Imbas Selat Hormuz Ditutup: Harga BBM di Eropa Melejit, IEA Dorong WFH Masal

Selasa, 24 Mar 2026, 20:08 WIB

JAKARTA - Lonjakan tajam harga energi akibat konflik di Iran membawa tekanan ekonomi serius ke kawasan Uni Eropa. Gangguan pasokan global, termasuk penutupan Selat Hormuz, membuat harga bahan bakar melonjak dan memicu respons darurat dari berbagai negara.

Krisis ini dipicu eskalasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang kemudian dibalas oleh Teheran. Dampaknya langsung terasa pada distribusi energi global yang terganggu dan memukul stabilitas pasar.

Ket. Foto: Lonjakan tajam harga energi akibat konflik di Iran membawa tekanan ekonomi serius ke kawasan Uni Eropa. Gangguan pasokan global, termasuk penutupan Selat Hormuz, membuat harga bahan bakar melonjak dan memicu respons darurat dari berbagai negara. — Sumber: Anadolu Agency

Harga minyak mentah Brent dilaporkan melonjak hingga 119 dolar AS per barel sejak akhir Februari. Kondisi ini menjadikan energi sebagai isu utama di Eropa, dengan tekanan biaya merembet ke berbagai sektor ekonomi.

Di sejumlah negara Eropa, harga bahan bakar bahkan telah melampaui 2 euro per liter. Lonjakan ini memicu keresahan sosial sekaligus menekan sektor industri yang bergantung pada energi tinggi.

International Energy Agency memperingatkan bahwa dunia tengah menghadapi salah satu krisis energi terburuk dalam sejarah. Lembaga tersebut bahkan mendorong langkah penghematan ekstrem seperti bekerja dari rumah dan pembatasan kecepatan kendaraan.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan bahwa sektor energi menjadi yang paling terdampak. Ia meminta negara anggota mengambil langkah cepat yang bersifat sementara dan tepat sasaran.

Sementara itu, Presiden Dewan Eropa Antonio Costa menekankan perlunya intervensi mendesak untuk menekan harga gas. Komisi Eropa kini menyiapkan berbagai mekanisme pemantauan dan insentif baru melalui kebijakan energi kawasan.

Di tingkat nasional, berbagai negara mulai mengambil langkah konkret untuk meredam dampak krisis. Jerman misalnya, membatasi perubahan harga BBM hanya sekali sehari dan memperketat pengawasan kartel energi.

Italia memilih memberikan potongan pajak bahan bakar sebesar 0,25 euro per liter. Pemerintah juga mengaitkan harga BBM dengan harga minyak global serta meningkatkan pengawasan terhadap spekulasi pasar.

Berbeda dengan itu, Prancis fokus pada bantuan langsung ke sektor vital seperti transportasi dan perikanan. Kebijakan ini diambil karena keterbatasan fiskal di tengah tingginya utang publik.

Di Inggris, regulator energi bersiap menaikkan batas harga tahunan energi secara signifikan. Pemerintah juga menyiapkan skema bantuan untuk rumah tangga rentan melalui pemangkasan pajak.

Salah satu langkah paling agresif datang dari Spanyol yang menggelontorkan paket bantuan senilai 5,8 miliar dolar AS. Kebijakan ini mencakup pemotongan pajak energi hingga subsidi langsung untuk sektor transportasi dan pertanian.

Negara-negara Eropa Timur juga mengambil langkah serupa dengan menetapkan batas harga bahan bakar. Viktor Orbán bahkan menetapkan harga maksimum untuk bensin dan solar guna menjaga daya beli masyarakat.

Krisis ini menunjukkan betapa rentannya sistem energi global terhadap konflik geopolitik. Eropa kini berpacu dengan waktu untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan pasokan yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.