Di Balik Pertumbuhan Industri, Sektor Padat Karya Masih Terseok
Selasa, 31 Mar 2026, 00:00 WIBDiperlukan dorongan pemerintah melalui subsidi dan insentif agar sektor manufaktur dapat bertahan sekaligus meningkatkan kinerja, sehingga mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja.
JAKARTA â Meski industri pengolahan mencatat pertumbuhan impresif pada 2025, sektor padat karya masih menghadapi tekanan struktural yang membatasi daya serap tenaga kerja. Tingginya biaya produksi, persaingan global, serta adopsi teknologi yang tidak merata membuat sektor ini belum sepenuhnya menikmati momentum ekspansi industri.
Tingginya Incremental Capital Output Ratio (ICOR) menunjukkan efisiensi investasi yang masih rendah dibandingkan negara pesaing di kawasan. Kondisi ini mengindikasikan tambahan modal belum mampu dikonversi secara optimal menjadi output, sehingga menurunkan daya tarik investasi, khususnya pada sektor yang sensitif terhadap biaya seperti padat karya.
Karenanya, penurunan ICOR menjadi krusial melalui perbaikan iklim usaha, efisiensi logistik, dan reformasi regulasi. Tanpa langkah tersebut, pertumbuhan industri berisiko tidak inklusif karena tidak diikuti penciptaan lapangan kerja yang memadai.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti menilai pertumbuhan industri yang pesat saat ini belum efektif menciptakan lapangan kerja karena didominasi sektor padat modal, bukan padat karya. Kondisi ini menjadi tantangan, terutama di tengah perlambatan industri tekstil.
"Ini menjadi satu pekerjaan rumah untuk bisa menciptakan lapangan pekerjaan lebih banyak di tengah melambatnya perkembangan industri tekstil," tegas Esther di Jakarta, Senin (30/3).
Dia menekankan perlunya dorongan pemerintah melalui subsidi dan insentif agar sektor manufaktur dapat bertahan sekaligus meningkatkan kinerja, sehingga mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja.
Senada, Peneliti Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai pertumbuhan industri manufaktur pada 2025 banyak ditopang sektor hilirisasi dan lonjakan impor mesin, terutama pada industri logam dasar dan mesin yang mencatat pertumbuhan tinggi. Namun, kontribusi sektor tersebut terhadap PDB relatif kecil, bahkan industri mesin di bawah 1 persen, sehingga dampaknya terhadap perekonomian dan penyerapan tenaga kerja menjadi terbatas.
Dia juga menyoroti tingginya ICOR Indonesia yang membuat kebutuhan modal investasi menjadi besar dan kurang efisien. Karena itu, Huda menekankan pentingnya menurunkan ICOR melalui perbaikan iklim investasi agar investasi lebih produktif dan berdampak luas.
"Beberapa upaya menurunkan ICOR adalah dengan memberantas pungli investasi hingga menurunkan biaya distribusi barang," tegasnya.
Tumbuh Impresif
Sebagai gambaran, nilai ICOR Indonesia per 2025 berada di kisaran 6,47. Angka ini menunjukkan inefisiensi investasi, di mana dibutuhkan sekitar 6,47 rupiah tambahan modal untuk menghasilkan 1 rupiah tambahan output, lebih tinggi dibandingkan negara tetangga di Asia Tenggara yang berada di angka 3 sampai 4,5.
Industri pengolahan Indonesia mencatat pertumbuhan impresif pada 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri pengolahan tumbuh 5,30 persen secara tahunan tahun lalu, di mana industri logam dasar menjadi primadona dengan pertumbuhan mencapai 15,71 persen, sementara industri mesin dan perlengkapan mencatat pertumbuhan 13,98 persen.
Subsektor lain yang menunjukkan performa stabil adalah industri kimia, farmasi, obat tradisional, serta industri barang logam, elektronik, dan peralatan listrik.
Lembaga riset NEXT Indonesia Center menilai pertumbuhan impresif industri pengolahan belum merata, karena sektor padat karya justru masih tertekan. Terjadi ketimpangan antara subsektor sunrise seperti logam dasar dan mesin yang tumbuh pesat, dengan sunset industry seperti tekstil.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Turki Ultimatum Iran untuk Tidak Serang Wilayahnya
-
Meningkatnya Frekuensi Bencana dan Risiko Iklim Pengaruhi Ketahanan Sosial dan Ekonomi Nasional
-
Gerindra Rayakan Ulang Tahun ke-18 dengan Syukuran di Kompleks Parlemen
-
LPS Wanti-Wanti : Investasi Boleh Cuan, Data Pribadi Jangan Ikut Dijual
-
Hasil Liga Italia: AC Milan Dipermak Udinese 0-3 di San Siro
-
Lawan Serbuan Impor! Kemenperin Resmikan Pabrik Kawat Baja Rp300 M di Subang, 40% Buat Ekspor
-
Perkuat Industri Semikonduktor, Kemenperin Konsisten Bangun Ekosistem Chip Design Nasional Sejak Tahun 2023
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.