Kepala BGN Sebut Anggaran EO Rp113 Miliar Jadi Solusi Keterbatasan SDM

Minggu, 12 Apr 2026, 17:40 WIB

JAKARTA - Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan penjelasan terkait penggunaan anggaran sebesar Rp113 miliar untuk jasa Event Organizer (EO) yang menuai sorotan publik. Kepala BGN Dadan Hindayana menyebut langkah tersebut sebagai kebutuhan strategis dalam mendukung operasional lembaga yang masih berada pada tahap awal pembentukan.

Menurut Dadan, sebagai lembaga baru yang menjalankan program strategis nasional, BGN masih dalam proses membangun sistem, struktur organisasi, serta tata kelola operasional. Kondisi tersebut membuat kapasitas internal belum sepenuhnya siap untuk menangani seluruh kegiatan berskala besar secara mandiri.

Ket. Foto: Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan penjelasan terkait penggunaan anggaran sebesar Rp113 miliar untuk jasa Event Organizer (EO) yang menuai sorotan publik. Kepala BGN Dadan Hindayana menyebut langkah tersebut sebagai kebutuhan strategis dalam mendukung operasional lembaga yang masih berada pada tahap awal pembentukan. — Sumber: ANTARA

"Sebagai lembaga baru yang dibentuk untuk menjalankan program strategis nasional tentu berada dalam fase awal pembangunan sistem, struktur organisasi, serta tata kelola operasional," ujar Dadan.

Ia menjelaskan, pelaksanaan kegiatan seperti kampanye publik, sosialisasi nasional, hingga bimbingan teknis membutuhkan dukungan tenaga profesional yang berpengalaman. Dalam hal ini, EO dinilai memiliki keahlian teknis yang belum dimiliki sepenuhnya oleh BGN.

"Penggunaan jasa EO dalam konteks ini merupakan langkah strategis untuk memastikan kegiatan dapat berjalan secara profesional, terstandar, dan tepat waktu," katanya.

Dadan menambahkan, peran EO tidak hanya pada pelaksanaan acara, tetapi juga mencakup perencanaan, koordinasi vendor, pengelolaan teknis di lapangan, hingga mitigasi risiko operasional. Hal tersebut dinilai penting untuk menjaga kualitas pelaksanaan program pemerintah.

Selain aspek teknis, keterlibatan EO juga dinilai membantu penataan administrasi dan keuangan menjadi lebih sistematis. Dengan pengelolaan terpusat melalui pihak ketiga, proses pengadaan hingga pelaporan dapat dilakukan secara lebih tertib dan terdokumentasi.

"Hal ini justru memudahkan proses audit, pengawasan, dan akuntabilitas penggunaan anggaran negara, karena seluruh komponen kegiatan terdokumentasi secara sistematis," jelasnya.

Ia menegaskan, kegiatan yang ditangani EO bukan sekadar bersifat seremonial, melainkan bagian dari strategi komunikasi publik terkait isu gizi nasional. Program tersebut juga mencakup pelatihan bagi penjamah makanan guna memastikan keamanan pangan dikelola oleh tenaga terlatih.

"EO berperan dalam memastikan pesan yang ingin disampaikan pemerintah dapat dikemas secara efektif, menarik, dan berdampak luas," tegas Dadan.

Dari sisi efisiensi, penggunaan jasa EO disebut lebih rasional dibandingkan membentuk tim internal dalam waktu singkat. Proses rekrutmen dan pelatihan SDM dinilai membutuhkan waktu, sementara program harus segera dijalankan.

"EO hadir sebagai solusi bridging agar program tetap dapat dieksekusi tanpa mengorbankan kualitas dan waktu," ujarnya.

BGN memastikan seluruh penggunaan anggaran dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku dan terbuka untuk diawasi. Prinsip transparansi dan akuntabilitas tetap menjadi landasan utama dalam setiap pengeluaran yang dilakukan lembaga tersebut.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.