Buah Puasa Haruslah Perkuat Hubungan dengan Allah dan Sesama

Sabtu, 21 Mar 2026, 08:24 WIB

JAKARTA – Pria wanita berbondong-bondong mengikuti shalat Idul Fitri di Masjid Jami' Pejaten, Jl. PPN Karet Raya No.x 10, RT.8/RW.1, Pejaten Timur, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Sabtu (21/3).

Khotib Dr Ahmad Mifthoul M.Ag mengingatkan hasil puasa haruslah mampu memperkuat hubungan dengan Allah dan sesama. Dia mengajak jamaah untuk benar-benar meresapi rasa syukur setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa.

Ket. Foto: suasana shalat di Masjid Jami' Pejaten, Jaksel — Sumber: Paundra Zakirulloh

“Bukan cuma menahan lapar dan haus, tapi juga belajar mengendalikan diri, memperbanyak kebaikan, dan memperkuat hubungan dengan Allah serta sesama,” tandasnya. 

Menurutnya, syukur itu bukan hanya diucapkan, tapi dibuktikan lewat konsistensi amal setelah puasa. Sebab yang paling penting bukan seberapa kuat di bulan puasa, tapi seberapa istiqamah setelahnya.

Moderasi Beragama

Sementara itu,  umat muslim di Bali menggaungkan semangat moderasi beragama saat Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah di Denpasar, Sabtu.

“Ini tentang bagaimana kita hidup bermasyarakat yang majemuk, tadi disampaikan tentang moderasi beragama jadi kita bukan hanya hablun minallah atau artinya kita hanya menyembah Allah saja,” kata Khatib Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah di Lapangan Lumintang, Kota Denpasar, Masrur, di Denpasar, Sabtu.

Ia juga mengajak seluruh umat Muslim hidup berdampingan dengan orang lain secara baik atau yang disebut hablun minannas. Apalagi, kata dia, warga yang tinggal di Bali sebagai memiliki semangat menjaga moderasi dan toleransi beragama karena daerah itu dengan masyarakat yang majemuk sebagai ikon moderasi beragama

“Bali ini kan sebagai ikon sebenarnya moderasi beragama, yang selama ini sudah berjalan berabad-abad, jadi kita pertahankan jangan sampai ada kelompok-kelompok tertentu yang kemudian menimbulkan konflik karena dengan alasan agama, karena agama sudah jelas ajarannya, yaitu hablun minallah, hablun minannas,” ujarnya.

Ia mencontohkan tentang moderasi beragama pada Shalat Idul Fitri di Lapangan Lumintang, di mana umat Muslim tidak sibuk sendiri karena hadir pecalang atau satuan pengamanan desa adat di Bali yang bahu-membahu bersama kepolisian mengamankan lalu lintas.

Setiap tahun, katanya, jumlah umat yang mengikuti Shalat Id terus meningkat, bahkan tahun ini 5.000 orang diperkirakan hadir memadati lapangan tersebut untuk Shalat Idul Fitri.

“Semua panitia sudah koordinasi dengan baik dan alhamdulillah ternyata hari ini tanggal ini (Idul Fitri) jadi persiapan panitia tidak mepet Nyepi, sudah dilaksanakan dengan maksimal dan kami juga dibantu oleh pecalang-pecalang, itu yang kami bangga dengan semuanya,” kata Masrur.

Panitia melihat masyarakat melaksanakan Shalat Id di lapangan tersebut tahun ini terjadi peningkatan. Diperkirakan kemeriahan ini terjadi lantaran umat menemukan kedamaian kehidupan di Bali, terlebih tahun ini Idul Fitri berhimpitan waktunya dengan Hari Raya Nyepi yang dilaksanakan umat Hindu.

Mereka yang Shalat Id di tempat itu, biasanya karena tidak mudik atau sudah menetap di Bali. Lapangan Lumintang tak jauh dari wilayah Kampung Muslim yang sejak lama berkembang di Bali.

Setelah Shalat Idul Fitri, umat Muslim melanjutkan silaturahim dengan keluarga atau orang yang lebih tua di daerah itu. Salah satu umat, Valentina Septa (22), mengaku senang karena pertama kali melakukan Shalat Id di lapangan tersebut bersama ribuan orang.

Perempuan berasal dari Belanda tersebut, mengaku di negaranya tak ada kegiatan seperti itu. Selama ini, Ramadhan dilakukan secara sendiri-sendiri dan Shalat Idul Fitri berlangsung di rumah.

“Saya dari Belanda tapi dulu lahir di Indonesia, setengah tahun terakhir balik ke Bali, di sini Ramadhan dan shalat panas tapi tetap terkoneksi dengan Tuhan karena suasananya lebih bagus di sini banyak Muslim, sedangkan di Belanda semua sendiri-sendiri,” ujarnya.

  • Idul Fitri
  • Pererat Hubungan dengan Masyarakat Indonesia

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.