Pompanisasi Genjot Sawah Temanggung, Lahan Produksi Padi Kian Luas
Minggu, 26 Apr 2026, 22:15 WIBTEMANGGUNG â Pompanisasi pertanian menjadi strategi adaptif untuk menjaga produktivitas di tengah ketidakpastian iklim dan keterbatasan irigasi alami.
Dengan memanfaatkan pompa air dari sumber terdekatâseperti sungai atau sumurâpetani dapat memastikan ketersediaan air secara lebih terkontrol, sehingga pola tanam menjadi lebih fleksibel dan risiko gagal panen dapat ditekan, terutama saat musim kemarau.
Namun, efektivitas pompanisasi sangat bergantung pada efisiensi biaya dan keberlanjutan sumber air. Ketergantungan pada bahan bakar atau listrik dapat meningkatkan ongkos produksi jika tidak diimbangi dukungan subsidi atau teknologi hemat energi. Selain itu, pengambilan air yang berlebihan berpotensi menurunkan daya dukung lingkungan.
Karena itu, penerapan pompanisasi perlu diiringi dengan manajemen sumber daya air yang bijak, penggunaan teknologi efisien, serta penguatan kelembagaan petani agar manfaatnya optimal tanpa menimbulkan tekanan baru terhadap lingkungan.
Pompanisasi pertanian khususnya tanaman padi yang telah berjalan selama dua tahun terakhir memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan luas areal pertanian di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan Kabupaten Temanggung Joko Budi Nuryanto di Temanggung, Minggu (26/4), menyampaikan penggunaan pompa tersebut berdasarkan permintaan dari petani, namun tidak semua permintaan dapat langsung dipenuhi.
"Terdapat kriteria utama yang harus dipenuhi, yakni ketersediaan sumber air permukaan. Oleh karena itu, pemanfaatan pompa umumnya berada di area sekitar sungai yang masih mengalir dan memiliki debit air yang cukup," katanya.
Dari sisi dampak, katanya penambahan pompa turut berkontribusi terhadap peningkatan luas tanam, meskipun bukan satu-satunya faktor penentu.
Berdasarkan pengalaman di Kabupaten Temanggung, terjadi peningkatan luas tanam padi dari tahun 2024 ke 2025 sebesar sekitar 2.300 hingga 2.500 hektare.
Namun, kontribusi spesifik dari pompanisasi tidak dapat dipisahkan secara rinci dari faktor pendukung lainnya.
Ia menuturkan, pompa ini berfungsi sebagai sarana pendukung. Jika tidak terdapat sumber air, maka pompa tidak dapat digunakan secara optimal. Prioritas diberikan pada lahan pertanian yang posisinya lebih tinggi dari sumber air, namun masih memungkinkan untuk dialiri dengan bantuan pompa.
Menurut dia, program peminjaman pompa ini banyak dimanfaatkan oleh kelompok tani, khususnya untuk komoditas padi yang membutuhkan air dalam jumlah besar.
Ia menyampaikan, efektivitas penggunaan pompa juga cukup tinggi. Untuk lahan seluas satu hektare yang sebelumnya sudah pernah diairi, proses pengairan dapat dilakukan dalam waktu sekitar 4 hingga 7 jam, berkat kapasitas pompa yang besar.
Ia menyebutkan, beberapa wilayah yang tercatat pernah memanfaatkan fasilitas ini antara lain Kecamatan Jumo, Kranggan, dan Bejen. Selain itu, pompa juga digunakan dalam kondisi darurat, seperti saat jaringan irigasi terputus, untuk membantu mengalirkan air sementara ke lahan pertanian.
Dengan adanya brigade pompa ini, diharapkan produktivitas pertanian terus meningkat seiring dengan optimalisasi pemanfaatan sumber daya air yang tersedia.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Misa Rabu Abu di Manokawari
-
Trump Sanggah Tudingan Segera Akhiri Perang karena Pemilu Paruh Waktu
-
Sadora 2026, Cara Seru McDonald’s Indonesia Ajak Anak-Anak Belajar Kebaikan Sambil Menanti Buka Puasa
-
Kodim 1702/Jayawijaya Berikan Dukungan 30 Lampu LED bagi Pelaku UMKM Kopi di Wamena
-
Harga Emas di Pegadaian Rabu Pagi: UBS Rp2,958 Juta/Gr dan Galeri24 Rp2,943 Juta/Gr
-
Korea Selatan Melakukan Pengiriman Darurat Sistem Pertahanan Rudal untuk Memperkuat Pertahanan AS dan UEA dari Serangan Iran
-
Sentil Birokrasi Daerah, Wamendagri Bima Arya Dorong DPRD Gunakan Konsep 'Statecraft'
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.