Rupiah Masih Rentan, 30 April 2026
Kamis, 30 Apr 2026, 08:25 WIBJAKARTA â Rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan menjelang libur panjang akhir pekan. PergeÂrakan rupiah masih dipengaruhi sentimen global, seperti risiko gejolak di pasar komoditas minyak dunia dan keÂtidakpastian penyelesaian konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Analis Mata Uang Ibrahim Assuaibi melihat prospek rupiah tertekan oleh reaksi pasar terhadap dampak keÂputusan Uni Emirat Arab (UEA) untuk keluar dari keangÂgotaan negara produsen minyak OPEC. Keluarnya UEA merupakan pukulan besar bagi kelompok produsen miÂnyak di tengah gangguan yang terus-menerus akibat peÂrang Iran.
Selain itu, lanjutnya, rupiah juga diprediksi lanjut meÂlemah di tengah kebuntuan perundingan damai AS dan Iran di Timur Tengah. Karenanya, Ibrahim memproyekÂsikan kurs rupiah terhadap dollar AS dalam perdagangan di pasar uang antarbank, Kamis (30/4), bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di kisaran 17.320 - 17.380 rupiah per dollar AS.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada penutupan perdagangan, Rabu (29/4) sore, melemah 83 poin atau 0,48 persen dari sehari sebelumnya menjadi 17.326 rupiah per dollar AS.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa meÂngatakan pelemahan rupiah dipicu peningkatan perminÂtaan safe haven di tengah ketegangan geopolitik Timur Tengah. âDari sisi global, rupiah tertekan oleh stabilnya inÂdeks dollar AS di level tinggi (sekitar 98,6) serta meningkatÂnya permintaan safe haven di tengah ketegangan geopoliÂtik Timur Tengah,â katanya di Jakarta.
Kekhawatiran terhadap inflasi global akibat kenaikan harga energi turut memperkuat dollar AS, dan mendoÂrong arus modal keluar dari emerging markets, termasuk Indonesia. Selain itu, ekspektasi bahwa Federal Reserve atau Bank Sentral Amerika Serikat akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama semakin membatasi ruang penguatan rupiah.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa isu pergantian guÂbernur bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal ReÂserve (The Fed) menjadi sumber ketidakpastian tambahan. âJika pengganti Jerome Powell cenderung lebih hawkish, pasar akan mengantisipasi suku bunga tinggi lebih lama, yang berpotensi memperkuat dollar AS dan menekan ruÂpiah. Sebaliknya, jika arah kebijakan lebih dovish, hal ini dapat membuka ruang stabilisasi atau penguatan rupiah,â ujar dia.
Melihat sentimen domestik, fundamental ekonomi IndoÂnesia dinilai relatif stabil dengan inflasi yang masih berada dalam target serta suku bunga Bank Indonesia di level 4,75 persen untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara, Muchamad Ismail
Berita Terkait:
-
Perkuat Energi Hijau untuk Tarik Investasi Global
-
Hasil Piala Jerman: Bayern Muenchen ke Final Usai Singkirkan Bayer Leverkusen 2-0
-
Psikolog: Korban Kecelakaan KA Berisiko Alami Gangguan PTSD, Trauma Healing Penting!
-
BI Ungkap Kinerja QRIS Global di Bali, Nilainya Cukup Fantastis
-
Cegah Pelarian Modal, BI Diperkirakan Menaikkan Bunga Acuan di Semester I-2026
-
Pelemahan Rupiah Uji Ketahanan Likuiditas Perbankan Syariah
-
Pengamat: Roblox dan YouTube Wajib Patuhi Aturan Perlindungan Anak di Ruang Digital
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.