Gelombang Panas Ekstrem Hantam Asia Selatan

Rabu, 29 Apr 2026, 01:00 WIB

New Delhi – Sebagian besar wilayah India dilanda gelombang panas ekstrem dalam beberapa hari terakhir, dengan suhu mencapai hingga 46 derajat Celsius.

Kondisi cuaca tersebut memaksa penutupan sekolah dasar di sejumlah daerah, sementara wilayah lain menyesuaikan jam kegiatan belajar-mengajar guna melindungi siswa dari risiko kesehatan seperti sengatan panas (heatstroke).

Ket. Foto: Dua pria menutupi kepala mereka dengan syal di siang hari yang panas, di sepanjang jalan di Amritsar, Senin (27/4). — Sumber: AFP/Narinder NANUI

Dikutip dari Antara, berdasarkan data Departemen Meteorologi India (India Meteorological Department/IMD), distrik Jaisalmer dan Barmer di Negara Bagian Rajasthan, India bagian barat, menjadi wilayah terpanas pada Senin (27/4) dengan suhu mencapai 46,4 derajat Celsius.

Sementara itu, distrik Jharsuguda di Negara Bagian Odisha, India timur, mencatat suhu 44,8 derajat Celsius atau 4,2 derajat di atas normal. Sebagai perbandingan, distrik Sonepur di wilayah yang sama mencatat suhu 43,7 derajat Celsius.

Ibu kota New Delhi juga mengalami suhu tinggi, yakni mencapai 42,8 derajat Celsius pada Sabtu (25/4).

IMD juga melaporkan bahwa pada Minggu (26/4), sejumlah wilayah di Negara Bagian Maharashtra, khususnya Akola, Wardha, dan Amravati, mencatat suhu hingga 46,9 derajat Celsius.

Menghadapi kondisi tersebut, IMD berulang kali mengeluarkan imbauan agar masyarakat menjaga tubuh tetap terhidrasi serta menghindari aktivitas di luar ruangan yang tidak penting, terutama antara pukul 12.00 hingga 16.00 waktu setempat.

Sebagai langkah antisipasi, Rumah Sakit Ram Manohar Lohia di pusat kota Delhi bahkan membuka bangsal khusus untuk menangani pasien sengatan panas.

Badai Petir

Sementara itu, di Bangladesh, sedikitnya 14 orang dilaporkan tewas akibat sambaran petir pada Minggu (26/4), saat badai petir melanda sejumlah distrik setelah periode gelombang panas berkepanjangan.

Korban jiwa tercatat di tujuh distrik, termasuk lima orang di distrik Gaibandha, wilayah utara negara tersebut.

“Lima orang, termasuk dua anak, meninggal akibat sambaran petir di distrik Gaibandha,” kata petugas polisi setempat, Muhammad Rakib.

Insiden terpisah juga dilaporkan di beberapa wilayah lain, yakni dua korban di Thakurgaon, dua di Sirajganj pada hari pertama badai musim ini, serta dua korban di Jamalpur. Selain itu, masing-masing satu korban dilaporkan di Panchgart, Natore, dan Bogra.

Departemen Meteorologi Bangladesh menyatakan hujan ringan yang terjadi di sejumlah wilayah diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan, yang berpotensi meredakan gelombang panas yang melanda negara tersebut.

Hujan disertai petir telah dilaporkan terjadi di Dhaka serta wilayah Rangpur, Mymensingh, dan Sylhet pada Minggu (26/4), setelah lebih dari sepekan mengalami suhu panas ekstrem.

Forum Selamatkan Masyarakat dan Kesadaran Badai Petir mencatat sebanyak 330 orang tewas akibat petir di Bangladesh sepanjang tahun lalu. Sebagian besar korban merupakan petani yang bekerja di lahan terbuka tanpa perlindungan.

“Petani harus mengenakan perlengkapan keselamatan, termasuk sepatu bot plastik atau karet panjang saat bekerja di ladang, terutama pada musim panas dan hujan. Kurangnya kesadaran menjadi penyebab utama tingginya korban setiap tahun,” ujar Presiden organisasi tersebut, Kabirul Bashar.

  • Krisis Iklim

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.