- Home
-
- Luar Negeri
-
- Bank Dunia Umumkan Rencana...
Bank Dunia Umumkan Rencana Akses Air untuk Satu Miliar Penduduk Dunia
Jumat, 17 Apr 2026, 01:00 WIBWASHINGTON DC - Bank Dunia pada Rabu (15/4) mengumumkan sebuah rencana yang bertujuan untuk meningkatkan akses air bersih yang aman bagi satu miliar orang dalam empat tahun ke depan.
Program Water Forward yang baru ini nantinya akan memperluas jangkauan layanan air yang andal dan memperkuat sistem terhadap kekeringan dan banjir.
Inisiatif Water Forward pada awalnya akan berfokus pada 14 negara di wilayah yang kekurangan air di Afrika, Timur Tengah, dan Asia Selatan, serta memprioritaskan proyek-proyek yang mengurangi kebocoran di daerah perkotaan, memodernisasi irigasi, meningkatkan penggunaan kembali air limbah, dan memperluas perencanaan berbasis data.
Program ini bertujuan untuk meningkatkan investasi dalam pengelolaan air sekaligus mendorong pemerintah untuk memperlakukan air sebagai sumber daya ekonomi strategis, bukan sekadar utilitas publik berbiaya rendah. Program ini akan berfokus pada mobilisasi modal swasta dan dana filantropi di samping pendanaan publik, kata Bank Dunia.
Bank Dunia mengatakan bahwa dana dan saran teknisnya sendiri akan membantu meningkatkan pasokan air bagi sekitar 400 juta orang pada tahun 2030, dengan sisanya berasal dari para mitra.
"Air adalah fondasi bagaimana perekonomian berfungsi. Air menentukan apakah orang cukup sehat untuk bekerja, apakah anak-anak memiliki masa kecil untuk belajar dan bereksplorasi, dan apakah bisnis dapat beroperasi dan ekonomi dapat tumbuh,â kata Presiden Bank Dunia, Ajay Banga.
âProgram ini akan melibatkan negara-negara untuk mengidentifikasi area prioritas, kemudian bank pembangunan, pemerintah, lembaga filantropi dan yang terpenting, sektor swasta, akan mendukung rencana tersebut,â imbuh dia seraya menegaskan bahwa tugas yang perlu diambil sekarang adalah menyediakan layanan air yang andal dalam skala besar.
Bank Dunia memperkirakan bahwa permintaan global akan air tawar akan melebihi pasokan hingga 40% pada akhir dekade ini, dengan guncangan terkait air yang telah merugikan beberapa negara beberapa poin persentase dari pertumbuhan ekonomi tahunan mereka.
Perubahan iklim memperparah kekeringan dan banjir, memberikan tekanan pada keuangan publik dan komunitas rentan, terutama di kota-kota yang berkembang pesat. Sebuah laporan tahun lalu memperkirakan bahwa lebih dari 2,1 miliar orang kekurangan air minum yang aman, dan lebih dari 3,4 miliar orang hidup tanpa sanitasi yang memadai.
Jalan Panjang
Lembaga pemberi pinjaman global tersebut tidak merinci berapa banyak modal yang akan mereka komitmenkan untuk inisiatif tersebut.
Lembaga-lembaga lain yang berpartisipasi termasuk bank pembangunan regional, dana pembangunan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC), dan Bank Pembangunan Baru yang berafiliasi dengan kelompok BRICS (Brasil, Russia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan).
Bank Dunia menyatakan bahwa empat belas negara telah secara sukarela berkomitmen untuk mereformasi dan memperkuat sektor air mereka di bawah program baru tersebut.
Sekitar empat miliar orang atau separuh populasi dunia, menghadapi kelangkaan air, sebagian disebabkan oleh kebijakan yang tidak jelas, peraturan yang lemah, dan utilitas yang tidak berkelanjutan secara finansial yang telah memperlambat kemajuan dan menghambat investasi, kata Bank Dunia.
Fokus pada isu-isu tata kelola yang bukan sekadar infrastruktur air fisik, sejauh ini sangat menjanjikan, kata David Michel, rekan senior di lembaga think-tank Centre for Strategic and International Studies.
âDi banyak negara, sektor air gagal memanfaatkan sepenuhnya dana yang telah dialokasikan untuk isu ini,â ucap Michel.
Namun, ucap Michel, inisiatif Bank Dunia akan menghadapi jalan yang panjang dan sulit di depan, seraya memperingatkan masih adanya sejumlah negara dengan kerawanan air terbesar seringkali memiliki kapasitas paling sedikit untuk melakukan reformasi.
Isu akses terhadap air minum yang aman telah menjadi sorotan selama perang di Timur Tengah, dengan pabrik-pabrik desalinasi di Iran dan di seluruh wilayah tersebut rusak akibat pemboman.
Di luar konflik dan kebutuhan air minum mendesak, Bank Dunia menyatakan bahwa keamanan air yang lebih baik diperlukan untuk pertumbuhan ekonomi global.
âSistem air yang kuat merupakan fondasi bagi perekonomian yang sehat yang dapat menarik investasi swasta dan menciptakan lapangan kerja,â demikian pernyataan Bank Dunia.
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: AFP, Antara, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Menbud: Repatriasi Benda Bersejarah Bukti Keseriusan Pemerintah Pulihkan Martabat Bangsa
-
Kawasan Industri Baru Menanti: BKPM Ajak Pengusaha Ambil Peran
-
Wasit Jadi Sorotan, Ini Alasan Frenkie de Jong Meluapkan Kekecewaan Usai Barcelona Tumbang
-
Anda Mau Jajal Mudik dengan Motor Listrik? Simak Tips Ini
-
Pertamina Pastikan Distribusi BBM untuk Arus Balik Lebaran di Sumut Aman
-
Bapanas: Cabai Rawit Merah Rp50.115 Per Kg, Daging Ayam Rp38.458 Rabu Ini
-
Serie A Italia: Gol Perdana Fullkrug Jaga Jarak AC Milan dengan Inter di Puncak Klasemen
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.