Liga Champions: Dominasi Dipertanyakan, Klub Liga Inggris Berburu Kebangkitan di Leg Kedua 16 Besar

Selasa, 17 Mar 2026, 07:30 WIB

MANCHESTER, INGGRIS — Setelah tampil dominan di fase liga, enam wakil Inggris di Liga Champions mendadak menghadapi kenyataan pahit ketika memasuki babak 16 besar. Klub-klub Liga Inggris yang sebelumnya terlihat begitu perkasa justru gagal meraih satu pun kemenangan pada leg pertama, sebuah hasil yang memunculkan kembali perdebatan mengenai kekuatan sebenarnya liga terkaya di dunia tersebut di panggung Eropa.

Situasi paling berat dialami tiga klub besar: Manchester City, Chelsea, dan Tottenham Hotspur. Ketiganya menghadapi misi nyaris mustahil pada leg kedua, meski akan bermain di kandang sendiri. City tertinggal tiga gol dari Real Madrid, Chelsea terpaut jauh dari Paris Saint-Germain, sementara Tottenham juga tertinggal tiga gol dari Atletico Madrid.

Ket. Foto: Ilustrasi pertandingan klub Liga Inggris di Liga Champions. — Sumber: AFP

Harapan Inggris kini bertumpu pada Liverpool dan Arsenal yang masih difavoritkan melangkah ke perempat final setelah menghadapi Galatasaray dan Bayer Leverkusen. Di sisi lain, Newcastle United bahkan mulai memimpikan kejutan besar saat bertandang ke markas Barcelona di Camp Nou setelah menahan imbang 1-1 di St. James’ Park.

Namun hasil leg pertama tersebut menjadi semacam “peringatan keras” bagi klub-klub Inggris yang sebelumnya mendominasi fase awal kompetisi.

Jadwal Padat Jadi Beban

Keunggulan finansial Liga Inggris yang didukung nilai hak siar televisi jauh lebih besar dibanding liga-liga top Eropa lainnya, tidak selalu berbanding lurus dengan prestasi di Liga Champions.

Dalam 13 musim terakhir, hanya tiga klub Inggris yang mampu mengangkat trofi kompetisi paling prestisius di Eropa itu. Bahkan musim lalu hanya Arsenal yang mampu mencapai semifinal, sementara pada musim 2023-2024 tidak ada satu pun wakil Inggris yang menembus empat besar.

Padatnya jadwal domestik kerap disebut sebagai faktor utama menurunnya performa klub Inggris pada fase penentuan kompetisi Eropa. Premier League menjadi satu-satunya liga besar yang tidak memiliki jeda musim dingin sekaligus tetap memainkan dua turnamen piala domestik.

Legenda sepak bola Prancis sekaligus mantan presiden UEFA, Michel Platini, pernah menyindir fenomena ini dengan menyebut klub-klub Inggris sebagai “singa di musim dingin, tetapi domba di musim semi”.

Pandangan tersebut juga diamini pelatih Liverpool, Arne Slot. “Secara umum saya pikir tidak adanya jeda musim dingin bukan hal yang membantu klub-klub Inggris,” ujar Slot.

Musim ini situasinya bahkan lebih berat. Dari enam klub Inggris yang tampil di Liga Champions, empat juga mencapai semifinal Piala Liga, sementara lima klub masih terlibat di Piala FA hanya beberapa hari sebelum leg pertama babak 16 besar dimainkan.

Meski Liga Inggris dikenal sebagai liga paling kaya di dunia, beberapa klub Inggris justru menghadapi lawan dengan kekuatan finansial yang bahkan lebih besar.

Real Madrid masih berstatus sebagai klub terkaya di dunia dan membuktikan kualitasnya dengan menaklukkan Manchester City 3-0 di Santiago Bernabéu. Sementara juara bertahan Paris Saint-Germain tampil meyakinkan ketika menundukkan Chelsea dengan skor 5-2.

Di laga lain, Barcelona bahkan nyaris menelan kekalahan sebelum penalti di menit akhir dari Lamine Yamal memaksa hasil imbang melawan Newcastle United.

Kekalahan Tottenham Hotspur 2-5 dari Atletico Madrid juga tidak terlalu mengejutkan mengingat performa Spurs yang inkonsisten di kompetisi domestik.

Pelatih City, Pep Guardiola, menilai Liga Champions memang selalu menghadirkan tantangan yang berbeda.

“Liga Inggris dianggap liga terbaik di dunia, bukan? Tetapi kompetisi ini sangat sulit dan semua tim datang dengan persiapan yang sangat matang,” kata Guardiola.

Perbedaan Gaya Bermain

Perubahan gaya permainan di Liga Inggris juga ikut menjadi sorotan. Musim ini, pertandingan di Inggris semakin identik dengan duel fisik, lemparan ke dalam jarak jauh, serta dominasi situasi bola mati.

Penyerang Newcastle United, Anthony Gordon, menggambarkan kerasnya atmosfer liga Inggris.

“Permainannya sangat tanpa henti secara fisik. Tidak banyak kontrol permainan, lebih seperti duel dan adu kekuatan,” ujarnya.

Pelatih Liverpool, Arne Slot, bahkan menyebut sepak bola Inggris kini tidak lagi “menyenangkan untuk ditonton” karena terlalu fokus pada situasi bola mati.

“Di sini Anda hampir bisa menabrak wajah kiper dan wasit tetap berkata ‘lanjutkan saja’,” katanya.

Sebaliknya, Slot sempat frustrasi dengan kepemimpinan wasit Spanyol Jesus Gil Manzano yang sangat ketat terhadap kontak fisik saat gol penyama kedudukan Liverpool dianulir dalam kekalahan 0-1 di Istanbul.

Di sisi lain, Pep Guardiola mencoba menyesuaikan diri dengan tren permainan yang lebih fisik di Inggris dengan memperkuat postur skuadnya di Manchester City. Namun pendekatan itu justru dinilai mengurangi kontrol dan ketenangan dalam penguasaan bola yang selama ini menjadi ciri khas timnya.

Akibatnya, lini pertahanan City terlihat rapuh ketika menghadapi Real Madrid, terutama saat gelandang Uruguay Federico Valverde mencetak hat-trick pada babak pertama di Santiago Bernabéu.

Kini, leg kedua babak 16 besar akan menjadi momen krusial. Bagi klub-klub Inggris, pertandingan tersebut bukan sekadar perebutan tiket ke perempat final, melainkan juga kesempatan untuk memulihkan reputasi Premier League sebagai kekuatan utama sepak bola Eropa.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.