- Home
-
- Luar Negeri
-
- Harga Minyak Turun Setelah...
Harga Minyak Turun Setelah Kesepakatan Irak Lanjutkan Ekspor Melalui Turki
Rabu, 18 Mar 2026, 17:29 WIBANKARA - Konflik di Timur Tengah terus mencengkeram pasar, karena lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz terus terhambat oleh krisis tersebut.
Dari The Guardian, namun pagi ini, harga minyak turun setelah Irak dilaporkan mencapai kesepakatan dengan Turki untuk melanjutkan ekspor minyak melalui wilayah mereka, setelah sebelumnya sepakat dengan Kurdistan untuk memompa minyak melalui pipa di wilayah tersebut.
Menurut Reuters, ekspor minyak mentah dari ladang Kirkuk di Irak melalui pipa ke pelabuhan Ceyhan di Turki telah dilanjutkan, memberikan rute alternatif daripada harus melewati selat tersebut.
Namun, pengalihan sebagian minyak Irak melalui Turki hanya akan sebagian meredakan kekhawatiran pasokan, lapor Bloomberg, menambahkan bahwa produksi minyak Irak telah turun menjadi sekitar 1,4 juta barel per hari â sekitar sepertiga dari tingkat sebelum penutupan Selat Hormuz.
Minyak mentah Brent turun 1,55 persen pagi ini menjadi 101,80 dolar AS per barel, sementara minyak mentah AS turun hampir 3 perssn menjadi 93,42 dolar AS per barel.
Ipek Ozkardeskaya , analis senior di Swissquote , mengatakan:
Pagi ini, harga minyak anjlok tajam menyusul berita bahwa Irak menandatangani kesepakatan untuk melanjutkan ekspor minyak melalui Turki, melewati Selat Hormuz, sementara Arab Saudi juga mengalihkan rute ekspor ke Laut Merah. Kawasan ini sedang melakukan reorganisasi, mempersiapkan diri untuk kemungkinan konflik yang berkepanjangan.
Memulihkan ekspor minyak sepenuhnya akan membutuhkan waktu, dan kita mungkin akan segera melihat kekurangan di pasar fisikâyang kemungkinan akan terus menekan harga minyak ke atas. Namun, seiring adaptasi arus ke jalur alternatif, lonjakan harga minyak awal yang terlihat di awal perang dapat mereda.
Pasar saham juga merespons hal ini â Nikkei Jepang naik 2,8 persen pagi ini, sementara KOSPI Korea Selatan melonjak 5,7 persen.
Investor juga berharap para bankir sentral akan mengabaikan lonjakan inflasi yang akan datang, alih-alih bereaksi dengan menaikkan suku bunga. Kita akan mendengar dari bankir sentral terkemuka Amerika, Jerome Powell, malam ini, ketika Federal Reserve secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga AS tetap stabil.
Jim Reid dari Deutsche Bank melaporkan:
Saat ini pasar juga sedikit lebih tenang dan ada sedikit indikasi adanya pemisahan dari harga minyak karena dalam 24 jam terakhir terlihat pasar risiko yang lebih positif dan imbal hasil [obligasi] yang lebih rendah.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Beras SPHP Dipastikan Tak Naik, Namun Pembelian Dibatasi
-
Pemerintah AS Khawatir Dampak Politik Jika Harga Bensin Melampaui US$3 Dollar per Galon
-
Rayakan HUT ke-248, Museum Nasional Gelar Pameran Lampu dan Pameran Numismatik
-
Efek MSCI Bekukan "Rebalancing", IHSG Terkapar dan Saham BREN Anjlok 7 Persen
-
Harga Minyak Anjlok Lebih dari 5%, Optimisme Meningkat atas Kesepakatan AS-Iran.
-
Gencatan Senjata AS-Iran Terancam, Harga Minyak Kembali Melonjak 6%
-
Likuiditas Uang Beredar Maret 2026 Tumbuh 9,7 Persen Capai Rp10.355 Triliun
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.