Apindo: Resiliensi Industri Kunci Bertahan dari Dampak Konflik Timur Tengah
Rabu, 04 Mar 2026, 01:00 WIBJAKARTA â Pelaku usaha mulai mencermati potensi dampak lanjutan konflik di Timur Tengah terhadap biaya produksi, rantai pasok, hingga volatilitas nilai tukar. Ketidakpastian global berisiko mendorong kenaikan harga energi dan bahan baku impor, yang pada akhirnya menekan margin usaha serta daya saing industri domestik.
Dalam konteks itu, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyiapkan langkah mitigasi adaptif, mulai dari efisiensi operasional, diversifikasi pasar dan pemasok, hingga penyesuaian strategi keuangan untuk mengantisipasi gejolak kurs. Pendekatan ini dinilai penting agar sektor usaha tetap resilien di tengah tekanan eksternal yang sulit diprediksi durasinya.
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai eskalasi serangan Amerika Serikat (AS)âIsrael ke Iran berpotensi memicu konflik kawasan yang berdampak langsung pada ekonomi Indonesia. Ketua Umum Apindo Shinta W Kamdani menyebut risiko utama bukan hanya sentimen pasar, tetapi juga potensi gangguan jalur energi global, khususnya di Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia.
Dunia usaha, lanjutnya, mengkhawatirkan kenaikan risk premium harga minyak dan gas serta lonjakan biaya logistik internasional, bahkan tanpa penutupan jalur secara fisik. âSebagai net importer minyak, Indonesia berisiko menghadapi peningkatan biaya produksi dan tekanan pada ruang fiskal jika harga energi melampaui asumsi APBN,â jeas Shinta dalam keterangan di Jakarta, Selasa (3/3).
Selain itu, kenaikan harga energi dapat merembet ke inflasi pangan melalui biaya distribusi dan transportasi, sehingga stabilitas pasokan dan distribusi bahan pokok menjadi krusial apabila konflik meluas dan berkepanjangan. âOleh karena itu, stabilitas pasokan dan distribusi pangan menjadi aspek krusial yang perlu dijaga jika dampak konflik meluas dan berkepanjangan,â ujar Shinta.
Dari sisi fiskal, Shinta menilai jika harga energi bertahan tinggi, beban subsidi dan kompensasi energi dalam APBN berpotensi meningkat. Karena itu, Apindo mendorong pemerintah mengelola risiko fiskal secara hati-hati agar tidak menekan defisit dan pembiayaan utang secara berlebihan.
Diaa menekankan pentingnya pengelolaan utang yang disiplin, menjaga rasio defisit tetap kredibel, serta memastikan belanja negara tepat sasaran guna mempertahankan kepercayaan pasar di tengah ketidakpastian global.
Di sisi eksternal, Shinta menilai dinamika risk-off global berpotensi meningkatkan volatilitas nilai tukar dan menekan rupiah. Pelemahan kurs akan memperbesar biaya impor energi dan pangan, sehingga diperlukan koordinasi yang lebih kuat antara kebijakan moneter dan fiskal untuk menjaga stabilitas makroekonomi.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara, Eko S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.