Dari Mitra Pengemudi Menjadi Pengusaha Kuliner, Begini Kisah Sukses Mas Nur Membangun Baso Aci Mastyo
Selasa, 07 Apr 2026, 19:50 WIBJAKARTA â Berawal dari ikhtiar menafkahi keluarga sebagai Mitra Pengemudi Grab, Nuryadi tidak pernah membayangkan kelak akan memiliki imperium kuliner sendiri. Dari rumah sederhana di gang kecil, pria yang akrab disapa Mas Nur ini sukses mengelola Baso Aci Mastyo.
Perjalanannya menggambarkan bagaimana pengalaman lapangan, pemanfaatan platform digital, serta dukungan komunitas mampu membuka peluang bagi Mitra untuk berkembang dan ânaik kelasâ menjadi pelaku usaha mandiri.
Bagi Mas Nur, perjalanan menuju titik ini tidak terjadi secara instan. Ia melewati berbagai fase kehidupan, mulai dari karyawan, Mitra Pengemudi, hingga akhirnya berani merintis usaha rumahan. Semuanya ia jalani demi harapan sederhana: memberikan kehidupan yang lebih layak bagi keluarganya.
Mas Nur pertama kali bergabung sebagai Mitra Pengemudi pada 2019. Saat itu, ia mengamati layanan pesan-antar makanan kian diminati. Dari rutinitas mengantar pesanan, ia memahami potensi besar bisnis kuliner berbasis daring.
âDulu waktu jadi driver saya terbiasa menunggu orderan masuk. Tapi ketika mulai punya usaha sendiri, saya harus berpikir setiap hari bagaimana caranya supaya usaha tetap berjalan dan bisa berkembang. Pengalaman ini perlahan mengubah cara pandang saya terhadap dunia usaha,â ujarnya.
Langkah perdana Mas Nur dimulai melalui Salad Buah Arjuna. Ia memilih menu tersebut karena tren makanan berbahan buah sedang populer di platform digital saat itu.
Namun, roda usaha Mas Nur tidak selalu mulus. Ketika pandemi COVID-19 melanda, tren salad buah menurun. Alih-alih menyerah, ia memantau menu yang tengah digemari pelanggan di aplikasi. Dari sana, ia menemukan bahwa seblak dan baso aci menjadi primadona baru.
Berbekal peluang tersebut, ia merintis Baso Aci Mastyo pada 2020. Nama âMastyoâ diambil dari putra sulungnya. Bagi Mas Nur, usaha ini bukan sekadar sumber nafkah, melainkan simbol harapan masa depan keluarga.
Latar belakang pendidikan yang hanya sampai tingkat SMK karena kendala ekonomi menjadi pemicu semangatnya agar anak-anaknya kelak mendapat pendidikan lebih baik. Mengingat lokasi usahanya di gang sempit, Mas Nur menyadari sulit mengandalkan pelanggan fisik. Jika hanya bergantung pada warga sekitar, konsumennya akan sangat terbatas. âTanpa digitalisasi, âkolam usahaâ kita juga jadi jauh lebih kecil,â kata Mas Nur.
Oleh karena itu, ia fokus pada platform digital agar UMKM miliknya menjangkau pelanggan luas. Sebagai merchant, ia aktif menggunakan fitur aplikasi untuk mendongkrak visibilitas. Mas Nur bahkan menjadi salah satu merchant pionir yang mencoba fitur GrabAds.
Menurutnya, layanan iklan ini sangat membantu di tengah ketatnya persaingan digital. Ia juga mengombinasikan promosi dengan strategi ongkos kirim agar pelanggan jarak jauh tetap tertarik memesan.
âBiasanya saya kasih promo free ongkir sekitar Rp15.000 sampai Rp20.000 dengan minimal pembelian sekitar Rp150.000, supaya pelanggan tetap tertarik untuk pesan meskipun jaraknya agak jauh,â jelasnya. Strategi ini membuahkan hasil. Menu Baso Aci Tulang Rangu andalannya kini menjadi favorit. Saat ini, ia mampu menjual 70 hingga 80 porsi per hari, di mana 90 persen pesanan berasal dari platform daring.
Perkembangan ini sempat membawa Mas Nur membuka cabang di Gandul dan Pintu Air. Meski sebagian harus ditutup akibat dinamika pasar pandemi, ia kini fokus pada satu outlet utama dengan strategi digital yang matang. Dalam operasionalnya, Mas Nur dibantu keluarga dan karyawan. Selain keluarga, komunitas merchant Grab menjadi pilar penting. Di sana, para pelaku usaha saling berbagi strategi pengembangan bisnis.
âDi komunitas ini kami sering saling membantu dan berbagi pengalaman. Ketika ada yang sedang mengalami kesulitan, biasanya teman-teman lain ikut memberikan dukungan. Saya merasa usaha ini tidak akan bisa berkembang sejauh ini tanpa dukungan komunitas,â jelasnya.
Dalam berusaha, Mas Nur memegang teguh prinsip amanah dan kejujuran. Menurutnya, meski pelanggan tidak melihat proses pembuatan, integritas adalah hal utama dalam bisnis daring yang ditekuninya.
Bagi Mas Nur, membangun Baso Aci Mastyo mengajarkannya bahwa untuk ânaik kelas,â seseorang harus berani mengambil keputusan. Ia percaya risiko selalu ada, namun keberanian memulai adalah kunci. Perjalanannya membuktikan bahwa peluang bisa datang dari keseharian, selama dijalani dengan konsistensi. Ia pun menitipkan pesan bagi sesama Mitra Pengemudi yang ingin mulai berbisnis.
âKalau ingin memulai usaha, mulai saja dulu. Jangan terlalu takut. Bisnis yang tidak pernah berjalan adalah bisnis yang tidak pernah dimulai,â ujarnya. Dari pengemudi yang terbiasa menunggu, kini Mas Nur aktif menciptakan peluang demi masa depan keluarga.
- Digitalisasi UMKM
- Mitra Pengemudi Grab
- Strategi Bisnis Kuliner
- Ekonomi Digital
- Kisah Sukses UMKM
- Baso Aci Mastyo
- naik kelas
- Cerita Inspiratif
- Inspirasi Wirausaha
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Haryo Brono
Berita Terkait:
-
Tembok Pasar Induk Kramat Jati Roboh Akibat Gunungan Sampah
-
Mudik Lebaran Aman bagi Pasien Jantung: Tips untuk Gangguan Irama Jantung
-
Wapang TNI Buka Dikreg LV Sesko TNI TA 2026, Siapkan Pemimpin Strategis Masa Depan
-
Arab Saudi, UEA, Qatar, dan Bahrain Rayakan Idul Fitri pada Jumat 20 Maret
-
Antonelli Kian Percaya Diri Usai Kemenangan Perdana, Mercedes Bidik Dominasi di Suzuka
-
Jalan di Pulogadung Ambles, Warga Desak Pemkot Jaktim Segera Lakukan Perbaikan
-
AS Sedang Bernegosiasi dengan Denmark Perluas Pangkalan Militer di Greenland
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.