Mayoritas Warga Thailand Mulai Keluhkan Kenaikan Biaya Hidup

Senin, 06 Apr 2026, 02:50 WIB

BANGKOK – Sebuah survei terbaru yang dirilis pada Minggu (5/4) menyatakan bahwa meningkatnya biaya hidup di Thailand semakin sulit ditanggung oleh rumah tangga, menunjukkan bahwa sebagian besar orang sudah merasakan dampak impitan ekonomi menjelang perayaan Songkran. Songkran atau Tahun Baru Thailand, jatuh pada tanggal 13 April, dengan periode liburan yang berlangsung hingga 15 April.

Sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh Universitas Suan Dusit menemukan bahwa banyak warga Thailand kesulitan menghadapi kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok setelah krisis minyak.

Ket. Foto: Seorang pria mengisi drum di sebuah SPBU di Provinsi Narathiwat, Thailand, beberapa waktu lalu. Sebuah jajak pendapat yang dirilis pada Minggu (5/4) menyatakan bahwa mayoritas warga Thailand sudah merasakan dampak impitan ekonomi akibat kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok. — Sumber: AFP/Madaree TOHLALA

Survei ini dilakukan terhadap 1.272 responden di seluruh negeri, baik secara daring maupun di lapangan, dari tanggal 31 Maret hingga 3 April.

“Saat ditanya bagaimana perasaan mereka tentang lonjakan harga saat ini, 61,32 persen responden mengatakan pengeluaran mereka telah meningkat tajam dan barang-barang kebutuhan pokok menjadi terlalu mahal untuk ditanggung,” ungkap jajak pendapat Universitas Suan Dusit .

Sebanyak 43,87 persen lainnya mengatakan mereka mulai khawatir barang mungkin akan habis atau pengiriman stok barang bisa tertunda, sementara 41,27 persen mengatakan mereka masih bisa mengatasinya, namun harus lebih cermat dan lebih selektif dalam pembelian mereka.

Survei tersebut juga menemukan bahwa krisis harga minyak menambah tekanan pada anggaran rumah tangga. Sebanyak 46,7 persen responden mengatakan mereka sangat menderita akibat dampak terhadap pengeluaran sehari-hari, sementara 37,74 persen mengatakan mereka cukup terpengaruh.

Harga bahan bakar merupakan faktor terbesar yang mempengaruhi apakah orang akan berpartisipasi dalam kegiatan Songkran, yang disebutkan oleh 55,66 persen responden.

Pengeluaran liburan secara keseluruhan yang lebih tinggi berada di urutan berikutnya dengan 49,53 persen, diikuti oleh kekhawatiran terkait cuaca seperti panas ekstrem , badai, dan polusi PM2.5 sebesar 42,22 persen.

Hasil survei juga menunjukkan bahwa tekanan gabungan dari biaya energi, inflasi umum, dan cuaca buruk dapat membebani partisipasi liburan selama salah satu periode liburan dan pengeluaran tersibuk di Thailand.

Untuk mengatasi pengeluaran yang lebih tinggi, 51,42 persen mengatakan mereka berencana untuk melewatkan kegiatan perayaan agar dapat menghemat uang atau akan menghindari perjalanan jarak jauh atau tidak kembali ke kota asal mereka dan akan tinggal di rumah saja.

Ketika ditanya apa yang paling mereka inginkan dari pemerintah untuk meringankan beban selama Songkran, 75,94 persen mengatakan pemerintah harus serius mengendalikan harga barang konsumsi dan menyerukan langkah-langkah untuk merangsang perekonomian lokal agar masyarakat dapat memperoleh pendapatan lebih banyak.

Proyek Mangkrak

Sementara itu sektor industri konstruksi Thailand telah mengeluarkan seruan darurat mendesak kepada pemerintah Thailand, memperingatkan potensi gelombang proyek yang bisa terbengkalai dan penutupan lokasi konstruksi karena biaya bahan baku dan bahan bakar penting mencapai tingkat yang tidak berkelanjutan.

“Sejak 1 April, sektor ini sedang menghadapi persimpangan jalan yang kritis,” ucap Liza Ngamtrakulpanit, presiden Asosiasi Kontraktor Thailand (TCA).

Para operator kini terpaksa memilih antara menghentikan pekerjaan sepenuhnya atau melanjutkan pekerjaan dengan kerugian yang mengancam kelangsungan bisnis mereka.

TCA pun menyoroti dilema ganda yang mempengaruhi kontraktor di sektor swasta dan publik. Di sektor swasta, banyak pemilik proyek menolak mengakui tekanan inflasi, tetap menuntut kontraktor untuk mematuhi perjanjian harga tetap awal dan mengancam denda besar untuk keterlambatan. ST/The Nation/Asia News Network/I-1

  • thailand baht

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

Berita Terbaru

Utang Meningkat, Rakyat Jepang Mulai Cemas Kondisi Fiskal

Tim Gabungan Kendalikan Titik Api di TPSA Ciniru Kuningan

Iran Ancam Anggap Musuh Siapa Pun yang Ikut Blokade Ekonomi AS

Kanada Balas Tarif Trump, Siap Bidik Baja hingga Elektronik AS

Tragedi Shalat Jumat di Nigeria: Masjid Diserbu Geng Motor, 60 Jemaah Raib Diculik

Modus Baru, Penipu di Kamboja Jual Jasa 'Anti-Banned' untuk Kuras Data Medsos

Bangladesh Punya Presiden Baru Setelah Pemilu Sengit 35 Tahun Terakhir

Simbol Hubungan Akrab, Sultan Brunei-Anwar Ibrahim Gelar Pertemuan di Istana Nurul Iman

LG Borong 17 Penghargaan IDEA 2026, Perkuat Prestasi Triple Crown di Ajang Desain Global

Trump Sumringah, Mahkamah Agung AS Izinkan Kembali Pembangunan Ballroom Gedung Putih

Uniqlo Fall/Winter 2026 Hadirkan Gaya Urban Fleksibel, Temani Aktivitas dari Kerja hingga Traveling

Terisolasi Usai Gempa M 7,7! Kemen ESDM Beberkan Kondisi Listrik dan BBM di Manggarai!

Ramaikan GBK, Lebih dari 5.000 Peserta Tumpah Ruah di BrookFarm Almond Run 2026

Siap Duduk Satu Meja? Pertemuan Putin dan Donald Trump di KTT APEC Tinggal Menunggu Waktu!

Mencekam! Lahan Gambut Pinggir Jalan Tol Mendadak Terbakar, Petugas Bertarung Tengah Malam!

Harga Bahan Pokok Lebak Merangkak Naik, Ada Apa dengan Pasar?

Tinggalkan Cara Lama! UMKM Papua Dipaksa Naik Kelas Lewat Jurus Digital BI!

Ekspedisi Patriot Gebrak di Kawasan Transmigrasi Simeulue, Budi Daya Ikan Dibidik Jadi Mesin Ekonomi

Omzet UMKM di KKI 2026 Tembus Rp144,2 Miliar, Produk Lokal Makin Menggigit

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.