Lomba Jong Race Bintan Nggak Cuma Diikuti Wisatawan Lokal, Turis Mancanegara Juga Ikut Nimbrung

Minggu, 05 Apr 2026, 18:03 WIB

BINTAN – Atraksi budaya itu ibarat jendela kecil untuk melihat kekayaan sebuah daerah. Lewat tarian, musik, upacara adat, sampai pertunjukan tradisional, kita bisa merasakan cerita panjang yang hidup di baliknya—tanpa harus membaca buku sejarah tebal.

Yang bikin menarik, setiap atraksi biasanya punya ciri khas sendiri. Ada yang penuh warna dan enerjik, ada juga yang terasa sakral dan khidmat. Penonton pun nggak cuma diajak melihat, tapi juga ikut merasakan suasana—mulai dari dentuman alat musik, kostum yang detail, sampai gerakan yang sarat makna.

Ket. Foto: Pembukaan kegiatan Jong Race Festival 2026 di kawasan perairan Wisata Lagoi Bay, Bintan Resorts, Kepri, Sabtu (4/4/2026). — Sumber: ANTARA/HO-Diskominfo Bintan

Sekarang, atraksi budaya juga mulai dikemas lebih kekinian tanpa kehilangan nilai aslinya. Ada sentuhan modern di panggung, tata cahaya yang lebih menarik, hingga cara penyajian yang lebih dekat dengan generasi muda. Hasilnya, tradisi tetap hidup, tapi bisa dinikmati oleh lebih banyak orang.

Selain jadi hiburan, atraksi budaya juga punya peran penting sebagai identitas daerah. Ia jadi cara untuk menjaga warisan leluhur tetap dikenal, sekaligus memperkenalkan keunikan lokal ke wisatawan.

Pada akhirnya, menikmati atraksi budaya itu bukan cuma soal menonton pertunjukan. Lebih dari itu, ini tentang menghargai cerita, memahami akar tradisi, dan merayakan keberagaman yang ada.

Wakil Bupati Bintan, Kepulauan Riau (Kepri) Deby Maryanti menyatakan, agenda Jong Race Festival 2026 turut melibatkan wisatawan dalam maupun luar negeri, seperti Malaysia dan Singapura.

"Alhamdulillah, ini salah satu ajang pelestarian budaya melayu pesisir Kabupaten Bintan sekaligus menjadi daya tarik tersendiri baik bagi wisatawan hingga mancanegara," kata Deby saat membuka kegiatan Bintan Jong Race Festival di kawasan perairan Wisata Lagoi Bay, Bintan Resorts, Sabtu (4/4).

Jong Race Festival adalah atraksi budaya khas Kepulauan Riau yang menampilkan tradisi legendaris Perahu Layar Jong, permainan rakyat Melayu yang digerakkan oleh angin laut.

Deby menyampaikan, sebanyak 691 unit perahu jong mengikuti lomba perahu tanpa awak tersebut. Kegiatan itu juga diikuti 45 komunitas jong Kepri serta wisatawan asal Singapura dan Malaysia, yang berlangsung 4-5 April 2026.

Ia menyampaikan, kegiatan itu mengeksploitasi tradisi permainan jong masyarakat Melayu Bintan agar budaya ini tetap eksis, khususnya lagi bagi pecinta perahu layar tradisional di daerah setempat.

Menurutnya Bintan kerap menggelar kegiatan serupa baik di Kampung Keter Tembeling, Kecamatan Teluk Bintan maupun di Desa Teluk Bakau, Kecamatan Gunung Kijang.

"Harapannya ajang ini tidak hanya terus dilestarikan, namun menjadi daya tarik bagi wisatawan sehingga mampu meningkatkan PAD sekaligus memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat," ucap Wakil Bupati Bintan.

Sementara, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bintan Arief Sumarsono menyatakan, Jong Race Festival telah menjadi agenda tahunan pariwisata bagi Pemkab Bintan.

Agenda wisata yang masuk dalam Karisma Event Nasional (KEN) 2026 ini tidak hanya menyajikan lomba perahu jong tanpa awak, tetapi juga berbagai atraksi budaya dan wisata menarik.

"Para pengunjung dapat menikmati berbagai atraksi budaya, termasuk belajar mulai dari pembuatan, pengecatan hingga memainkan perahu jong langsung di pantai," ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, lanjut Arief, pengunjung pun dapat menikmati kuliner khas Melayu, jajanan kekinian, serta menyaksikan berbagai permainan tradisional seperti congklak, gasing, dan egrang.

"Area pameran juga turut menampilkan sejarah jong dan ragam budaya asli di Bintan," ucap Arief.

  • Jong Race Bintan

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.