Harga Kedelai Naik, Perajin Tahu di Serang Bertahan dengan Cara Pahit

Jumat, 03 Apr 2026, 21:10 WIB

SERANG – Di sudut perkampungan Banjaragung, aktivitas perajin tahu masih berjalan seperti biasa—tungku menyala sejak dini hari, kedelai direndam, digiling, lalu dimasak hingga menjadi tahu putih yang siap dipasarkan. Tapi di balik rutinitas yang tampak sederhana itu, ada cerita yang mulai berubah: biaya produksi yang kian menekan.

Beberapa bulan terakhir, harga kedelai sebagai bahan baku utama terus merangkak naik. Belum lagi plastik pengemas yang ikut-ikutan mahal. Bagi perajin kecil, kenaikan ini bukan sekadar angka di atas kertas, tapi langsung terasa di dapur produksi. Modal yang harus dikeluarkan membengkak, sementara daya beli pelanggan tidak selalu bisa ikut naik.

Ket. Foto: Pekerja menggoreng tahu di sebuah pabrik di Kota Serang, Banten. — Sumber: ANTARA FOTO/ Muhammad Bagus Khoirunas.

“Kalau harga nggak disesuaikan, ya susah juga buat bertahan,” begitu kira-kira kegelisahan yang banyak dirasakan perajin. Akhirnya, pilihan paling realistis pun diambil: menaikkan harga jual, meski dengan berat hati. Ada kekhawatiran pelanggan akan beralih, tapi di sisi lain, usaha juga harus tetap hidup.

Menariknya, sebagian perajin mencoba menyiasati keadaan. Ada yang mengatur ulang ukuran tahu agar tetap terjangkau, ada juga yang mengurangi margin keuntungan. Intinya, mereka berusaha tetap fleksibel di tengah tekanan biaya.

Kisah dari Banjaragung ini jadi potret kecil dari tantangan yang dihadapi pelaku usaha mikro. Di satu sisi mereka menjaga tradisi produksi yang sudah turun-temurun, di sisi lain harus beradaptasi dengan dinamika pasar yang terus berubah. Dan di tengah semua itu, tahu—yang selama ini jadi lauk sederhana di meja makan—ternyata menyimpan cerita perjuangan yang nggak sederhana.

Nuraeni, salah satu pemilik pabrik tahu di Banjaragung, Kota Serang, Kamis, mengungkapkan bahwa harga kedelai saat ini telah menyentuh angka Rp10.500 per kilogram, naik signifikan dari harga sebelumnya yang berada di kisaran Rp8.000 per kilogram.

"Dampaknya sangat terasa ke omzet. Karena biaya produksi sudah tidak sesuai lagi, kami terpaksa menaikkan harga jual dari sebelumnya Rp17.500 per loyang kini menjadi Rp19.000 daripada mengurangi ukuran tahu," katanya.

Menurutnya, menjaga ukuran tahu tetap stabil merupakan strategi untuk mempertahankan kepercayaan pelanggan, meskipun kenaikan harga tersebut sempat menuai protes dari para pembeli yang berharap harga kembali normal.

Selain kedelai, beban perajin semakin berat dengan melonjaknya harga plastik pengemas bening. Nuraeni menyebut kenaikan harga plastik per ikat mencapai Rp20.000 hingga Rp25.000 dari harga sebelumnya yang di bawah Rp50.000.

"Kenaikan plastik ini bahkan terasa lebih parah. Ini menjadi risiko yang harus kami tanggung agar kegiatan produksi harian tetap berjalan," ujarnya.

Dalam sehari, pabrik milik Nuraeni mampu mengolah sekitar 150 kilogram kedelai. Meskipun permintaan saat ini dinilai masih cukup stabil karena faktor momentum pasca lebaran, ia mengkhawatirkan terjadinya penurunan daya beli pada pertengahan bulan mendatang.

Para perajin di Kota Serang berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata untuk menstabilkan harga bahan baku di pasaran agar sektor usaha kecil seperti industri tahu dapat terus bertahan.

"Harapan kami harga bisa stabil kembali. Tidak perlu turun drastis ke harga awal, yang penting tidak terus merangkak naik," harapnya.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.