• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Hilangkan Protein Kunci Pe...

Hilangkan Protein Kunci Penyebab Penuaan Otak

Kamis, 16 Apr 2026, 07:12 WIB

PENUAAN otak selama ini identik dengan penurunan daya ingat dan melambatnya fungsi kognitif. Namun, temuan terbaru dari para ilmuwan menunjukkan bahwa proses tersebut mungkin tidak sepenuhnya permanen. Sebuah studi mengungkap adanya satu protein kunci yang berperan dalam penurunan fungsi otak terkait usia, dan yang menarik, efeknya berpotensi untuk dibalik setidaknya pada model hewan.

Penelitian yang dilakukan oleh tim dari University of California, San Francisco menemukan bahwa pengaturan kadar protein tertentu dapat memulihkan fungsi memori pada tikus yang telah menua. Temuan ini dipublikasikan oleh para peneliti di Bakar Aging Research Institute, dan membuka peluang baru dalam pengembangan terapi untuk memperlambat, bahkan membalikkan, penurunan kognitif.

Ket. Foto: Seorang pria lanjut usia duduk di sebuah alun-alun di Ramallah di Tepi Barat. — Sumber: JOHN WESSELS / AFP

Dalam penelitian tersebut, ilmuwan memusatkan perhatian pada hipokampus, bagian otak yang berperan penting dalam proses pembelajaran dan memori. Dengan membandingkan kondisi otak tikus muda dan tua, tim menemukan bahwa otak yang menua memiliki kadar tinggi protein bernama FTL1.

Untuk menguji peran protein tersebut, peneliti kemudian meningkatkan kadar FTL1 pada tikus muda. Hasilnya, perubahan signifikan langsung terlihat. Struktur neuron menjadi lebih sederhana, cabang-cabang saraf berkurang, dan koneksi antar sel menjadi lebih pendek serta kurang efektif menyerupai kondisi otak yang telah menua. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa FTL1 berperan langsung dalam penurunan fungsi kognitif.

Eksperimen berikutnya menunjukkan hasil yang lebih mencolok. Ketika kadar FTL1 diturunkan pada tikus tua, para peneliti mendapati bahwa kondisi otak tidak hanya berhenti memburuk, tetapi justru mengalami perbaikan.

Koneksi saraf di hipokampus mulai terbentuk kembali, dan kerusakan yang sebelumnya terjadi menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Secara perilaku, tikus yang mendapat perlakuan tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dalam tes memori menyerupai kemampuan tikus yang lebih muda.

“Ini benar-benar pembalikan gangguan,” ujar Saul Villeda, penulis senior dalam studi tersebut. “Ini bukan sekadar memperlambat atau mencegah, tetapi mengembalikan fungsi yang sudah menurun,” dikutip dari The Economics Time.

Mekanisme di Balik Penurunan Kognitif

Penelitian ini juga mengungkap bagaimana FTL1 memengaruhi fungsi otak. Kadar protein yang tinggi diketahui memperlambat produksi energi di dalam sel otak, sehingga bertindak seperti “rem metabolisme”.

Kekurangan energi ini berdampak langsung pada kemampuan neuron untuk membentuk dan mempertahankan koneksi. Akibatnya, komunikasi antar sel saraf melemah, yang pada akhirnya memengaruhi fungsi memori dan kognisi secara keseluruhan.

Harapan Baru dalam Studi Penuaan

Meski masih berada pada tahap penelitian hewan, temuan ini memberikan harapan baru bagi pengembangan terapi pada manusia. Para ilmuwan melihat potensi untuk menjadikan penuaan otak sebagai proses biologis yang dapat dikelola, bukan sekadar kondisi yang harus diterima tanpa intervensi.

“Kami mulai melihat peluang untuk mengurangi dampak terburuk dari penuaan,” kata Villeda. Ia menambahkan bahwa perkembangan ini menjadi sinyal optimistis bagi masa depan riset biologi penuaan.

Para peneliti menekankan bahwa masih diperlukan waktu dan penelitian lanjutan sebelum terapi ini dapat diterapkan pada manusia. Namun demikian, studi ini menandai langkah penting dalam memahami mekanisme penuaan otak dan membuka kemungkinan bahwa penurunan kognitif bukanlah akhir yang tak terelakkan. hay

  • Penuaan Otak

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.