- Home
-
- Luar Negeri
-
- Selat Hormuz Memanas! Mili...
Selat Hormuz Memanas! Militer AS Hancurkan 16 Kapal Penebar Ranjau Milik Iran
Rabu, 11 Mar 2026, 20:05 WIBJAKARTA - Militer Amerika Serikat melaporkan telah menghancurkan 16 kapal penebar ranjau milik Iran di dekat Selat Hormuz pada Selasa. Operasi tersebut diumumkan oleh United States Central Command di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Teluk.
Serangan tersebut dilakukan setelah muncul laporan bahwa Iran mulai memasang ranjau di jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan energi dunia. Selat Hormuz diketahui menjadi jalur penting bagi pengiriman minyak dan gas alam cair global.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengatakan pasukan negaranya telah menghancurkan sepenuhnya 10 kapal penebar ranjau yang tidak aktif. Ia kemudian menegaskan operasi militer terus dilakukan untuk mencegah ancaman terhadap jalur pelayaran tersebut.
"Jika Iran telah memasang ranjau di Selat Hormuz dan kami tidak memiliki laporan tentang hal itu, kami ingin ranjau tersebut disingkirkan, segera," kata Donald Trump.
Trump juga memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi konsekuensi militer jika tidak segera menghapus ranjau di kawasan tersebut. Ia tidak menjelaskan secara rinci bentuk tindakan militer yang akan diambil oleh Amerika Serikat.
Dalam pernyataannya di media sosial Truth Social, Trump menegaskan Amerika Serikat siap menggunakan teknologi militer yang sama seperti yang digunakan dalam operasi melawan penyelundup narkoba. Teknologi tersebut disebut dapat digunakan untuk menghancurkan kapal yang mencoba menanam ranjau di jalur pelayaran.
"Kami akan secara permanen melenyapkan setiap kapal atau perahu yang mencoba memasang ranjau di Selat Hormuz," ujar Donald Trump.
Sebelumnya, Pentagon juga menyatakan bahwa militer Amerika Serikat menargetkan kapal penebar ranjau dan fasilitas penyimpanan ranjau milik Iran. Serangan tersebut menjadi bagian dari eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang meningkat dalam beberapa waktu terakhir.
Perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran disebut telah mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Jalur tersebut berada di sepanjang pantai Iran dan selama ini menjadi rute penting bagi distribusi energi global.
Diperkirakan sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan gas alam cair melewati Selat Hormuz setiap hari. Gangguan di kawasan tersebut berpotensi memicu dampak besar terhadap pasar energi internasional.
Sementara itu, pejabat militer Amerika Serikat mengatakan pihaknya mulai mempertimbangkan kemungkinan pengawalan kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz. Langkah tersebut dipertimbangkan jika situasi keamanan di kawasan semakin memburuk.
"Kami sedang mempertimbangkan berbagai opsi di sana," kata Dan Caine kepada wartawan di Pentagon.
Meski demikian, sejumlah sumber menyebut US Navy sejauh ini menolak permintaan industri pelayaran untuk menyediakan pengawalan militer secara rutin. Permintaan tersebut disebut datang hampir setiap hari dari perusahaan pelayaran internasional.
Sementara itu, Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright sempat mengklaim bahwa Angkatan Laut AS berhasil mengawal sebuah kapal tanker minyak melewati Selat Hormuz. Namun unggahan tersebut kemudian dihapus setelah diketahui informasi yang disampaikan tidak akurat.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan Amerika Serikat belum pernah mengawal kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz. Ia menjelaskan unggahan yang dibuat Wright dihapus setelah staf Departemen Energi memastikan keterangan tersebut keliru.
"Video yang diunggah dari akun resmi Sekretaris Wright dihapus setelah dipastikan keterangannya salah," kata Karoline Leavitt.
Di sisi lain, Iran membantah klaim Amerika Serikat terkait aktivitas militer di Selat Hormuz. Juru bicara Garda Revolusi Iran Ali Mohammad Naini mengatakan setiap pergerakan armada Amerika Serikat di kawasan tersebut akan menghadapi respons militer.
"Setiap pergerakan armada AS dan sekutunya akan dihentikan oleh rudal dan drone kami," kata Ali Mohammad Naini.
Ketegangan di Selat Hormuz kini menjadi perhatian internasional karena potensi dampaknya terhadap stabilitas energi global. Banyak negara memantau situasi tersebut dengan cermat karena gangguan di jalur ini dapat memengaruhi pasokan minyak dan gas dunia.
- konflik timur tengah
- Pentagon
- Krisis Energi Global
- Penutupan Selat Hormuz
- Konflik Iran-Israel
- Eskalasi Geopolitik
- Konflik AS-Iran
- selat hormuz
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
Gencatan Senjata di Timur Tengah Terancam Setelah Iran Lancarkan Serangan Rudal ke Israel
-
AS dan Iran Tandatangani MoU, Lalu Lintas Selat Hormuz Dibuka
-
Trump Mengaku Bicara dengan Hezbollah dan Netanyahu, Konflik Lebanon Memasuki Babak Baru
-
AS Buka Jalur Bagi 36 Kapal Bantuan Kemanusiaan Lintasi Selat Hormuz
-
JD Vance: Kekuatan Militer Bukan Solusi
-
Menlu Marco Rubio Tegaskan Perang AS-Iran Telah Berakhir
-
Iran Kembali akan Tutup Selat Hormuz sebagai Protes Serangan Israel di Lebanon
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.