Penyaluran Kredit Tidak Merata, Segmen UMKM Semakin Merana

Selasa, 21 Apr 2026, 01:05 WIB

JAKARTA - Bank dalam menjalankan fungsi intermediasi diharapkan tidak sekedar mengejar target pertumbuhan kredit/pembiayaan, tetapi juga memerhatikan sebaran portofolio agar lebih merata ke semua segmen. Hal itu penting karena pembiayaan yang merata ke semua segmen juga akan berdampak pada pertumbuhan segmen usaha yang mendapat pembiayaan. 

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M. Rizal Taufikurahman mengatakan meski penyaluran kredit pada kuartal I-2026 menunjukkan kinerja yang membaik dengan tumbuh 10,42 persen atau doubel digit, namun masih dihadapkan pada pemerataan pembiayaan.

Ket. Foto: Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M. Rizal Taufikurahman — Sumber: antara

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sebelumnya menyampaiakan pertumbuhan kredit nasional mencapai 10,42 persen (yoy) hingga kuartal I tahun ini, ditopang oleh segmen korporasi, komersial, dan konsumer. Namun, kredit ke segmen Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mengalami kontraksi 3,57 persen, dengan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loans/NPL) yang hampir mendekati ambang batas 5 persen, tepanya NPL 4,55 persen pada Maret 2026.

“Ekspansi masih solid, tetapi belum mencerminkan kualitas pertumbuhan yang merata,” katanya kepada Antara di Jakarta, Senin (20/4).

Dorongan utama kredit yang berasal dari segmen korporasi, komersial, dan konsumsi, sementara kredit UMKM justru terkontraksi menurut Rizal sebagai pemulihan agregat, bukan penguatan pembiayaan yang inklusif.

Tren seperti ini sangat terbuka berlanjut hingga akhir tahun, namun sangat bergantung pada permintaan riil, kualitas aset, dan preferensi risiko perbankan.

“Likuiditas memang relatif longgar, tetapi kenaikan rasio kredit bermasalah membuat bank cenderung lebih selektif. Dengan demikian, pertumbuhan kredit kemungkinan tetap terjaga, tetapi tidak merata antar segmen,” katanya.

Dari sisi struktur, pertumbuhan dua digit ini bukan semata base effect, tetapi juga belum sepenuhnya mencerminkan permintaan riil yang luas. Ekspansi lebih banyak terjadi pada sektor dengan risiko terukur, sementara UMKM mengalami credit rationing. Hal itu menunjukkan adanya gap antara pemulihan ekonomi dan distribusi pembiayaan.

Kondisi tersebut diperkuat oleh meningkatnya risiko di segmen UMKM dengan NPL kredit UMKM yang mencapai 4,55 persen atau masih di bawah ambang kritis, tetapi sudah menjadi sinyal peringatan dini, apalagi terjadi bersamaan dengan kontraksi kredit.

Sebab itu, strategi kebijakan katanya harus bergeser dari sekadar mendorong volume kredit ke pendekatan berbasis mitigasi risiko.

Kebijakan Afirmatif

Di kesempatan lain, Peneliti Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Awan Santosa mengungkapkan data tersebut menunjukkan perbedaan dukungan pendanaan antara korporasi dan UMKM.

“Ketimpangan alokasi kredit yang lebih terpusat pada korporasi besar dan pusat bisnis/kekuasaan, sementara untuk ekonomi rakyat dan UMKM di daerah belum optimal. Padahal dana tersebut dikumpulkan dari bank-bank dan lembaga keuangan di daerah,”papar Awan.

Selain karena syarat kredit yang ketat, ketimpangan terjadi karena rencana bisnis/proyek yang berskala besar umumnya dikerjakan oleh korporasi besar. Sebab itu, dia menegaskan perlunya kebijakan afirmatif terkait kredit bagi UMKM. Untuk meminimalisir risiko maka skema kredit perlu didukung penguatan kapasitas dan pendampingan usaha UMKM.

Sementara itu, Peneliti ekonomi Core, Yusuf Rendi Manilet mengatakan pembiayaan bank bukan sekadar “belum merata”, tetapi sudah ada jarak yang makin lebar antara pelaku besar dan kecil.

Kondisi yang agak mengkhawatirkan jelasnya justru kombinasi kontraksi dengan NPL UMKM di 4,55 persen. Secara teknis, ini sinyal tidak sehat, karena kreditnya mengecil, tetapi kualitasnya tidak membaik. Hal itu sebagai pertanda bank mulai menahan penyaluran ke UMKM, dan yang tersisa justru portofolio yang lebih berisiko. Di saat yang sama kredit konsumsi masih tumbuh.

“Artinya masyarakat masih berutang, tapi lebih untuk belanja, bukan ekspansi usaha. Dalam jangka pendek mungkin menahan pertumbuhan, tapi secara struktur tidak kuat,”pungkasnya.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Dibangun Bersama Guru Disabilitas, Papan Tulis AI Buatan Siswa Bandung Raih Juara Google

Pertamina Lubricants Layani Ganti Oli Gratis untuk 1.000 Pengemudi Ojol

Atas Perintah Presiden Prabowo, Menhut Raja Antoni Turun Langsung Tangani Karhutla Kalbar.

Atasi Kekeringan di Lamongan, PU Normalisasi 1,6 KM Sungai & Kerahkan Pompa

Ekosistem Terbuka Dinilai Penting untuk Memperluas Penerapan Agentic AI

Genjot Literasi Pajak Generasi Muda, IKPI Gelar Lomba Cerdas Cermat Nasional

Rumah Sekunder Makin Terjangkau secara Riil, tetapi Stok Hunian Kian Terbatas

Trump Sebut Iran “Runtuh Total”, AS Siapkan “D-Day Ekonomi” untuk Teheran

81 Miles for Indonesia, XLSmart Hubungkan Negeri lewat 5G dan Semangat Berbagi

Kelola Penuaan Kulit secara Personal dengan Pendekatan Perawatan Berlapis

Yili Tebarkan Keceriaan HUT RI ke-81 kepada 2.000 Anak di Lima Rusun

Gokuniku Resmi Buka di Jakarta, Hadirkan “Japan’s Ultimate Meat Experience”

Pendakian Gunung Sindoro, KPALH Gandawesi Bawa Pesan Jaga Alam.

Lansia Terdampak Gempa Manggarai Jadi Perhatian, Khofifah Dorong Pendampingan Psikososial.

Pemprov DKI Boyong 23 UMKM Binaan ke Pameran CISMEF 2026 di Guangzhou Tiongkok

Mau Tahu Rahasia Kecantikan Kulit dan Rambut Korea, Saksikan di BXc 2 pada 27 Agustus Mendatang

Aplikasi GoPay Hadirkan Fitur DBL Indonesia, Meriahkan Kompetisi Basket Pelajar se-Indonesia

Wujud Kepedulian BUMN, TelkomGroup Salurkan Bantuan Rp1,3 Miliar untuk Korban Gempa NTT

Resmikan Jaksinema Pasar Rumput, Wagub Rano Minta Bioskop Mini Rp15 Ribu di Tiap Rusun

Debt Collector Paksa Masuk ke Dalam Mobil, Piting Leher dan Ancam Pengemudi

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.