen dan TAIEX 4,57 persen. Adapun pasar saham di daratan China dan Jepang tidak beroperasi karena hari libur.
Penguatan tersebut antara lain ditopang reli saham-saham terkait kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang membantu indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang menghapus penurunan 13,5 persen pada Maret lalu akibat konflik AS dan Iran.
Tema AI kembali menjadi perhatian pasar setelah kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran meredakan kekhawatiran investor. Asia dinilai menjadi pilar utama dalam pengembangan AI, didukung dominasi manufaktur semikonduktor dan meningkatnya kebutuhan infrastruktur data.
Beberapa perusahaan utama penyedia perangkat keras AI antara lain Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), Samsung Electronics, dan SK Hynix.
Di pasar komoditas, harga kontrak berjangka minyak mentah turun tipis setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan inisiatif Project Freedom untuk membantu kapal-kapal keluar dari Selat Hormuz.
Militer AS menyatakan inisiatif tersebut akan melibatkan kapal perusak berpeluru kendali, lebih dari 100 pesawat, serta 15.000 personel militer. Namun, Kementerian Pertahanan AS (Pentagon) belum memberikan rincian lebih lanjut terkait implementasinya.
Arah harga minyak masih menjadi ketidakpastian utama bagi perekonomian global di tengah konflik Iran. Pekan lalu, harga minyak mentah melonjak sekitar 8 persen akibat kekhawatiran terganggunya distribusi melalui Selat Hormuz.
Indikator aktivitas manufaktur di Asia juga menunjukkan adanya gangguan rantai pasok akibat konflik Timur Tengah.
"Data Manufacturing Purchasing Managersâ Index (PMI) yang dirilis oleh S&P Global menunjukkan bahwa meskipun bulan lalu produksi meningkat di negara-negara besar, hal itu sebagian didorong oleh kekhawatiran mengenai kekurangan pasokan bahan energi dan harga bahan energi yang lebih tinggi karena konflik di Timur Tengah menghambat arus perdagangan," tulis Phillip Sekuritas Indonesia dalam kajiannya.
Sejak konflik dimulai pada akhir Februari lalu, harga energi dan komoditas lainnya meningkat, menekan biaya produksi dan sentimen pasar di kawasan Asia yang bergantung pada pasokan dari Timur Tengah.
Adapun dari penutupan perdagangan IHSG hari ini, frekuensi transaksi saham tercatat sebanyak 2.441.740 kali dengan volume perdagangan mencapai 60,30 miliar lembar saham senilai Rp21,12 triliun. Sebanyak 327 saham menguat, 357 saham melemah, dan 134 saham stagnan.
Secara sektoral, penguatan tertinggi terjadi pada sektor barang konsumen primer sebesar 2,53 persen, diikuti sektor barang konsumen nonprimer 1,53 persen, sektor infrastruktur 0,96 persen, dan sektor perindustrian 0,03 persen.
Sebaliknya, sektor kesehatan turun 1,63 persen, sektor teknologi 1,56 persen, sektor transportasi 1,52 persen, sektor energi 1,20 persen, sektor barang baku 0,69 persen, sektor keuangan 0,16 persen, serta sektor properti 0,01 persen.
- Ihsg hari ini
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Akibat Cuaca Ekstrem, Jembatan Ciwarunga Terputus sehingga Ganggu Aktivitas Warga
-
Krisis Bahan Baku Tekan Industri Makanan dan Minuman
-
Rahasia Efisiensi Armada: Bagaimana MPMRent Pertahankan Tingkat Utilisasi di Tengah Dinamika Pasar
-
Jadwal KRL Jakarta Kota–Bogor Berubah, Ini Rincian Lengkap Penyesuaian Terbaru
-
Kabar Buruk! Rodri dan Ruben Dias Tumbang, Manchester City Terancam Gagal Salip Arsenal?
-
Mangrove Desa Sugian Jadi Perhatian, Warga Lombok Timur Diminta Ikut Menjaga
-
Resmi Dilantik Gubernur Pramono, Cek Daftar Nama Pejabat Baru di Lingkungan Pemprov DKI
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.