Korsel Pertimbangkan Pembatasan Berkendara Nasional

Selasa, 31 Mar 2026, 02:15 WIB

SEOUL - Korea Selatan (Korsel) sedang mempertimbangkan untuk memperluas pembatasan berkendara ke masyarakat umum jika harga minyak global terus naik, kata para pejabat senior, karena pihak berwenang berupaya untuk mengendalikan permintaan energi di tengah tekanan pasokan akibat perang AS-Israel dengan Iran.

Menteri Keuangan Koo Yun-cheol mengatakan pada Minggu (29/3) bahwa pemerintah dapat memperluas pembatasan penggunaan mobil penumpang di luar lembaga publik jika harga minyak mentah naik menjadi sekitar US$120 hingga US$130 per barel, naik dari kisaran US$100 hingga US$110 saat ini.

Ket. Foto: Sejumlah kendaraan antre di sebuah SPBU di Seoul pada awal Maret lalu saat terjadi kenaikan harga BBM menyusul terjadinya gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah. Akibat krisis energi ini, pemerintah Korsel sedang mempertimbangkan untuk memberlakukan pembatasan berkendara secara nasional. — Sumber: AFP/Jung Yeon-je

Jika diperluas ke seluruh masyarakat, kebijakan ini akan menandai pembatasan berkendara nasional pertama di negara itu sejak Perang Teluk 1991, ketika pemerintah memberlakukan sistem rotasi kendaraan 10 hari untuk menghemat energi.

"Jika situasi di Timur Tengah memburuk, peringatan krisis harus dinaikkan ke tahap 'peringatan', dan sekitar titik itu kita perlu membatasi konsumsi," kata Koo dalam siaran lokal, merujuk pada kenaikan ke tingkat tertinggi ketiga dalam sistem peringatan krisis keamanan sumber daya empat tahap di negara itu.

Ia menambahkan bahwa pemerintah juga dapat mempertimbangkan pemotongan pajak bahan bakar lebih lanjut untuk meringankan beban rumah tangga.

Kementerian keuangan menyatakan dalam siaran pers terpisah pada Senin (30/3) bahwa pembatasan wajib mengemudi untuk sektor swasta masih belum diputuskan, seraya menambahkan bahwa pihak berwenang akan mempertimbangkan kondisi pasokan energi dan faktor ekonomi yang lebih luas sebelum mengambil tindakan apa pun.

Korsel mengimpor sekitar 70 persen minyak mentahnya dari Timur Tengah, sehingga negara tersebut sangat rentan terhadap gangguan pasokan dan fluktuasi harga yang tajam akibat ketegangan di kawasan tersebut.

Pemerintah pekan lalu memberlakukan sistem rotasi kendaraan wajib lima hari untuk sektor publik, membatasi penggunaan kendaraan berdasarkan nomor plat kendaraan.

Menteri Energi Kim Sung-whan pada Kamis (26/3) lalu mengatakan bahwa pihak berwenang sedang meninjau langkah-langkah manajemen permintaan yang lebih ketat jika tingkat kewaspadaan meningkat lebih lanjut, termasuk memperluas penegakan pembatasan berkendara, sambil mendorong partisipasi sukarela dari perusahaan dan sektor keuangan.

Konglomerat besar seperti Samsung Electronics dan SK Group telah bergabung dalam upaya ini, mendesak karyawan untuk mengurangi penggunaan mobil pribadi dan menerapkan langkah-langkah penghematan bahan bakar.

Para anggota parlemen dan politisi senior juga menggunakan media sosial, memposting tentang penggunaan transportasi umum dan sepeda untuk memberi contoh dan menyerukan kepada masyarakat untuk bergabung dalam upaya penghematan energi. CNA/I-1

  • BBM
  • harga minyak dunia

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.