Komputer Kuantum Ancam Enkripsi Global, Dunia Didorong Gunakan Keamanan Baru

Kamis, 25 Jun 2026, 01:05 WIB

Washington DC – Perkembangan teknologi komputer kuantum kembali memunculkan kekhawatiran di dunia keamanan siber. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa sistem enkripsi yang selama ini menjadi fondasi keamanan internet global, mulai dari layanan perbankan, mata uang kripto, tanda tangan digital, hingga komunikasi aman, berpotensi ditembus lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

Kekhawatiran itu mencuat setelah riset terbaru dari Google Quantum AI dan perusahaan rintisan Oratomic menunjukkan kemajuan signifikan dalam kemampuan komputer kuantum memecahkan algoritma kriptografi yang saat ini digunakan secara luas, terutama Elliptic Curve Cryptography (ECC) dan Rivest-Shamir-Adleman (RSA). Kedua sistem tersebut selama ini menjadi tulang punggung perlindungan data dan transaksi digital di seluruh dunia.

Ket. Foto: Perkembangan teknologi komputer kuantum kembali memunculkan kekhawatiran di dunia keamanan siber. — Sumber: istimewa

Selama beberapa dekade, keamanan digital bergantung pada persoalan matematika yang sangat sulit dipecahkan komputer konvensional. RSA mengandalkan kesulitan memfaktorkan bilangan sangat besar menjadi faktor-faktor prima, sementara ECC menggunakan perhitungan berbasis kurva eliptik. Dengan teknologi saat ini, memecahkan sistem tersebut diperkirakan membutuhkan waktu miliaran tahun.

Namun, dengan algoritma yang diperkenalkan matematikawan Peter Shor pada 1994, komputer kuantum yang cukup kuat berpotensi memecahkan sistem enkripsi tersebut hanya dalam hitungan menit atau jam.

Perkembangan ini muncul di tengah upaya Amerika Serikat (AS) mempercepat penguasaan teknologi kuantum. Presiden AS Donald Trump pada Senin (22/6) menandatangani dua perintah eksekutif untuk mempercepat pengembangan komputasi kuantum sekaligus memperkuat keamanan siber menghadapi ancaman era kuantum.

Melalui kebijakan tersebut, pemerintah AS menginstruksikan berbagai lembaga negara bekerja sama dengan sektor swasta untuk mengembangkan komputer kuantum yang dapat digunakan dalam penelitian ilmiah paling lambat 2028. Sejumlah perusahaan teknologi besar seperti IBM, Microsoft, dan Google juga menargetkan kehadiran komputer kuantum komersial berskala besar pada 2029.

Langkah tersebut mendapat dukungan dari pelaku industri. CEO Zapata Quantum Sumit Kapur menilai fokus pemerintah tidak hanya pada perangkat keras, tetapi juga aplikasi yang dapat dimanfaatkan dalam dunia nyata.

“Nilai utama komputasi kuantum terletak pada aplikasi transformatif yang dapat diterapkan untuk memecahkan tantangan kompleks di bidang sains dan industri,” katanya.

Sementara itu, CEO Qilimanjaro Quantum Tech Marta Estarellas menyebut pemerintah AS memperlakukan teknologi kuantum sebagai kebutuhan saat ini, bukan sekadar janji masa depan.

“Amerika Serikat memadukan ambisi dengan dua hal yang benar-benar menggerakkan sektor teknologi tinggi, yaitu sumber daya dan arah kebijakan,” ujarnya.

NVIDIA juga menilai komputasi kuantum sebagai teknologi strategis yang akan menjadi bagian penting dari masa depan bersama kecerdasan buatan (AI) dan superkomputer.

“Komputasi kuantum adalah teknologi strategis bagi Amerika. Kepemimpinan Amerika akan bergantung pada kemampuan menghubungkan platform komputasi yang tepat dengan talenta dan kemitraan yang dibutuhkan,” kata juru bicara NVIDIA.

Industri Kripto

Di sisi teknis, ancaman terhadap enkripsi global dinilai semakin nyata. Jika sebelumnya para ahli memperkirakan diperlukan puluhan juta qubit untuk membobol RSA-2048, estimasi tersebut terus menurun. Beberapa tahun lalu turun menjadi sekitar satu juta qubit, lalu menjadi 100 ribu qubit pada awal 2026.

Penelitian terbaru Oratomic bahkan memperkirakan jumlah itu dapat ditekan hingga sekitar 10 ribu qubit dalam kondisi tertentu. Meski demikian, penggunaan qubit yang lebih sedikit membutuhkan waktu komputasi lebih lama. Dalam simulasi Oratomic, komputer kuantum dengan 10 ribu qubit diperkirakan memerlukan sekitar tiga tahun untuk membobol ECC-256 dan lebih dari satu abad untuk memecahkan RSA-2048.

Di sisi lain, Google Quantum AI memperkirakan komputer kuantum berbasis superkonduktor dengan sekitar 500 ribu qubit berpotensi memecahkan ECC-256 hanya dalam waktu sekitar 18 menit.

Temuan tersebut menjadi perhatian serius bagi industri mata uang kripto. Sebagian besar jaringan blockchain, termasuk Bitcoin dan Ethereum, menggunakan ECC sebagai fondasi keamanan transaksi. Jika suatu saat komputer kuantum mampu memecahkan kunci rahasia dalam waktu kurang dari 10 menit, transaksi kripto berpotensi disadap atau dimanipulasi secara real time.

Meski ancaman tersebut belum terjadi dalam waktu dekat, para pakar menilai dunia tidak bisa menunggu hingga komputer kuantum benar-benar matang. Karena itu, mereka mendorong percepatan penggunaan Post-Quantum Cryptography (PQC), yaitu sistem enkripsi generasi baru yang dirancang tahan terhadap serangan komputer kuantum maupun komputer konvensional.

  • Keamanan Siber

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.