Geser, Venesia dari Timur di Ujung Pulau Seram

Jumat, 27 Mar 2026, 07:37 WIB

MALUKU dikenal dengan kekayaan destinasi wisata, terutama kategori bahari. Namun, karena biaya untuk mencapai wilayah ini relatif cukup mahal, banyak orang lebih memilih ke tempat lain yang lebih terjangkau dan waktu tempuh yang lebih singkat.

Salah satu destinasi yang sedang populer di Maluku adalah Pulau Geser. Posisinya berada di ujung Timur Pulau Seram, pulau terbesar di kawasan kepulauan Maluku. Saat sampai di ujung daratan Seram, akan terlihat jelas Pulau Geser yang berada di seberang lautan dengan jarak kurang lebih 1 km.

Ket. Foto: Pulau Geser yang berada di seberang lautan dengan jarak kurang lebih 1 km. — Sumber: Istimewa

Secara administratif, pulau kecil ini berada di Kecamatan Seram Timur, Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku, dan terpisah dari pulau induk (Seram) oleh selat sempit. Untuk menyeberang memotong celah sempit namun dalam ini, pengunjung bisa menggunakan jasa perahu ketinting.

Jika dilihat dari peta digital, Pulau Geser hanyalah titik kecil, namun jangan tertipu oleh ukurannya. Pulau berpenghuni dengan bentuk lonjong ini memiliki banyak kelebihan yang tidak dimiliki oleh pulau-pulau lainnya.

Pulau karang yang bisa dikelilingi dengan berjalan kaki dalam sekejap ini menawarkan pesona keindahan alami. Pulau ini memiliki laguna berupa perairan dangkal yang terkurung sebagian oleh daratan kecil atau hamparan terumbu karang. Pintu masuk aliran air saat pasang surut berada di sisi timur laut pulau.

Airnya biasanya tenang, jernih, dan berwarna biru kehijauan, menciptakan kontras mencolok dengan laut lepas di sekitarnya. Karena terlindung dari gelombang besar, laguna ini menjadi kawasan yang relatif stabil dibandingkan perairan terbuka.

Secara geologis, laguna di Pulau Geser terbentuk melalui kombinasi proses alami yang berlangsung dalam waktu lama. Awalnya, pertumbuhan terumbu karang di sekitar pulau membentuk semacam penghalang alami (barrier). Seiring waktu, bagian dalam yang terlindung dari ombak besar berkembang menjadi perairan dangkal yang tenang; itulah yang disebut laguna.

Selain itu, sedimentasi dari daratan dan aktivitas biologi laut turut memperkaya struktur laguna. Endapan pasir halus serta pecahan karang menciptakan dasar perairan yang khas, sering kali berwarna terang dan mudah terlihat dari permukaan.

Laguna di Pulau Geser memiliki peran ekologis yang sangat penting, di antaranya sebagai habitat biota laut dan tempat hidup berbagai spesies ikan kecil, moluska, serta organisme laut lainnya. Selain itu, area ini menjadi nursery ground karena banyak ikan menggunakan laguna sebagai tempat berkembang biak sebelum berpindah ke laut lepas.

Selanjutnya, sebagai pelindung alami, terumbu karang di sekitarnya membantu meredam energi gelombang sekaligus melindungi garis pantai dari abrasi. Di sini terbentuk ekosistem yang terhubung, pasalnya laguna sering berinteraksi dengan ekosistem lain seperti padang lamun dan mangrove.

Bagi masyarakat Pulau Geser, laguna bukan sekadar keindahan alam. Kawasan ini memiliki nilai ekonomi dan budaya yang tinggi. Perairan yang tenang memudahkan aktivitas nelayan tradisional, seperti menangkap ikan, memasang bubu, atau mencari hasil laut lainnya.

Selain itu, laguna juga berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata bahari. Aktivitas seperti snorkeling, berenang, hingga eksplorasi alam dapat dilakukan dengan relatif aman karena kondisi air yang tenang dan dangkal.

Secara visual, pulau ini adalah sebuah keajaiban tata ruang; sebuah pemukiman padat yang seolah-olah mengapung di atas jernihnya air laut Banda. Di sekelilingnya berupa perairan dangkal yang kaya akan terumbu karang dengan kondisi yang sangat terjaga oleh kesadaran warganya.

Pemukiman di Atas Rataan Terumbu

Memasuki wilayah Geser, pengunjung akan disambut oleh deretan rumah panggung yang menjorok jauh ke laut. Saat air pasang tiba, daratan pulau ini seakan menghilang, menyisakan jembatan-jembatan kayu dan beton yang menghubungkan satu rumah dengan rumah lainnya. Pemandangan ini membuat Geser kerap dijuluki sebagai “Venesia dari Timur”.

Keterbatasan lahan daratan tak menghalangi warga untuk membangun kehidupan. Dengan cerdik, penduduk memanfaatkan rataan terumbu karang yang luas untuk mendirikan hunian. Di bawah kolong rumah mereka, ikan-ikan karang berenang bebas di air yang bening, menjadi pemandangan sehari-hari yang kontras dengan hiruk-pikuk pasar di pusat pulau.

Sejarah mencatat bahwa pada abad ke-18 hingga awal abad ke-20, Geser adalah pusat gravitasi ekonomi. Lokasinya yang strategis menjadi pintu gerbang antara Maluku Tengah menuju Papua dan Australia, menjadikannya pelabuhan transito internasional yang sangat vital.

Naturalis legendaris asal Inggris, Alfred Russel Wallace, dalam mahakaryanya The Malay Archipelago, mencatat kekagumannya saat singgah di Geser pada tahun 1860. Wallace menggambarkan Geser sebagai sebuah “Singapura Kecil”, pusat perdagangan yang riuh di mana etnis Arab, Tionghoa, Bugis, Makassar, dan penduduk asli Seram hingga Papua bertemu untuk bertukar komoditas laut serta hasil hutan.

“Di sini, peradaban dunia bersentuhan dalam skala yang sangat kecil namun intens,” tulis Wallace dalam catatannya. Hingga kini, pengaruh global itu masih terasa pada wajah-wajah penduduknya yang merupakan percampuran genetika dari berbagai penjuru dunia.

Harmoni dalam Kepadatan

Karakteristik utama Geser adalah keterbukaannya. Sebagai kota pelabuhan kuno, masyarakatnya telah terbiasa dengan keberagaman sejak ratusan tahun lalu. Marga-marga Hadramaut (Arab) hidup berdampingan dengan komunitas Tionghoa yang telah berasimilasi, serta suku-suku dari Sulawesi yang telah menetap selama beberapa generasi.

Ekonomi pulau ini sepenuhnya bernapas dari laut. Karena tidak memiliki lahan pertanian, pasokan sayur-mayur dan umbi-umbian harus didatangkan setiap pagi dari daratan besar Pulau Seram menggunakan perahu-perahu kayu. Ketergantungan ini menciptakan ikatan sosial yang unik antara masyarakat “pulau karang” dengan masyarakat “gunung” di Seram Besar.

Namun, kecantikan Geser bukannya tanpa ancaman. Sebagai pulau yang hanya beberapa jengkal di atas permukaan laut, Geser berada di garis depan dampak perubahan iklim. Abrasi dan kenaikan air laut adalah nyata bagi warga yang setiap hari melihat fondasi rumah mereka terendam air asin.

Selain itu, masalah sanitasi dan pengelolaan limbah di pemukiman padat panggung menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah setempat untuk memastikan ekosistem terumbu karang yang menjadi tumpuan hidup warga tetap lestari.

Pulau Geser bukan sekadar destinasi; ia adalah sebuah artefak sejarah yang masih hidup. Ia menjadi pengingat bahwa kejayaan Nusantara di masa lalu tidak hanya dibangun di kota-kota besar, melainkan juga di pulau-pulau karang terpencil yang menjadi simpul penghubung dunia. Mengunjungi Geser adalah upaya menyelami sisa-sisa aroma perdagangan rempah yang masih tertinggal di antara jembatan-jembatan ­kayunya. hay

  • Pulau Geser

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

Berita Terbaru

Wagub Rano Karno Buka JFCF 2026, Dorong Transformasi dan Inovasi Digital Jakarta

Aturan Baru Ojol Segera Terbit, Pemerintah Fokus Lindungi Pengemudi dan Kurir

Jonatan Christie Masih Selamat dari Adangan Pemain Singapura

Jelang Maulid Nabi, 4 Bahan Pokok Ini Jadi Buruan Warga Mataram di Pasar Murah

Perkuat Kesiapsiagaan Bencana, BPBD Palu Pasang Ratusan Rambu Evakuasi

Pembangunan Sekolah Rusak di Jakarta Mulai September 2026

Polri Raih Rekor MURI Tanam Bawang Putih Serentak di Lahan Terluas

Kebakaran di Jalan Pisangan Baru Tengah, Matraman, Jakarta Timur Anguskan Tiga Rumah

Pemprov Gorontalo Lakukan Efisiensi Belanja dan Prioritas Program Berdampak Langsung ke Masyarakat untuk Jaga Kemandirian Fiskal

Menkomdigi: 99,9 Persen BTS Terdampak Gempa NTT Sudah Pulih

Pemprov Jambi Bangun Kesadaran Masyarakat untuk Taat Bayar Pajak Kendaraan Lewat Undian Berhadiah

Jelang Maulid Nabi, Pemprov Babel Pastikan Stok Bawang dan Cabai Cukup

BMKG Ingatkan Masyarakat untuk Waspadai Gelombang Tinggi 2,5 Meter di Perairan Kalsel

Trailer Terbaru 'Dune: Part Three' Ungkap Sisi Gelap Paul Atreides, Perang Besar dan Konspirasi Mematikan

Pemprov DKI Jakarta Ungkap Alasan Rekayasa Cuaca Belum Dapat Dilakukan

TNI AL Gagalkan Penyelundupan 75,7 Ton Pasir Timah ke Malaysia

Bromo Kembali Dibuka Tengah Malam Nanti, Wisatawan Bisa Berkunjung Lagi dengan Aman

80 Perusahaan Bekerja Sama PAL Jaya

Insidious 6 Ubah Aturan Besar, The Further Jadi Teror ke Dunia Nyata

Kementerian Pariwisata: Berikut Destinasi Wisata yang Masih Ditutup Pascagempa di NTT

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.