Harga BBM Nonsubsidi Naik, Pembelian BBM Subsidi Harus Diawasi!
Minggu, 19 Apr 2026, 09:28 WIBJAKARTA - Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan penting bagi pemerintah untuk melakukan pengawasan pembelian bahan bakar minyak (BBM) subsidi di tengah kenaikan harga BBM nonsubsidi.
Bhima saat dihubungi di Jakarta, Minggu (19/4), menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi memang hal yang wajar mengingat harga pasar dan Indonesian Crude Price(ICP) juga naik.
âCuma yang harus diperhatikan, misalnya, yang saya khawatir itu Pertamina Dex naiknya 60 persen, dan Pertamina Dex ini bukan cuma untuk kendaraan yang dibilang menengah ke atas, tapi juga mesin-mesin industri, alat-alat berat di sektor pertambangan, di sektor sawit itu juga banyak yang membeli Pertamina Dex,â kata Bhima.
Dengan kenaikan Pertamina Dex yang sangat signifikan dari Rp14.500 per liter ke Rp23.900 per liter, ia mengingatkan adanya potensi pergeseran konsumen untuk menggunakan solar subsidi yang tidak mengalami kenaikan harga.
Hal ini, lanjut Bhima, dikhawatirkan akan berpengaruh pada pasokan solar subsidi.
âJadi nanti akan berpengaruh pada pasokan solar juga. Ada kebocoran di situ, ya. Jadi pengawasan terhadap solar subsidi ini juga harus ketat, terutama di luar pulau Jawa, baik yang digunakan untuk logistik, maupun untuk alat-alat berat seperti tadi, ya, (contohnya) di (sektor industri) pertambangan, di perkebunan,â jelas Bhima.
âNah ini harus ada pengetatan, jangan sampai terjadi kebocoran yang semakin masif karena pergeseran dan selisih harga yang terlalu jauh antara solar subsidi dan solar nonsubsidi,â ujarnya menambahkan.
Bhima menilai, hal ini juga bisa berpengaruh kepada konsumen Pertamax Turbo untuk beralih ke BBM jenis Pertamax yang juga tidak mengalami kenaikan harga.
Adapun harga Pertamax Turbo untuk wilayah DKI Jakarta per 18 April ini naik sebesar Rp19.400 per liter dari harga per 1 April 2026 sebesar Rp13.100 per liter.
âKalau untuk Pertamax Turbo kenaikannya cukup tinggi, pasti akan berkurang konsumsinya. Tapi akan bergeser ke mana? Bergesernya ke Pertamax. Pertamax selisih harga keekonomiannya juga masih lebar,â ujar dia.
Ia menilai bahwa kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex oleh pemerintah bersifat temporer menyusul harga minyak yang cenderung turun karena menurunnya pula eskalasi perang Iran dan Amerika Serikat-Israel.
Oleh karena itu, Bhima menyarankan selain ada pengawasan yang lebih ketat, diperlukan juga insentif bagi pelaku usaha yang membeli BBM nonsubsidi.
âKemudian juga mungkin harus diberikan semacam insentif (bagi industri) sebagai meringankan biaya produksi karena beban biaya produksinya bisa semakin naik kalau tetap beli BBM yang nonsubsidi seperti Pertamina Dex tadi, sehingga kenaikan beban biaya produksi tidak membuat terjadinya efisiensi atau PHK,â ujar dia.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Antara, Lili Lestari
Berita Terkait:
-
Daftar Lengkap Harga BBM Pertamina, Shell, BP, dan Vivo per Juni 2026
-
Polusi Jakarta Tak Kunjung Usai, DPRD DKI Tagih Janji Trotoar Steril dan Nyaman
-
Harga BBM Pertamax Diperkirakan Turun Bulan Juli, Merespons Turunnya Harga Minyak Dunia
-
Harga BBM Masih Stabil, Tak Mengalami Perubahan sejak 4 Mei 2026
-
Depok Mengharapkan Minat Baca Anak Ditingkatkan
-
BBM Mahal, Warga Tangerang Hijrah ke Pertalite
-
BPS: Ekonomi Q1-2026 Tumbuh 5,61% Ditopang Konsumsi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.